Senin, 20 September 2010

SIKAP MENTAL WIRAUSAHA

SIKAP MENTAL WIRAUSAHA

Disusun Untuk Memenuhi Tugas Semester Lima
Mata Kuliah Kewirausahaan
Dosen Pengampu: Laili F, S.S, M.M












Oleh:
IKA RAHAYU SUSILANINGSIH
K1207020



PENDIDIKAN BAHASA SASTRA INDONESIA
FAKULTAS KEGURUAN DAN ILMU PENDIDIKAN
UNIVERSITAS SEBELAS MARET
SURAKARTA
2009

SIKAP MENTAL WIRAUSAHA

A. Wirausaha dan Perekonomian Indonesia
Dalam tata perekonomian di Indonesia terdapat tiga unsur penting yaitu sektor negara, sektor swasta, dan koperasi. Sektor swasta merupakan unsur penting dalam perekonomian di Indonesia, karena itu kewirausahaan/kewiraswastaan mempunyai peranan penting dalam pembangunan nasonal di bidang perekonomian.

B. Kondisi Wirausaha/Wiraswasta
Setelah proklamasi kemerdekaan, kondisi sosial ekonomi di Indonesia sangatlah tidak stabil. DR. Suparman Sumahamidjoyo menyatakan bahwa kelemahan dan keterbatasan yang melekat pada bangsa Indonesia akibat polotik penjajahan menyangkut kelemeahan sikap mental. Kelemahan sikap mental adalah sikap mental negatif yaitu sikap mental dan tingkah laku yang bersumber pada sikap berpikir negatif.
Prof. Koentjoroningrat dalam Kebudayaan, Mentalitet dan Pembangunan menyatakan kelemahan mental bangsa Indonesia yaitu:
• Sifat mentalitet yang meremehkan waktu
• Sifat mentalitet yang suka menerobos
• Sifat tidak percaya pada diri sendiri
• Sifat tidak berdisiplin murni
• Sifat mentalitet yang suka megorbankan tanggung jawab yang kokoh
Melihat keterbatasan dan kelemahan yang ada, maka bantuan pemerintah untuk mendorong tumbuh dan kegairahan usaha swasta kecil maupun sedang sangat diperlukan. Namun perlu disadari bahwa kunci keberhasilan terletak pada dirinya sendiri, ialah terletak pada sikap mental dan kepribadiannya.


C. Sikap Mental dan Kepribadian Wiraswasta adalah Modal Dasar Wirausaha
Sikap mental dan kepribadian merupakan unsur penting sebagai dasar dan titik tolak mencapai hasil dalam perjuangan hidup. Pembinaan mental dan kepribadian ini dapat dikatakan lebih menitikberatkan membedah pada “tenaga dalam”, seperti kejujuran, ketekunan, keuletan, kemauan, tangggung jawab, percaya diri, rajin berdaya upaya, tidak lekas putus asa, pemikiran diri sendiri, tidak mengharap belas kasihan, lebih banyak berpikir dan berbuat kreatif, dan sebagainya.
Kepribadian adalah keseluruhan dari sifat-sifat jasmani, pikiran, jiwa dan watak seseorang sehinggga membedakan seseorang dari orang lain, baik dalam individualitas maupun budi pekertinya. Suatu kepribadian paling baik adalah milik paling penting, merupakan suatu kekuatan yang dapat menciptakan sesuatu menakjubkan. Kepribadian memiliki nilai paling tinggi dibanding miliknya untuk mencapai suatu keberhasilan.
Sebagaimana hasil penelitian Charles Screibe menyatakan bahwa keberhasilan kegiatan seorang usahawan ditentukan oleh: pendidikan formal (15 %) dan nilai-nilai sikap mental dan kepribadian seseorang (85 %). DR. Suparman Sumahamijayabmenyatakan keberhasilan ditentukan oleh kesediaan berjerih payah(25 %), pendidikan sekolah formil (15 %) serta pengembangan kepribadian (60%).

D. Menyikapi Hambatan
Mewujudkan suatu usaha berwiraswasta tentu saja akan menghadapi banyak hambatan seperti adanya resiko, keterbatasan modal, hambatan mental kepribadian dan lain sebagainya.
Adanya resiko merupakan hambatan
Resiko dapat dikatakan layaknya bagai kabut gelap. Resiko perlu didekati, dikenal dan dimengerti agar menjadi terang untuk dapat diperhitungkan dan ditundukkan. Dengan memperkokoh organisasi dan efisiensi, dengan mengerjakan sesuatu memecahkan hambatan itu. Menundukkan resiko perlu kewaspadaan mental. Tanpa keberanian berbuat untuk memecahkannya akan menelorkan keputusan yang menghasilkan kemiskinan, lepasnya tujuan keberhasilan.

E. Proses Pembentukan Modal
Proses pembentukan modal yang pertama yaitu tekad dan kemauan untuk mengembangkan diri. Kita menyadari pada diri kita mempunyai berbagai bentuk sumber kekuatan sebagai kekuatan pengetahuan, sikap mental, keakhilan, keterampilan, pengalaman, dan kemampuan membuat hubungan perkenalan. Namun itu barulah kekuatan potensial belum kekuatan nyata, tetapi semua itu benar adalah mengandung nilai sebagai modal karena akan membuka dan mengundang datangnya modal uang. Hal ini akan berujud dengan dikombinasikan dengan kekuatan mental kesediaannya berupaya dan mendirikan usaha. Orang-orang demikianlah yang dapat dipercaya dan mebawa keberhasilan dalam mengelola suatu kegiatan usaha.
Modal
Sebagaimana Dr. Suparman Sumahamijaya mengupasnya, maka yang dimasukkan dalam kategori adalah sebagai berikut:
1. Kemerdekaan
Karena kemerdekaan ini menyediakan kesempatan.
2. Kesempatan
Sebuah kesempatan jika digarap dengan baik akan menjadi sebuah sumber penghasilan dengan ditopang melalui bentuk modal.
3. Diri sendiri
Di dalam diri sendiri itu terdapat instrumen berpikir, dengan sikap mental wirausaha/wiraswasta untuk berwiraswasta.
4. Waktu
Waktu adalah modal, gunakan sebaik-baiknya untuk membangun masa depannya dengan bekerja, belajar, menyelidiki sesuatu untuk kemudian diketahui, diterjuni dan diolah.

5. Belajar
Belajar adalah modal, belajarpun banyak caranya. Dapat dinyatakan dengan belajar sendiri, merantau, mencari pengalaman, dan sekolah.
Modal bukanlah uang
Sikap berpikir itulah modal, modal yang dapat menggali uang. Uang adalah alat pembantu perluasan kesempatan usaha, jadi bukan modal mendirikan usaha.

F. Kewaspadaan Mental Wiraswasta/Wirausaha
Untuk mengkap peluang dan kesempatan baik diperlukan kewaspadaan mental. Agar kewaspadaan mental menjadi tajam dan tinggi perlu dilatih dan dikembangkan kemampuan-kemampuan mental itu.
Kemampuan mental ialah kemampuan memakai pikiran dan perasaan ujudnya adalah:
• Penyerapan: Kemampuan berpikir dan merasakan sesuatu secara mendalam, melihat pikiran secara batin dengna penuh perhatian.
• Penyimpanan: Kemampuan menyimpan dan menanam pikiran dan perasaan di dalam ingatan. Ini sewaktu-waktu dapat dikeluarkan kembali.
• Pemakaian pikiran: Kemampuan mengupas, membahas, dan menilai suatu persoalan.
• Daya cipta: Kemampuan melihat di dalam pikiran, supaya bisa tahu sebelum dan selanjutnya kemampuan melahirkan atau mewujudkan ide baru atau gagasan-gagasan kreativitas.

G. Bekerjasama dengan Orang lain
Diri sendiri, tenaga, kekuatan, dan waktu adalah modal pokok untuk melakukan pekerjaan dan ini adalah terbatas; kenyataan menunjukkan banyak jenis pekerjaan dan bagian pekerjaan yang harus dikerjakan orang lain.

Agar bekerjasama menjadi kokoh kuat, memerlukan beberapa hal anatara lain:
• Toleransi
• Disiplin
• Solidaritas
• Kerukunan
• Tekad bersama untuk membangun dan mengembangkan usaha
• Dan lain sebagainya

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar