Senin, 20 September 2010

CERPEN

SKETSA:

Kematian Rara, sang kekasih tercinta telah membuat Nino tak berdaya untuk menjalani hari-harinya. Kini dia tak bisa lagi melihat indahnya pegunungan bersama kekasihnya itu. Nino merasa sangat bersalah atas kematian Rara. Dia hanya bisa mengenang semua yang telah mereka lalui bersama, semua kenangan indah itu.


CERPEN:

Rara kekasihku Tercinta

Nino Suryo Nugroho, ya itulah nama pemuda itu. Teman-temannya biasa memanggilnya Nino. Perawakannya cukup tinggi, sekitar 170 centi meter dengan tubuh yang tidak terlalu gemuk namun berisi. Parasnya tidak begitu tampan, kulitnya juga tidak terlalu putih namun terlihat bersih. Pakaiannya selalu rapi, mungkin itulah yang membuat penampilannya terlihat menarik. Dia adalah seorang mahasiswa yang cukup berprestasi di Universitas Sebelas Maret Surakarta. Berasal dari kalangan yang kurang mampu tidak membuatnya patah semangat.
Diremehkan, hal itu sudah biasa dialami olehnya. Bahkan tidak jarang dia diolok-olok oleh teman-temannya yang berasal dari golongan yang bisa dibilang tajir. Namun Nino selalu optimis dan yakin bahwa dia mampu melakukan segala sesuatu yang bisa dilakukan orang lain. Kalau orang lain saja bisa melakukannya mengapa saya tidak, begitulah prinsip hidupnya. Hinaan demi hinaan yang dia terima justru memacunya untuk lebih giat berusaha. Terbukti segala usaha kerasnya tidak sia-sia karena kini dia telah menggarap skripsi untuk tugas akhirnya.
Nino dikenal sopan dan mudah bergaul. Dia juga aktif di banyak organisasi di kampusnya. Sudah barang tentu banyak mahasiswa yang mengenal sosok pemuda yang satu ini. Kerendahan hatinya membuatnya disenangi oleh teman-temannya.
Akhir-akhir ini Nino selalu menyendiri dan tampak tak bersemangat lagi. Kematian Rara --sang kekasih tercinta-- telah merubahnya menjadi sosok yang pendiam dan tak lagi bergaul dengan teman-temannya. Peristiwa naas yang merenggut belahan jiwanya itu terjadi seminggu yang lalu. Bersama dengan teman-temannya hari minggu itu Nino mengajak Rara mendaki gunung Sindoro. Mereka berdua memiliki hobi yang sama, senang menikmati keindahan alam apalagi pegunungan. Dari kesenangan itu jugalah awal mula mereka berkenalan. Perkenalan mereka bisa dibilang terjadi secara tidak disengaja. Saat itu cuaca di gunung lawu cukup buruk disertai dengan kabut tebal. Nino dan teman-temannya menghentian pendakian saat mereka sampai di pos tiga. Mereka memutuskan untuk beristirahat sambil menunggu cuaca membaik.
Baru sekitar lima menit mereka beristirahat terdengar teriakan minta tolong dari sekelompok pendaki yang sepertinya berasal dari tempat yang tidak jauh dari tempat Nino dan teman-temannya beristirahat. Spontan Nino dan teman-temannya mencari sumber suara tersebut. Benar saja baru berjalan sekitar seratus meter Nino dan teman-temannya sudah menemukan asal muasal suara tersebut. “Ada apa, mengapa kalian berteriak minta tolong?” Nino bertanya kepada kelompok pendaki yang baru saja mereka temukan itu. Namun sebelum ada seorangpun yang menjawab pertanyaan yang dilontarkannya, Nino telah mendapatkan jawaban dari pertanyaannta tadi. Dia melihat ada seorang gadis yang mengalami hipotermia.
Nino segera mengeluarkan minyak tawon yang berada di saku celananya dan mengoleskannya di bagian leher, tangan serta kaki gadis itu. Nino juga melepas jaket parasit yang ia kenakan dan memakaikannya ke tubuh gadis malang itu. Sepuluh menit kemudian terlihat keadaannya mulai membaik. Beruntung Nino dan teman-temannya segera menolong gadis itu sebelum dia mengalami hipotermia akut sehingga nyawanya masih dapat terselamatkan.
“Terima kasih banyak, kalian telah menyelamatkan nyawaku”, ucapan terima kasih itu tak henti-hentinya keluar dari bibir gadis itu untuk Nino dan teman-temannya.. Teman-teman Rara pun melakukan hal yang sama.”Terima ksih banyak, kalian telah menyelamatkan teman kami”, begitu ucap mereka serempak. Mereka merasa berhutang budi kepada Nino dan teman-temannya karena mereka telah menyelamatkan nyawa Rara. “Sama-sama, sudah kewajiban kita untuk saling membantu sesama selagi kita mampu”, begitu jawab Nino.
“O ya kalau boleh saya tahu, siapa nama kamu?”, Tanya Nino kepada gadis itu. Sambil mengulurkan tangannya kepada Nino gadis itu menjawab, “Saya Rara”. “Saya Nino”, balas Nino sambil berjabat tangan dengan Rara. Dari situlah Nino dan Rara berkenalan dan akhirnya mereka berdua menjadi sepasang kekasih.
Rara adalah seorang gadis yang dewasa dan sederhana. Meskipun ia berasal dari keluarga yang cukup berada, ia tidak pernah menampakkan kekayaan kedua orang tuanya itu. Dia sama sekali tidak pernah menyentuh kehidupan malam atau yang biasa disebut dugem itu. Kesederhanaan yang ia miliki inilah yang telah mencuri hati Nino.
Tapi siapa yang menyangka jika kebahagiaan sepasang kekasih itu kini tak lagi dapat mereka rasakan. Kecelakaan maut hari minggu itu telah merenggut Rara dari Nino. Mobil mereka bertabrakan dengan bus yang berasal dari arah yang berlawanan. Supir bus mengantuk dan malangnya menghantam mobil yang dikendarai oleh Nino dan teman-temannya. Rara dan satu orang teman Nino meninggal di tempat tanpa sempat dibawa ke rumah sakit. Saat itu Nino tak sadarkan diri, jidadnya terluka dan mengalami pendarahan hebat. Beruntung Nino segera dibawa ke rumah sakit sehingga nyawanya masih dapat terselamatkan.
Sesaat setelah Nino sadarkan diri, ia langsung menanyakan di mana Rara. Keluarganya tidak mampu berkata yang sebenarnya kepada Nino, mereka berbohong pada Nino dan mengatakan bahwa Rara sedang dirawat di kamar lain. Keluarganya khawatir Nino tidak sanggup menerima kenyataan pahit bahwa Rara telah meninggalkan mereka semua untuk selamanya. Oleh karena itu mereka menunggu saat yang tepat untuk mengatakan hal tersebut kepada Nino.
Tiga hari dirawat, keadaan Nino semakin membaik. Keinginan Nino untuk menemui Rara pun tidak bisa dicegah lagi. Akhirnya keluarganya mengatakan hal yang sebenarnya kepada Nino bahwa Rara telah meninggal dunia. Kabar itu tentu saja terasa bagaikan petir di siang bolong. Nino tak kuasa mendengarnya dan akhirnya ia jatuh tersungkur ke lantai dan tak sadarkan diri.
Hari-hari berikutnya hanya berisi penyesalan dan ketidakrelaan. Nino merasa sangat bersalah pada dirinya sendiri. Jika saja dia tidak mengajak Rara minggu itu tentu saat ini dia masih bisa melihat senyum ceria kekasihnya. Jika saja dia bisa menghindari bus itu tentu saat ini dia masih bisa memeluk Rara. Jika saja, jika saja, dan jika saja, hanya itu yang ada di benak Nino.
Manusia hanya bisa berencana, tapi Tuhanlah yang menentukan segalanya. Keinginan Nino dan Rara untuk menikmati pemandangan gunung Sindoro hanya tinggal kenangan. Hari-hari Nino kini hanya diisi oleh kenangan-kenangan indahnya bersama Rara, entah sampai kapan dia akan terus murung dan menyalahkan dirinya atas kematian kekasihnya itu.


















CERPEN BERJUDUL “RARA KEKASIHKU TERCINTA”
Disusun Untuk Memenuhi Tugas Akhir Semester Empat
Mata Kuliah Menulis Kreatif
Dosen Pengampu: Drs. Suyitno. M. Pd















Disusun Oleh:
IKA RAHAYU SUSILANINGSIH
K1207020




PENDIDIKAN BAHASA DAN SASTRA INDONESIA
FAKULTAS KEGURUAN DAN ILMU PENDIDIKAN
UNIVERSITAS SEBELAS MARET
SURAKARTA
2009

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar