Senin, 20 September 2010

PERMASALAHAN MAKNA

PERMASALAHAN MAKNA
Disusun untuk Memenuhi Tugas Semester Lima
Mata Kuliah: Psikolinguistik
Dosen Pengampu : Dr. Andayani, M.Pd.








Disusun oleh:
Ika Rahayu Susilaningsih
K1207020




PENDIDIKAN BAHASA DAN SASTRA INDONESIA
FAKULTAS KEEGURUAN DAN ILMU PENDIDIKAN
UNIVERSITAS SEBELAS MARET
SURAKARTA
2010
Permasalahan Makna

A. Hakikat Makna Ujaran
Berbicara tentang makna, pertama perlu diingat adanya dua bidang kajia tentang makna, yaitu semantik dan semiotik. Kedua bidang kajian ini sama-sama meneliti atau mengkaji tentang makna. Bedanya, kalau emantik khusus mengkaji makna bahasa sebagai alat komunikasi verbal manusia, sedangkan semiotik mengkaji semua makna yang ada dalam kehidupan manusia seperti makna-makna yang terkandung oleh berbgai tanda dan lambang serta isyarat-isyarat lainnya. Kemudian, karena bahasa sebenarnya juga tidak lain sebagai suatu sistem lambang (Chaer: 2003: 268), maka semantik bisa dikatakan juga termasuk atau menjadi bagian dalam kajian semiotik. Dalam praktek berbahasa, ternyata makna suatu ujaran tidak bisa dipahami hanya dari kajian emanti, tetapi juga harus dibantu oleh kajian semiotik, seperti pemahaman mengenai gerak-gerik tubuh dan anggota tubuh, serta mimik, dan sebagainya.
Dalam kajian semantik kalau misalnya kepada kita ditanyakan apa makna kata tirta, maka spontan kita akan menjawab bahwa tirta dalah “air”. Jadi, kata tirta diberi makna dengan sinonimnya, yaitu air. Kalau ditanyakan apakah makna kata avtur maka kita akan menjawab bahwa avtur adalah “bahan bakar pesawat terbang”. Jadi, kata avtur diberi makna dalam sebuah frase. Lalu, kalau ditanyakan apa makna kata kuda, maka mungkin kita akan menjelaskan dalam bentuk definisi, “kuda adalah sejenis binatang berkaki empat yang biasa dikendarai”. Maka makna kata tirta, avtur dan kuda di atas akan bisa kita pahami kalau sebelumnya kit telah mengerti makna kata-kata tersebut. Kalau makna kata-kata tersebut tidak kita pahami sebelumnya, maka makna kata tirta, avtur dan kuda itu tetap tidak kita ketahui. Jadi, jelas untuk dapat memahami makna sebuah kata kita harus memahami terlebih dahulu makna kata-kata yang dirangkai untuk menjelaskan makna kata itu.
Makna adalah bagian yang selalu melekat dari apa saja yang kita tuturkan. Pengertian dari makna sendiri sangatlah beragam. Mansoer Pateda (2001:79) dalam http://susilo.adi.setyawan.student.fkip.uns.ac.id/ mengemukakan bahwa istilah makna merupakan kata-kata dan istilah yang membingungkan. Makna tersebut selalu menyatu pada tuturan kata maupun kalimat. Menurut Ullman dalam http://susilo.adi.setyawan.student.fkip.uns.ac.id/ mengemukakan bahwa makna adalah hubungan antara makna dengan pengertian. Dalam hal ini Ferdinand de Saussure ( dalam Abdul Chaer, 1994:286) mengungkapkan pengertian makna sebagai pengertian atau konsep yang dimiliki atau terdapat pada suatu tanda linguistik.
Dalam Kamus Linguistik, pengertian makna dijabarkan menjadi :
1. Maksud pembicara;
2. Pengaruh penerapan bahasa dalam pemakaian persepsi atau perilaku manusia atau kelompok manusia;
3. Hubungan dalam arti kesepadanan atau ketidak sepadanan antara bahasa atau antara ujaran dan semua hal yang ditunjukkannya,dan
4. Cara menggunakan lambang-lambang bahasa
Dari pengertian para ahli bahasa di atas, dapat dikatakan bahwa makna adalah suatu bentuk kebahasaan yang harus dianalisis dalam batas-batas unsur-unsur penting situasi di mana penutur mengujarnya. makna merupakan hubungan antara bahsa dengan bahasa luar yang disepakati bersama oleh pemakai bahsa sehingga dapat saling dimengerti. Batasan tentang pengertian makna sangat sulit ditentukan karena setiap pemakai bahasa memiliki kemampuan dan cara pandang yang berbeda dalam memaknai sebuah ujaran atau kata.
Aspek-aspek makna dalam semantik ada empat hal, yaitu :
1. Pengertian (sense)
Pengertian disebut juga dengan tema. Pengertian ini dapat dicapai apabila pembicara dengan lawan bicaranya atau antara penulis dengan pembaca mempunyai kesamaan bahasa yang digunakan atau disepakati bersama. Pengertian adalah sistem hubungan-hubungan yang berbeda dengan kata lain di dalam kosakata.
2. Nilai rasa (feeling)
Aspek makna yang berhubungan dengan nilai rasa berkaitan dengan sikap pembicara terhadap hal yang dibicarakan.dengan kata lain, nilai rasa yang berkaitan dengan makna adalah kata0kata yang berhubungan dengan perasaan, baik yang berhubungan dengan dorongan maupun penilaian. Jadi, setiapkata mempunyai makna yang berhubungan dengan nilai rasa dan setiap kata mempunyai makna yang berhubungan dengan perasaan.
3. Nada (tone)
Aspek makna nada adalah sikap pembicara terhadap kawan bicara. Aspek nada berhubungan pula dengan aspek makna yang bernilai rasa. Dengan kata lain, hubungan antara pembicara dengan pendengar akan menentukan sikap yang tercermin dalam kata-kata yang digunakan.
4. Maksud (intention)
Aspek maksud merupakan maksud senang atau tidak senang, efek usaha keras yang dilaksanakan. Maksud yang diinginkan dapat bersifat deklarasi, imperatif, narasi, pedagogis, persuasi, rekreasi atau politik.

B. Makna Leksikal
Istilah leksikal adalah bentuk adjektiva dari nomina leksikon, yang berasal dari leksem. Dalam kajian morfologi leksem lazim diartikan sebagai bentuk dasar yang setelah mengalami proses gramatikalisasi akan menjadi kata (Kidalaksana dalam Chaer: 2003: 269). Sedangkan dalam kajian semantik leksem lazim diartikan sebagai satuan bahasa yang memiliki satu makna atau satu pengertian, seperti air dalam arti “sejenis barang cair yang digunakan untuk pengertian sehari-hari”, pensil dalam arti ‘sejenis alat tulis, yang terbuat dari kayu dan arang”, meja hijau dalam ari “pengadilan” adalah contoh-contoh leksem. Dari contoh-contoh tersebut nampak bahwa leksem itu bisa berupa kata dan juga bisa berupa gabungan kata. Namun, dalam dunia pendidikan bentuk-bentuk seperti meja hijau dan membanting tulang lazim diartikan idiom.
Idiom adalah satuan ujaran yang maknanya tidak dapat diramalkan dari makna unsur-unsurnya, baik secara leksikal maupun gramatikal. Misalnya secara gramatikal bentuk “menjual rumah” bermakna “yang menjual menerima uang dan yang membeli menerima rumahnya”, tetapi dalam bahasa Indonesia bentuk “menjual gigi” tidak memiliki makna seperti itu, melainkan bermakna “tertawa keras-keras”. Jadi, makna yang dimiliki seperti makna gigi itulah yang disebut makna gramatikal.
Makna leksikal adalah makna yang secara inhern dimiliki oleh sebuah leksem. Makna leksikal juga dapat diartikan sebagai makna secara lepas, di luar konteks kalimatnya. Makna leksikal ini terutama yang berupa kata di dalam kamus biasanya didaftarkan sebagai makna pertama kata atau entri yang terdaftar dalam kamus itu. Misalnya, “bagian tubuh dari leher ke atas” adalah makna leksikal dari kata kepala, sedangkan makna “ketua” atau “pemimpin” bukanlah makna leksikal, sebab untuk menyatakan makna “ketua’ atau “pemimpin”, kata kepala itu harus bergabung dengan unsur lain, seperti dalam frase kepala sekolah atau kepala kantor.
Tahap pertama untuk bisa meresapi makna suatu ujaran adalah memahami makna leksikal setiap butir leksikal (kata, leksem) yang digunakan di dalam ujaran itu. Andaikata kita dak tahu makna leksikal yang digunakan dalam sebuah ujaran kita bisa melihatnya di dalam kamus, atau bertanya kepada orang lain yang tahu. Namun, persoalannya tidak seederhana itu sebab ada sejumlah kasus di dalam studi semantik yang menyangkut makna lesikal itu. Permasalahan yang menyangkut makna leksikal antara lain:
1. Kesinoniman
Pada setiap bahasa ada sejumlah kata yang memiliki kesamaan makna. Hal ini dalam studi semantiklazim disebut dengan istilah sinonim, sinonimi, atau kesinoniman. Dalam bahasa Indonesia misalnya kata ayah memiliki kesamaan makna dengan kata bapak, kata mati memiliki kesamaan makna dengan kata meninggal, wafat, dan mampus. Kasus kesinoniman ini bisa menjadi masalah dalam meresepsi makna ujaran. Hal ini seperti yang dikemukakan Verhaar (dalam Chaer:270) bahwa dua buah kata yang bersinonim maknanya hanya kurang lebih sama. Untuk membuktikan hal itu dapat diambil contoh kata ayah dan bapak seperti di bawah ini:
(a). “Bapak” mau pergi ke mana?
“Ayah” mau pergi ke mana?

(b) Selamat pagi “Bapak” Lurah?
Selamat pagi “Ayah” Lurah?
Ternyata pada kalimat kedua kata bapak tidak dapat digantikan dengan kata ayah. Hal ini membuktikan bahwa kata bapak dan ayah yang disebut bersinonim atau memiliki kesamaan makna ternyata tidak selalu dapat dipertukarkan.
Ketidakpersisan makna diantara kata-kata yang bersinonim adalah karena ada kaiah umum dalam kajian semantik bahwa bila bentuk (kata, leksem) berbeda maka maknanya pun akan berbeda, meskipun perbedaannya hanya seikit (Chaer:2003:271). Ketidakpersisan ini yang menyebabkan dua buah kata yang bersinonim tidak dapat dipertukarkan, bisa disebabkan oleh:
(1). Faktor areal
Faktor areal adalah faktor dimana kata itu biasa digunakan. Misalnya kaya saya dan kata beta adalah dua buah kata yang bersinonim. Namun, kalau kata saya bisa digunakan di daerah mana saja di seluruh Indonesia, tetapi kata beta hanya cocok digunakan di wilayah atau dalam konteks Indonesia bagian timur. Contoh lain kata pepaya dan kates adalah dua buah kata yang bersinonim. Hanya saja kalau kata pepaya dapat dignakan di wilayah mana saja, sedangkan kates hanya cocok untuk konteks atau wilayah Jawa.
(2). Faktor sosial
Faktor sosial adalah faktor tingkat kedudukan sosial di antara dua partisipan yang menggunakan kata-kata yang bersinonim itu. Umpamanya kata saya dan aku adalah dua buah kata yang bersinonim. Namun, kalau kata saya dapat diginakan oleh siapa saja terhadap siapa saja, sedangkan kata aku hanya dapat digunakan terhadap lawan bicara yang lebih muda atau kedudukan sosialnya lebih rendah. Dalam hal ini munculnya kata pirsawan atau pemirsa adalah karena faktor sosial ini.
(3). Faktor temporal
Faktor temporal adalah faktor waktu penggunaan kata-kata itu. Misalnya kata hilubalang dan kata komando adalah dua buah kata yang bersinonim. Namun, keduanya tidak bisa dpertukarkan begitu saja, sebab kata hulubalang hanya cocok digunakan untuk konteks arkais atau klasik, sedangkan kata komando untuk masa sekarang.
(4). Faktr bidang kegiatan
Faktor bidang kegitan adalah faktor dalam bidang kegiatan apa kata-kata itu bisa digunakan. Misalnya kata matahari dan surya adalah dua buah kata yang bersinonim. Hanya saja kata matahari dapat digunakan dalam bidang apa saja, sedangkan kata surya hanya bisa digunakan dalam bbidang sastra.
(5).Faktor fitur semantik
Faktor fitur semantik adalah faktor ciri-ciri semantik yang dimiliki secara inhern oleh kata-kata itu sehingga membedakan kata-kata itu satu dari yang lainnya, meskipun kata-kata itu bersinonim. Misalnua kata meihat, melirik, mengintip,menonton, dan melotot adalah lima buah kata yang bersinonim. Kalau kata melihat bisa digunakan untuk mengganti keempat kata lainnya, maka keempat kata lainnya tidak dapat digunakan untuk mengganti kata melihat. Kata melirik digunakan untuk menyatakan melihat dengan sudut mata”, kata mengintip digunakan untuk menyatakan “melihat dari celah-celah sempit”, kata menonton digunakan untuk menyatakan “melihat untuk hiburan”, dan kata melotot digunakan untuk menyatakan “melihat dengan mata lebar-lebar”. Jadi, kata melihat bersifat umum, sedangkan keempat kata lainnya lebih bersifat spesifik.
2. Keantoniman
Kentoniman lazim diartikan sebagai keadaan dua butir leksikal (kata atau leksem) yang maknanya bertentangan, berkebalikan, atau berkontras. Verhaar (dalam Chaer : 273) mengemukakan bahwa dua buah kata yang berantonim memiliki makna yang dianggap kebalikan yang satu dari yang lain, maka persoalan keantoniman menjadi cukup sukar bagi penutur dalam melahirkan ujaran. Ada beberapa tipe keantoniman, antara lain:
a. Keantoniman mutlak
Yakni keantoniman natara dua buah kata atau leksem yang maknanya saling meniadakan.Misalnya kata hidup dan manti, sesuatu yang masih hidup tentu belum mati, dan sesuatu yang sudah mati tentu tidak bisa hidup lagi. Keantoniman mutlak ini memang tidak banyak contohnya, karena dalam kehidupan kita kemutlakan jarang ada. Yang lazim dan banyak adalah kerelatifan.
b. Keantoniman Relatif
Yakni keantoniman antara dua dua buah kata atau leksem yang pertentangan maknanya bersifat relative, tidak mutlak. Misalnya kata baik dan buruk. Sesuatu yang disebut baik belum tentu buruk, dan sesuatu yang disebut buruk belum tentu baik. Kerelatifan baik dan buruk bisa ditandai dengan keterangan “sangat”, “lebih”, atau “kurang”.
c. Keantoniman Relasional
Yakni keantoniman antara dua buah kata atau leksem yang maknanya saling melengkapi, dalam arti adanya sesuatu karena adanya yang lain. Misalnya antara kata suami dan kata isteri. Dalam kasus ini adanya suami karena adanya istri dan adanya istri karena adanya suami.
Dalam keantoniman relasional, relasional ini tidak tersirat adanya makna pertentangan, kebalikan, atau kontras. Yang tampak adalah cirri keberpasangan di antara kedua kata keantoniman relasional itu.
d. Keantoniman hierarkial
Yaitu keantoniman antara dua buah kata atau leksem yang maknanya menyatakan jenjang urutan dari ukuran, nilai, timbangan, atau kepangkatan. Misalnya keantoniman antara tamtama dan bintara,prajurit dengan opsir, dll. Kata-kata yang berantonim hierarkial ini juga tidak menunjukkan adaya pertentangan, atau kebalikan. Yang atmpak adalah urutan jenjang ukuran atau nilai.
e. Keantoniman Ganda
Yaitu keantoniman sebuah kata dengan pasangan yang lebih dari satu. Misalnya kata diam, bisa berantonim dengan kata bergerak, bicara, dan bekerja.
3. Kehomoniman
Kehomoniman lazim diartikan sebagai keadaan adanya dua buah kata atau lebih yang ciri fisiknya persis sama namun memiliki makna yang berbeda karena masing-masing merpakan identitas kata yang berlawanan. Misalnya kata pacar dalam arti “kekasih” dan dalam arti “pemerah kuku”.
Kasus kehomoniman ini dapat menimbulkan kesalahan reseptif pada pihak pendengar jika penutur tidak menyampaikan ujaran secara lengkap. Misalnya:
(a). Mana hak saya?
(b). Saya minta kopinya saja.
Kata hak bisa ditafsirkan “bagian bawah sepatu” dan bisa juga ditafsirkan “bagian atau sesuatu yang harus diterima”. Sedangkan kata kopi bisa diartikan “minuman kopi” dan bisa juga “salinan surat yang difotokopi”.
Berdasarkan contoh di atas, maka sudah seharusnya seoranng penutur harus berhati-hati dalam menggunakan kata yang berhati-hati dalam menggunakan kata yang berhomonim ini di dalam ujarannya. Ujaran yang baik adalah ujaran yang tidak menimbulkan makna ganda.
Dalam bahasa tulis ada istilah homograf yang digunakan untuk menyebutkan adanya bentuk-bentuk kata yang tulisannya sama persis, tetapi lafalnya berbeda dan maknanya tentu juga berbeda karena merupakan dua buah kata yang berbeda. Misalnya kata dalam arti “bagian di depan pintu rumah” dan dilafalkan (teras) dan kata dalam arti “inti kayu” yang dilafalkan sebagai (teras). Contoh lain kata dalam arti “sejenis makanan terbuat dari kacang kedelai” dan dilafalkan (tahu) dan kata alam arti “mengerti” dan dilafalkan (tau).
Istilah homografi sering didikotomikan dengan homofoni yakni untuk menyebut adanya dua buah kata atau lebih yang lafalnya sama tetapi artinya berbeda. Misalnya:
• Guci itu adalah peninggalan masa kutai. (masa = waktu)
• Kasus tabrakan yang menghebohkan itu dimuat di media massa.(massa = masyarakat umum)
4. Kehiponiman dan Kehiperniman
Kehiponiman lazim diartikan sebagai keadaan sebuah kata yang maknanya tercakup atau berada di bawah kata yang lain. Misalnya kata merpati yang maknanya tercakup di dalam makna kata burung. Merpati memang burung tetapi burung bukan hanya merpati; bisa juga tekukur, gelatik, garuda, murai,dll.
Kalau hubungan natara merpati dan burung disebut hiponim, maka kebalikannya hubungan antara burung dan merpati disebut hipernim. Lalu, relasi sesame antara merpati, tekukur, garuda, dan murai disebut kohiponim dari kata burung.
Kasus kehiponiman dan kehiperniman mengandaikan adanya kelas bawahan dan kelas atasan, adanya kata yang maknanya berada di bawah makna kata lainnya. Karena itu, ada kemungkinan sebuah kata yang merupakan hipernimi terhadap sejumlah kata lain, akan menjadi hiponim terhadap kata lain yang secara hierarkial berada di atasnya. Sebagai contoh kata burung yang merupakan hipernim terhadap kata merpati, tekukur, kutilang, dan sebagainya, akan menjadi hiponim terhadap kata unggas. Lalu kata unggas yang merupakan hipernim terhadap kata burung, itik, dan angsa akan menjadi hiponim terhadap kata binatang.
Konsep hiponim dan hipernim perlu dipahami untuk dapat membuat kategori spesifik atau dalam membuat klasifikasi dari suatu konsep yang bersifat umum. Hanya perlu disadari konsep generik dan spesifik butir-butir leksikal dari bahasa adalah tidak sama karena masalah semantik bahasa ini sangat berkaitan erat dengan masalah budaya (Larson dalam Chaer: 2003: 277).

C. Makna Gramatikal
Makna gramatikal yakni makna yang muncul sebagai hasil suatu proses gramatikal. Proses gramatikal dalam bahasa Indonesia antara lain afiksasi, reduplikasi, komposisi, pemfrasean, dan pengkalimatan. Makna-makna gramatikal yang dihasilkan oleh proses gramatikal tersebut berkaitan erat dengan fitur makna.
1. Fitur Makna
Makna setiap butir leksikal dapat dianalisis atas fitur-fitur makna yang membentuk makna keseluruhan leksikal itu seutuhnya. Misalnya kata bahasa Inggris boy, man, girl, dan woman, jika dianalisis fitur-fitur semantiknya akan tampak seperti pada bagan berikut ini:


Fitur Makna Boy Man Girl Woman
1. Manusia + + + +
2. Dewasa - + - +
3. Laki-laki + + - -

Dari bagan tampak bahwa kata boy memiliki fitur makna [+manusia], [-dewasa], sedangkan man memiliki fitur semantik [+manusia], [+dewasa], [+laki-laki]. Jadi yang membedakan boy dan man bahwa boy berfitur [-dewasa[, sedangkan man berfitur [+dewasa]. Perbedaan boy dan girl terletak pada fitur [+laki-laki] dan [-laki-laki].
Dalam bahasa Inggris, disamping boy dan girl ada kata son dan daughter dan dalam bahasa Indonesia hanya ada kata anak. Kalau kita bandingkan kata boy, girl, son, daughter, dan anak tampak fitur-fitur maknanya:
Fitur Makna Boy Girl Son Daughter Anak
1. Manusia + + + + +
2. Dewasa - - - - +
+ + +
3. Laki-laki + - + _ +

Dari bagan tersebut kita bisa melihat bahwa bahasa Inggris memiliki empat butir leksikal yang berkenaan dengan anak, dengan fitur-fitur maknanya yang lebih spesifik. Sedangkan bahasa Indonesia hanya memiliki satu butir leksikal yaitu anak dengan itur semantik yang masih umum. Oleh karena itu, untuk menampung konsep boy dalam bahasa Indonesia harus ditambah fitur (=laki-laki) menjadi anak laki-laki, dan untuk menampung konsep girl kita harus menambah (-laki-laki) ) (=perempuan) sehingga menjadi anak perempuan.
2. Makna Gramatikal Afiksasi
Afiksasi adalah pembubuhan afiks pada bentuk dasar. Kita banyak menemui kesalahan penggunaan afiks-afika dalam tulisan, baik bagi mereka yang hanya berpendidikan menengah maupun mereka yang berpendidikan tinggi. Dalam praktek berbahasa orang lebih umum menggynakan konstruksi, seperti naik sepeda daripada bersepeda, begitu juga konstruksi minum kopi daripada mengopi. Hal ini tentunya ada kaitan dengan masalah bahasa Indonesia secara psikologis bukan bahasa pertama bagi sebagian besar orang Indonesia. Bahasa ibu mereka adalah bahasa daerah mereka masing-masing.
Kalau sebuah bentuk dasar memiliki fitur makna yang ’’menonjol’’ lebih dari satu, maka makna gramatikal yang munculpun bisa lebih dari satu. Umpamanya kata patung memiliki fitur makna yang menonjol (a) {+hasil (pekerjaan)} dan (b) {+sifat diam (tak berbicara, tak bergerak)}, maka bila dibubuhi prefiks me- menjadi kata mematung akan memunculkan makna gramatikal (a) ’membuat patung’ (b) ’diam seperti patung’. Padahal kata menyambal hanya bermakna gramatikal ’membuat sambal’ dan kata membatu hanya bermakna gramatikal ’(keras) seperti batu’. Hal ini terjadi karena kata sambal hanya memiliki satu fitur makna yang menonjol yaitu {(+hasil) pekerjaan} dan kata batu hanya memiliki satu fitur makna yang menonjol yaitu {(+keras) seperti batu}.
Untuk mengetahui makna gramatikal makna yang diacu oleh kata mematung tampaknya tidak hanya pada tingkat morfologi, melainkan kita harus melihat pada tingkatan gramatikal yang lebih tinggi, yaitu tingkatan sintaksis. Contoh:
a). Usaha mematung hanya dilakukan penduduk desa itu.
b). Dia duduk saja mematung dalam seminar itu.
Kalimat pertama memberikan makna gramatikal ’membuat patung’, sedangkan kalimat kedua memberikan makna gramatikal ’diam seperti patung’.
3. Makna Gramatikal Reduplikasi
Reduplikasi juga merupakan satu proses gramatikal dalam pembentukan kata. Secara umum, makna gramatikal yang dimunculkannya adalah menyatakan ’pluralis’ atau ’intensitas’. Contohnya rumah direduplikasikan menjadi rumah-rumah yang bermakna gramatikal ’banyak rumah’.
Konsep bahwa reduplikasi memberikan makna ’pluralis’ atau ’intensitas’ secara psikologis telah tertanam pada nurani kebanyakan orang Indonesia, sehingga sering kali terjadi kesalahan dalam penggunaannya. Contoh : Para bapak-bapak diharap menunggu dengan tenang. Penggunaan reduplikasi di sini salah karena kata para sudah berarti jamak.
4. Makna Gramatikal Komposisi
Permasalahan makna dari segi komposisi ini biasanya muncul karena sebuah ujaran yang rancu maknanya. Misalnya lukisan yusuf. Ujaran tersebut memiliki tiga nmakna, yaitu (a) lukisan karya Yusuf, (b) luki san wajah yusuf, (c) lukisan wajah yusuf. Ketiga makna ini bisa terjadi karena kata yusuf memiliki fitur makna (+manusia), (+pemilik), (+pembuat), dan (+objek).
5. Kepolisemian
Polisemi adalah satu buah kata/ ujaran yang memiliki makna lebih dari satu (http://studycycle.blogspot.com). Setiap satu entri kata dalam kamus yang memiliki makna leksikal lebih dari satu adalah polisemi.
Contoh polisemi dalam kamus: kata “ekor” dalam KBBI online

ekor n 1 bagian tubuh binatang dsb yg paling belakang, baik berupa sambungan dr tulang punggung maupun sbg lekatan; 2 kata penggolong untuk binatang 3 sesuatu yg rupanya (keadaannya) spt ekor 4 bagian yg di belakang sekali (tt pesawat, pasukan, dsb) 5 akibat dr kejadian atau keadaan sebelumnya 6 ki orang yg harus ditanggung (diurus, dibiayai, dsb); tanggungan

Konteks wacana sangat diperlukan untuk mengetahui makna kata yang mana yang dimaksudkan oleh penulis.
Contoh:
• Ayah membeli ayam jantan seharga Rp 100.000 per ekor. (Kata “ekor” dalam kalimat tersebut berarti kata penggolong untuk binatang).
• Ibu memotong ekor ayam itu untuk menandai ayam miliknya. (Kata “ekor” dalam kalimat tersebut di atas berarti bagian tubuh binatang dan sebagainya yang paling belakang, baik berupa sambungan dari tulang punggung maupun sebagai lekatan).

D. Makna Kontekstual
Memahami makna leksikal dan gramatikal saja belum cukup untuk dapat memahami makna suatu ujaran, sebab untuk dapat memahami makna suatu ujaran harus pula diketahui konteks dari terjadinya ujaran itu, atau tempat terjadinya ujaran itu. Konteks ujaran berupa:
1. Konteks Intra Kalimat
Sudah menjadi asumsi umum bahwa makna sebuah kata tergantung pada kedudukannya di dalam kalimat, baik menurut letak posisiya di dalam kalimat maupun menurut kata lain yang berada di depan maupun belakang kata tersebut. Contoh:
a). Sungai itu dalam sekali.
b). Dalam sungai itu 20 meter.
Makna kata dalam pada kedua kalimat tersebut tentunya berbeda.
2. Konteks Antarkalimat
Banyak ujaran dalam bentuk kalimat yang baru bias dipahami maknanya berdasarkan hubungannya dengan makna-makna kalimat sebelum atau sesudahnya. Contoh:
a). Meskipun persiapan itu telah dilakukan dengan seksama, tetapi operasi itu batal dilaksanakan. Menurut keterangan tim medis hal itu terjadi karena tiba-tiba pasien mengalami komplikasi.
b). Meskipun persiapan itu telah dilakukan dengan seksama, tetapi operasi itu batal dilaksanakan. Hal itu karena rencana itu telah bocor, sehingga tak sebuah becakpun yang keluar.
Kata operasi pada paragraf pertama bermakna ‘pembedahan’, sedangkan pada paragraf kedua bermakna ‘penertiban’. Kedua makan kata operasi itu bias dipahami karena kalimat yang mengikutinya.
3. Konteks Situasi
Yang dimaksud konteks situasi adalah kapan, di mana, dan dalam suasana apa ujaran itu diucapkan. Contohnya kalimat ‘Tiga kali empat berapa?’. Bila diucapkan oleh seorang guru SD maka jawabannya adalah dua belas, tetapi bila kalimat tersebut diucapkan oleh seseorang yang ditujukan kepada tukang afdruk foto maka jawabannya bisa saja ‘seribu’ atau ‘seribu lima ratus’.
Dari contoh di atas dapat disimpulkan bahwa makna bahasa seperti yang diresepsi pendengar bukanlah semata-mata masalah intralingual belaka seperti yang disebutkan Verhaar, melainkan juga masalah ekstralingual.
E. Makna Referensial
Sebuah kata disebut memiliki makna referensial kalau ada referensinya atau acuannya. Kata-kata seperti “kuda” disebut memiliki makna referensial kalau ada acuannya atau referensinya. Kata-kata seperti “kuda”, “merah”, dan “gambar” adalah termasuk kata-kata yang memiliki makna referensial. Kata-kata seperti “dan”, “atau”, “karena” tidak bermakna referensial karena kata-kata itu tidak mempunyai referens.
Berkenaan dengan acuan ini, ada sejumlah kata yang disebut kata-kata deiktik yang acuannya tidak menetap pada satu wujud, melainkan dapat berpindah dari wujud yang satu ke wujud yang lain. Kata-kata yang deiktik ini adalah kata-kata seperti pronomina, seperti “dia”, “saya”, “kamu”, “kata-kata yang menyatakan ruang”, ‘kata-kata yang menyatakan waktu”, ‘kata-kata yang disebut kata petunjuk”. Contoh pronomina kata saya yang acuannya tidak sama:
• “Tadi pagi saya bertemu Pak Ahmad”, kata Ani kepada Ali.
• “Saya juga bertemu beliau tadi pagi”, sahut Ali.
• “Di mana kalian bertemu?”, tannya Amir. “Saya sudah lama tidak berjumpa dengan beliau”.
Pada kalimat pertama kata saya mengacu pada Ani, kalimat kedua pada Ali, dan kalimat terakhir pada Amir.
F. Ujaran Taksa
Ujaran taksa adalah ujaran yang maknanya bisa ditafsirkan bermacam-macam. Penyebab ujaran taksa antara lain:
1. Kekurangan Konteks
Kekurangan konteks merupakan penyebab utama terjadinya ujaran taksa. Contoh:
a). Minggu lalu saya bertemu paus.
b).Minggu lalu ketika saya ke pantai saya bertemu paus.
Pada kalimat pertama, makna kata paus masih rancu, bisa saja bermakna ‘ikan paus’ dan bias juga bermakna ‘nama pemimpin agama katolik’. Karena adanya penambahan konteks tempat (ketika saya ke pantai), maka makna kata paus menjadi jelas, yakni ‘ikan paus’.
Selain dengan konteks kalimat, konteks situasi jiga dapat menghilangkan ketaksaan. Misalnya jika kalimat “minggu lalu saya bertemu paus” diucapkan ketika seseorang berada di halaman Vatikan atau di kota Roma, akan menjadi jelas bahwa yang ditemui adalah Paus pemimpin teringgi agama Katolik. Jika kalimat tersebut diucapkan oleh seseorang dalam suatu pelayaran di tengah samudera, juga akan menjadikan jelas bahwa yang ditemui adalah paus, sejenis ikan besar.
2. Ketidakcermatan Struktur Gramatikal
Ketidakcermatan struktur gramatikal meliputi struktur frase, klausa, kalimat, dan wacana. Ketaksaan di sini selain karena ketidakcermatan struktur gramatikal, bisa juga terjadi pada konstruksi yang struktur gramatikalnya berterima tetapi berbagai kendali semantik telah menimbulkan ketaksaan pada konstruksi itu.
a). Struktur frase
Contoh: lukisan yusuf.
Mess dalam pembicaraannya mengenai aneksi mengatakan konstruksi di atas dapat bermakna (a) lukisan itu milik Yusuf, (b) lukisan itu karya Yusuf, (c) Lukisan itu menampilkan wajah Yusuf. Namun, Mess tidak menjelaskan mengapa konstruksi di atas bisa memiliki tiga buah kemungkinan makna. Dia hanya mengatakan karena konstruksi di atas bukan sebuah kata majemuk, melainkan sebuah aneksi.
Kalau konstruksi di atas kita analisis menurut teori komponen makna dari Nida atau Larson, kiranya penyebab ketaksaan konsytruksi di atas dapat dijelaskan. Ketaksaan tersebut bersumber pada fitur-fitur makna yang secara inhern dimiliki oleh fitur Yusuf tersebut. Leksem Yusuf sebagai unsur kedua dalam frase lukisan Yusuf memiliki fitur makna (+manusia), yang berpotensi juga untuk memiliki fitur makna (+pemilik). Karena itu, jadilah konstruksi itu memiliki makna gramatikal “milik”. Leksem Yusuf juga berpotensi memiliki fitur semantik (+pelaku). Karena itulah, konstruksi lukisan Yusuf memiliki makna gramatikal “luisan karya Yusuf”. Kita bandingkan dengan konstruksi seperti lukisan Afandi, puisi rendra, dan novel Mira W, yanng juga bermakna gramatikal “hasil, karya” karena nama Afandi dikenal sebagai pelaku pembuat lukisan, nama Mira W sebagai penulis nivel, dan Rendra sebagai penulis puisi.Selain itu, leksem Yusuf juga berpotensi memiliki fitur (+objek) atau (+sasaran). Karena itulah konstruksi lukisan Yusuf juga memiliki makna gramatikal “objek lukisan”. Kita bandingkan dengan konstruksi seperti lukisan banteng, pembangunan jalan, dan penulisan novel yang juga bermakna gramatikal “objek pembuatan”.
Jadi, dapat disimpulkan bahwa penyebab ketaksaan pad konstruksi di atas adalah fitur makna yang dimiliki secara inhern oleh leksem Yusuf.
b). Struktur kalimat
Contoh: Guru baru datang.
Kalimat tersebut menjadi taksa karena dapat ditafsirkan menjadi ’guru yang baru diangkat itu datang’ dan dapat pula diartikan ’guru itu terlambat datang (baru datang)’.Penyebabnya karena kata baru dapat ditafsirkan sebagai bagian dari frase nominal guru baru dan juga dapat ditafsirkan sebagai bagian dari frase verbal baru dating. Untuk menghilangkan ketaksaan konstruksi tersebut adalah dengan memberi penanda batas antar fungsi subjek dan fungsi predikat. Misalnya dengan menempatkan kata itu pada bagian akhir subjeknya.
c). Struktur wacana
Contoh: Ali dan Ahmad bersahabat karib. Dia sangat mencintai istrinya.
Wacana sederhana tersebut menjadi taksa karena dapat ditafsirkan bermakna ‘Ali sangat mencintai istrinya’ dan dapat pula bermakna ‘Ahmad sangat mencintai istri Ali’. Penyebabnya adalah karena penggunaan pronomina persona dia dan nya yang tidak cermat, yang bias mengacu secara anaforis pada Ali dan juga pada Ahmad. Lebih baik tetap menggunakan kata Ali atau Ahmad.
3. Kekurangan Tanda Baca
Kekurangan tanda baca dapat menyebabkan ketaksaan. Ketaksaan karena tanda baca ini tentu saja hanya terjadi pada ragam nahasa tulis karena bahasa tulis tidak memiliki intonasi.
Contoh: Buku sejarah baru.
Konstruksi tersebut menjadi taksa karena dapat ditafsirkan bermakna ‘buku itu mengenai sejarah baru’ dan dapat pula bermakna ‘buku baru itu mengenai sejarah’. Menurut pedoman EYD ketaksaan pada konstruksi tersebut akan hilang jika antara satuan-satuan leksikal yang secara semantik berdekatan diberi tanda hubung (-).Untuk menyatakan ‘buku itu mengenai sejarah baru’ maka ditulis: Buku sejarah-baru. Sedangkan untuk menyatakan ‘buku baru itu mengenai sejarah’, maka ditulis: Buku-sejarah baru.
Dengan disisipkannya tanda hubung antara kata sejarah dan kata baru, maka urutan sejarah-baru itu menjadi sebuah satuan semantik. Sebaliknya, dengan disisipkannya tanda hubung antara kata buku dan kata sejarah maka urutan buku-sejarah itu menjadi sebuah satuan semantik.












DAFTAR PUSTAKA
Abdul Chaer. 2003. Psikolinguistik Kajian Teoritik. Jakarta: PT. Rineka Cipta
Aspek Makna dalam Semantik dan Keterkaitannya dengan Jenis-jenis Makna. http://susilo.adi.setyawan.student.fkip.uns.ac.id/ (Diakses Tanggal 25 Desember 2009)
Polisemi. http://studycycle.blogspot.com. (Diakses Tanggal 25 Desember 2009)

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar