Senin, 20 September 2010

PERMASALAHAN MAKNA

PERMASALAHAN MAKNA
Disusun untuk Memenuhi Tugas Semester Lima
Mata Kuliah: Psikolinguistik
Dosen Pengampu : Dr. Andayani, M.Pd.








Disusun oleh:
Ika Rahayu Susilaningsih
K1207020




PENDIDIKAN BAHASA DAN SASTRA INDONESIA
FAKULTAS KEEGURUAN DAN ILMU PENDIDIKAN
UNIVERSITAS SEBELAS MARET
SURAKARTA
2010
Permasalahan Makna

A. Hakikat Makna Ujaran
Berbicara tentang makna, pertama perlu diingat adanya dua bidang kajia tentang makna, yaitu semantik dan semiotik. Kedua bidang kajian ini sama-sama meneliti atau mengkaji tentang makna. Bedanya, kalau emantik khusus mengkaji makna bahasa sebagai alat komunikasi verbal manusia, sedangkan semiotik mengkaji semua makna yang ada dalam kehidupan manusia seperti makna-makna yang terkandung oleh berbgai tanda dan lambang serta isyarat-isyarat lainnya. Kemudian, karena bahasa sebenarnya juga tidak lain sebagai suatu sistem lambang (Chaer: 2003: 268), maka semantik bisa dikatakan juga termasuk atau menjadi bagian dalam kajian semiotik. Dalam praktek berbahasa, ternyata makna suatu ujaran tidak bisa dipahami hanya dari kajian emanti, tetapi juga harus dibantu oleh kajian semiotik, seperti pemahaman mengenai gerak-gerik tubuh dan anggota tubuh, serta mimik, dan sebagainya.
Dalam kajian semantik kalau misalnya kepada kita ditanyakan apa makna kata tirta, maka spontan kita akan menjawab bahwa tirta dalah “air”. Jadi, kata tirta diberi makna dengan sinonimnya, yaitu air. Kalau ditanyakan apakah makna kata avtur maka kita akan menjawab bahwa avtur adalah “bahan bakar pesawat terbang”. Jadi, kata avtur diberi makna dalam sebuah frase. Lalu, kalau ditanyakan apa makna kata kuda, maka mungkin kita akan menjelaskan dalam bentuk definisi, “kuda adalah sejenis binatang berkaki empat yang biasa dikendarai”. Maka makna kata tirta, avtur dan kuda di atas akan bisa kita pahami kalau sebelumnya kit telah mengerti makna kata-kata tersebut. Kalau makna kata-kata tersebut tidak kita pahami sebelumnya, maka makna kata tirta, avtur dan kuda itu tetap tidak kita ketahui. Jadi, jelas untuk dapat memahami makna sebuah kata kita harus memahami terlebih dahulu makna kata-kata yang dirangkai untuk menjelaskan makna kata itu.
Makna adalah bagian yang selalu melekat dari apa saja yang kita tuturkan. Pengertian dari makna sendiri sangatlah beragam. Mansoer Pateda (2001:79) dalam http://susilo.adi.setyawan.student.fkip.uns.ac.id/ mengemukakan bahwa istilah makna merupakan kata-kata dan istilah yang membingungkan. Makna tersebut selalu menyatu pada tuturan kata maupun kalimat. Menurut Ullman dalam http://susilo.adi.setyawan.student.fkip.uns.ac.id/ mengemukakan bahwa makna adalah hubungan antara makna dengan pengertian. Dalam hal ini Ferdinand de Saussure ( dalam Abdul Chaer, 1994:286) mengungkapkan pengertian makna sebagai pengertian atau konsep yang dimiliki atau terdapat pada suatu tanda linguistik.
Dalam Kamus Linguistik, pengertian makna dijabarkan menjadi :
1. Maksud pembicara;
2. Pengaruh penerapan bahasa dalam pemakaian persepsi atau perilaku manusia atau kelompok manusia;
3. Hubungan dalam arti kesepadanan atau ketidak sepadanan antara bahasa atau antara ujaran dan semua hal yang ditunjukkannya,dan
4. Cara menggunakan lambang-lambang bahasa
Dari pengertian para ahli bahasa di atas, dapat dikatakan bahwa makna adalah suatu bentuk kebahasaan yang harus dianalisis dalam batas-batas unsur-unsur penting situasi di mana penutur mengujarnya. makna merupakan hubungan antara bahsa dengan bahasa luar yang disepakati bersama oleh pemakai bahsa sehingga dapat saling dimengerti. Batasan tentang pengertian makna sangat sulit ditentukan karena setiap pemakai bahasa memiliki kemampuan dan cara pandang yang berbeda dalam memaknai sebuah ujaran atau kata.
Aspek-aspek makna dalam semantik ada empat hal, yaitu :
1. Pengertian (sense)
Pengertian disebut juga dengan tema. Pengertian ini dapat dicapai apabila pembicara dengan lawan bicaranya atau antara penulis dengan pembaca mempunyai kesamaan bahasa yang digunakan atau disepakati bersama. Pengertian adalah sistem hubungan-hubungan yang berbeda dengan kata lain di dalam kosakata.
2. Nilai rasa (feeling)
Aspek makna yang berhubungan dengan nilai rasa berkaitan dengan sikap pembicara terhadap hal yang dibicarakan.dengan kata lain, nilai rasa yang berkaitan dengan makna adalah kata0kata yang berhubungan dengan perasaan, baik yang berhubungan dengan dorongan maupun penilaian. Jadi, setiapkata mempunyai makna yang berhubungan dengan nilai rasa dan setiap kata mempunyai makna yang berhubungan dengan perasaan.
3. Nada (tone)
Aspek makna nada adalah sikap pembicara terhadap kawan bicara. Aspek nada berhubungan pula dengan aspek makna yang bernilai rasa. Dengan kata lain, hubungan antara pembicara dengan pendengar akan menentukan sikap yang tercermin dalam kata-kata yang digunakan.
4. Maksud (intention)
Aspek maksud merupakan maksud senang atau tidak senang, efek usaha keras yang dilaksanakan. Maksud yang diinginkan dapat bersifat deklarasi, imperatif, narasi, pedagogis, persuasi, rekreasi atau politik.

B. Makna Leksikal
Istilah leksikal adalah bentuk adjektiva dari nomina leksikon, yang berasal dari leksem. Dalam kajian morfologi leksem lazim diartikan sebagai bentuk dasar yang setelah mengalami proses gramatikalisasi akan menjadi kata (Kidalaksana dalam Chaer: 2003: 269). Sedangkan dalam kajian semantik leksem lazim diartikan sebagai satuan bahasa yang memiliki satu makna atau satu pengertian, seperti air dalam arti “sejenis barang cair yang digunakan untuk pengertian sehari-hari”, pensil dalam arti ‘sejenis alat tulis, yang terbuat dari kayu dan arang”, meja hijau dalam ari “pengadilan” adalah contoh-contoh leksem. Dari contoh-contoh tersebut nampak bahwa leksem itu bisa berupa kata dan juga bisa berupa gabungan kata. Namun, dalam dunia pendidikan bentuk-bentuk seperti meja hijau dan membanting tulang lazim diartikan idiom.
Idiom adalah satuan ujaran yang maknanya tidak dapat diramalkan dari makna unsur-unsurnya, baik secara leksikal maupun gramatikal. Misalnya secara gramatikal bentuk “menjual rumah” bermakna “yang menjual menerima uang dan yang membeli menerima rumahnya”, tetapi dalam bahasa Indonesia bentuk “menjual gigi” tidak memiliki makna seperti itu, melainkan bermakna “tertawa keras-keras”. Jadi, makna yang dimiliki seperti makna gigi itulah yang disebut makna gramatikal.
Makna leksikal adalah makna yang secara inhern dimiliki oleh sebuah leksem. Makna leksikal juga dapat diartikan sebagai makna secara lepas, di luar konteks kalimatnya. Makna leksikal ini terutama yang berupa kata di dalam kamus biasanya didaftarkan sebagai makna pertama kata atau entri yang terdaftar dalam kamus itu. Misalnya, “bagian tubuh dari leher ke atas” adalah makna leksikal dari kata kepala, sedangkan makna “ketua” atau “pemimpin” bukanlah makna leksikal, sebab untuk menyatakan makna “ketua’ atau “pemimpin”, kata kepala itu harus bergabung dengan unsur lain, seperti dalam frase kepala sekolah atau kepala kantor.
Tahap pertama untuk bisa meresapi makna suatu ujaran adalah memahami makna leksikal setiap butir leksikal (kata, leksem) yang digunakan di dalam ujaran itu. Andaikata kita dak tahu makna leksikal yang digunakan dalam sebuah ujaran kita bisa melihatnya di dalam kamus, atau bertanya kepada orang lain yang tahu. Namun, persoalannya tidak seederhana itu sebab ada sejumlah kasus di dalam studi semantik yang menyangkut makna lesikal itu. Permasalahan yang menyangkut makna leksikal antara lain:
1. Kesinoniman
Pada setiap bahasa ada sejumlah kata yang memiliki kesamaan makna. Hal ini dalam studi semantiklazim disebut dengan istilah sinonim, sinonimi, atau kesinoniman. Dalam bahasa Indonesia misalnya kata ayah memiliki kesamaan makna dengan kata bapak, kata mati memiliki kesamaan makna dengan kata meninggal, wafat, dan mampus. Kasus kesinoniman ini bisa menjadi masalah dalam meresepsi makna ujaran. Hal ini seperti yang dikemukakan Verhaar (dalam Chaer:270) bahwa dua buah kata yang bersinonim maknanya hanya kurang lebih sama. Untuk membuktikan hal itu dapat diambil contoh kata ayah dan bapak seperti di bawah ini:
(a). “Bapak” mau pergi ke mana?
“Ayah” mau pergi ke mana?

(b) Selamat pagi “Bapak” Lurah?
Selamat pagi “Ayah” Lurah?
Ternyata pada kalimat kedua kata bapak tidak dapat digantikan dengan kata ayah. Hal ini membuktikan bahwa kata bapak dan ayah yang disebut bersinonim atau memiliki kesamaan makna ternyata tidak selalu dapat dipertukarkan.
Ketidakpersisan makna diantara kata-kata yang bersinonim adalah karena ada kaiah umum dalam kajian semantik bahwa bila bentuk (kata, leksem) berbeda maka maknanya pun akan berbeda, meskipun perbedaannya hanya seikit (Chaer:2003:271). Ketidakpersisan ini yang menyebabkan dua buah kata yang bersinonim tidak dapat dipertukarkan, bisa disebabkan oleh:
(1). Faktor areal
Faktor areal adalah faktor dimana kata itu biasa digunakan. Misalnya kaya saya dan kata beta adalah dua buah kata yang bersinonim. Namun, kalau kata saya bisa digunakan di daerah mana saja di seluruh Indonesia, tetapi kata beta hanya cocok digunakan di wilayah atau dalam konteks Indonesia bagian timur. Contoh lain kata pepaya dan kates adalah dua buah kata yang bersinonim. Hanya saja kalau kata pepaya dapat dignakan di wilayah mana saja, sedangkan kates hanya cocok untuk konteks atau wilayah Jawa.
(2). Faktor sosial
Faktor sosial adalah faktor tingkat kedudukan sosial di antara dua partisipan yang menggunakan kata-kata yang bersinonim itu. Umpamanya kata saya dan aku adalah dua buah kata yang bersinonim. Namun, kalau kata saya dapat diginakan oleh siapa saja terhadap siapa saja, sedangkan kata aku hanya dapat digunakan terhadap lawan bicara yang lebih muda atau kedudukan sosialnya lebih rendah. Dalam hal ini munculnya kata pirsawan atau pemirsa adalah karena faktor sosial ini.
(3). Faktor temporal
Faktor temporal adalah faktor waktu penggunaan kata-kata itu. Misalnya kata hilubalang dan kata komando adalah dua buah kata yang bersinonim. Namun, keduanya tidak bisa dpertukarkan begitu saja, sebab kata hulubalang hanya cocok digunakan untuk konteks arkais atau klasik, sedangkan kata komando untuk masa sekarang.
(4). Faktr bidang kegiatan
Faktor bidang kegitan adalah faktor dalam bidang kegiatan apa kata-kata itu bisa digunakan. Misalnya kata matahari dan surya adalah dua buah kata yang bersinonim. Hanya saja kata matahari dapat digunakan dalam bidang apa saja, sedangkan kata surya hanya bisa digunakan dalam bbidang sastra.
(5).Faktor fitur semantik
Faktor fitur semantik adalah faktor ciri-ciri semantik yang dimiliki secara inhern oleh kata-kata itu sehingga membedakan kata-kata itu satu dari yang lainnya, meskipun kata-kata itu bersinonim. Misalnua kata meihat, melirik, mengintip,menonton, dan melotot adalah lima buah kata yang bersinonim. Kalau kata melihat bisa digunakan untuk mengganti keempat kata lainnya, maka keempat kata lainnya tidak dapat digunakan untuk mengganti kata melihat. Kata melirik digunakan untuk menyatakan melihat dengan sudut mata”, kata mengintip digunakan untuk menyatakan “melihat dari celah-celah sempit”, kata menonton digunakan untuk menyatakan “melihat untuk hiburan”, dan kata melotot digunakan untuk menyatakan “melihat dengan mata lebar-lebar”. Jadi, kata melihat bersifat umum, sedangkan keempat kata lainnya lebih bersifat spesifik.
2. Keantoniman
Kentoniman lazim diartikan sebagai keadaan dua butir leksikal (kata atau leksem) yang maknanya bertentangan, berkebalikan, atau berkontras. Verhaar (dalam Chaer : 273) mengemukakan bahwa dua buah kata yang berantonim memiliki makna yang dianggap kebalikan yang satu dari yang lain, maka persoalan keantoniman menjadi cukup sukar bagi penutur dalam melahirkan ujaran. Ada beberapa tipe keantoniman, antara lain:
a. Keantoniman mutlak
Yakni keantoniman natara dua buah kata atau leksem yang maknanya saling meniadakan.Misalnya kata hidup dan manti, sesuatu yang masih hidup tentu belum mati, dan sesuatu yang sudah mati tentu tidak bisa hidup lagi. Keantoniman mutlak ini memang tidak banyak contohnya, karena dalam kehidupan kita kemutlakan jarang ada. Yang lazim dan banyak adalah kerelatifan.
b. Keantoniman Relatif
Yakni keantoniman antara dua dua buah kata atau leksem yang pertentangan maknanya bersifat relative, tidak mutlak. Misalnya kata baik dan buruk. Sesuatu yang disebut baik belum tentu buruk, dan sesuatu yang disebut buruk belum tentu baik. Kerelatifan baik dan buruk bisa ditandai dengan keterangan “sangat”, “lebih”, atau “kurang”.
c. Keantoniman Relasional
Yakni keantoniman antara dua buah kata atau leksem yang maknanya saling melengkapi, dalam arti adanya sesuatu karena adanya yang lain. Misalnya antara kata suami dan kata isteri. Dalam kasus ini adanya suami karena adanya istri dan adanya istri karena adanya suami.
Dalam keantoniman relasional, relasional ini tidak tersirat adanya makna pertentangan, kebalikan, atau kontras. Yang tampak adalah cirri keberpasangan di antara kedua kata keantoniman relasional itu.
d. Keantoniman hierarkial
Yaitu keantoniman antara dua buah kata atau leksem yang maknanya menyatakan jenjang urutan dari ukuran, nilai, timbangan, atau kepangkatan. Misalnya keantoniman antara tamtama dan bintara,prajurit dengan opsir, dll. Kata-kata yang berantonim hierarkial ini juga tidak menunjukkan adaya pertentangan, atau kebalikan. Yang atmpak adalah urutan jenjang ukuran atau nilai.
e. Keantoniman Ganda
Yaitu keantoniman sebuah kata dengan pasangan yang lebih dari satu. Misalnya kata diam, bisa berantonim dengan kata bergerak, bicara, dan bekerja.
3. Kehomoniman
Kehomoniman lazim diartikan sebagai keadaan adanya dua buah kata atau lebih yang ciri fisiknya persis sama namun memiliki makna yang berbeda karena masing-masing merpakan identitas kata yang berlawanan. Misalnya kata pacar dalam arti “kekasih” dan dalam arti “pemerah kuku”.
Kasus kehomoniman ini dapat menimbulkan kesalahan reseptif pada pihak pendengar jika penutur tidak menyampaikan ujaran secara lengkap. Misalnya:
(a). Mana hak saya?
(b). Saya minta kopinya saja.
Kata hak bisa ditafsirkan “bagian bawah sepatu” dan bisa juga ditafsirkan “bagian atau sesuatu yang harus diterima”. Sedangkan kata kopi bisa diartikan “minuman kopi” dan bisa juga “salinan surat yang difotokopi”.
Berdasarkan contoh di atas, maka sudah seharusnya seoranng penutur harus berhati-hati dalam menggunakan kata yang berhati-hati dalam menggunakan kata yang berhomonim ini di dalam ujarannya. Ujaran yang baik adalah ujaran yang tidak menimbulkan makna ganda.
Dalam bahasa tulis ada istilah homograf yang digunakan untuk menyebutkan adanya bentuk-bentuk kata yang tulisannya sama persis, tetapi lafalnya berbeda dan maknanya tentu juga berbeda karena merupakan dua buah kata yang berbeda. Misalnya kata dalam arti “bagian di depan pintu rumah” dan dilafalkan (teras) dan kata dalam arti “inti kayu” yang dilafalkan sebagai (teras). Contoh lain kata dalam arti “sejenis makanan terbuat dari kacang kedelai” dan dilafalkan (tahu) dan kata alam arti “mengerti” dan dilafalkan (tau).
Istilah homografi sering didikotomikan dengan homofoni yakni untuk menyebut adanya dua buah kata atau lebih yang lafalnya sama tetapi artinya berbeda. Misalnya:
• Guci itu adalah peninggalan masa kutai. (masa = waktu)
• Kasus tabrakan yang menghebohkan itu dimuat di media massa.(massa = masyarakat umum)
4. Kehiponiman dan Kehiperniman
Kehiponiman lazim diartikan sebagai keadaan sebuah kata yang maknanya tercakup atau berada di bawah kata yang lain. Misalnya kata merpati yang maknanya tercakup di dalam makna kata burung. Merpati memang burung tetapi burung bukan hanya merpati; bisa juga tekukur, gelatik, garuda, murai,dll.
Kalau hubungan natara merpati dan burung disebut hiponim, maka kebalikannya hubungan antara burung dan merpati disebut hipernim. Lalu, relasi sesame antara merpati, tekukur, garuda, dan murai disebut kohiponim dari kata burung.
Kasus kehiponiman dan kehiperniman mengandaikan adanya kelas bawahan dan kelas atasan, adanya kata yang maknanya berada di bawah makna kata lainnya. Karena itu, ada kemungkinan sebuah kata yang merupakan hipernimi terhadap sejumlah kata lain, akan menjadi hiponim terhadap kata lain yang secara hierarkial berada di atasnya. Sebagai contoh kata burung yang merupakan hipernim terhadap kata merpati, tekukur, kutilang, dan sebagainya, akan menjadi hiponim terhadap kata unggas. Lalu kata unggas yang merupakan hipernim terhadap kata burung, itik, dan angsa akan menjadi hiponim terhadap kata binatang.
Konsep hiponim dan hipernim perlu dipahami untuk dapat membuat kategori spesifik atau dalam membuat klasifikasi dari suatu konsep yang bersifat umum. Hanya perlu disadari konsep generik dan spesifik butir-butir leksikal dari bahasa adalah tidak sama karena masalah semantik bahasa ini sangat berkaitan erat dengan masalah budaya (Larson dalam Chaer: 2003: 277).

C. Makna Gramatikal
Makna gramatikal yakni makna yang muncul sebagai hasil suatu proses gramatikal. Proses gramatikal dalam bahasa Indonesia antara lain afiksasi, reduplikasi, komposisi, pemfrasean, dan pengkalimatan. Makna-makna gramatikal yang dihasilkan oleh proses gramatikal tersebut berkaitan erat dengan fitur makna.
1. Fitur Makna
Makna setiap butir leksikal dapat dianalisis atas fitur-fitur makna yang membentuk makna keseluruhan leksikal itu seutuhnya. Misalnya kata bahasa Inggris boy, man, girl, dan woman, jika dianalisis fitur-fitur semantiknya akan tampak seperti pada bagan berikut ini:


Fitur Makna Boy Man Girl Woman
1. Manusia + + + +
2. Dewasa - + - +
3. Laki-laki + + - -

Dari bagan tampak bahwa kata boy memiliki fitur makna [+manusia], [-dewasa], sedangkan man memiliki fitur semantik [+manusia], [+dewasa], [+laki-laki]. Jadi yang membedakan boy dan man bahwa boy berfitur [-dewasa[, sedangkan man berfitur [+dewasa]. Perbedaan boy dan girl terletak pada fitur [+laki-laki] dan [-laki-laki].
Dalam bahasa Inggris, disamping boy dan girl ada kata son dan daughter dan dalam bahasa Indonesia hanya ada kata anak. Kalau kita bandingkan kata boy, girl, son, daughter, dan anak tampak fitur-fitur maknanya:
Fitur Makna Boy Girl Son Daughter Anak
1. Manusia + + + + +
2. Dewasa - - - - +
+ + +
3. Laki-laki + - + _ +

Dari bagan tersebut kita bisa melihat bahwa bahasa Inggris memiliki empat butir leksikal yang berkenaan dengan anak, dengan fitur-fitur maknanya yang lebih spesifik. Sedangkan bahasa Indonesia hanya memiliki satu butir leksikal yaitu anak dengan itur semantik yang masih umum. Oleh karena itu, untuk menampung konsep boy dalam bahasa Indonesia harus ditambah fitur (=laki-laki) menjadi anak laki-laki, dan untuk menampung konsep girl kita harus menambah (-laki-laki) ) (=perempuan) sehingga menjadi anak perempuan.
2. Makna Gramatikal Afiksasi
Afiksasi adalah pembubuhan afiks pada bentuk dasar. Kita banyak menemui kesalahan penggunaan afiks-afika dalam tulisan, baik bagi mereka yang hanya berpendidikan menengah maupun mereka yang berpendidikan tinggi. Dalam praktek berbahasa orang lebih umum menggynakan konstruksi, seperti naik sepeda daripada bersepeda, begitu juga konstruksi minum kopi daripada mengopi. Hal ini tentunya ada kaitan dengan masalah bahasa Indonesia secara psikologis bukan bahasa pertama bagi sebagian besar orang Indonesia. Bahasa ibu mereka adalah bahasa daerah mereka masing-masing.
Kalau sebuah bentuk dasar memiliki fitur makna yang ’’menonjol’’ lebih dari satu, maka makna gramatikal yang munculpun bisa lebih dari satu. Umpamanya kata patung memiliki fitur makna yang menonjol (a) {+hasil (pekerjaan)} dan (b) {+sifat diam (tak berbicara, tak bergerak)}, maka bila dibubuhi prefiks me- menjadi kata mematung akan memunculkan makna gramatikal (a) ’membuat patung’ (b) ’diam seperti patung’. Padahal kata menyambal hanya bermakna gramatikal ’membuat sambal’ dan kata membatu hanya bermakna gramatikal ’(keras) seperti batu’. Hal ini terjadi karena kata sambal hanya memiliki satu fitur makna yang menonjol yaitu {(+hasil) pekerjaan} dan kata batu hanya memiliki satu fitur makna yang menonjol yaitu {(+keras) seperti batu}.
Untuk mengetahui makna gramatikal makna yang diacu oleh kata mematung tampaknya tidak hanya pada tingkat morfologi, melainkan kita harus melihat pada tingkatan gramatikal yang lebih tinggi, yaitu tingkatan sintaksis. Contoh:
a). Usaha mematung hanya dilakukan penduduk desa itu.
b). Dia duduk saja mematung dalam seminar itu.
Kalimat pertama memberikan makna gramatikal ’membuat patung’, sedangkan kalimat kedua memberikan makna gramatikal ’diam seperti patung’.
3. Makna Gramatikal Reduplikasi
Reduplikasi juga merupakan satu proses gramatikal dalam pembentukan kata. Secara umum, makna gramatikal yang dimunculkannya adalah menyatakan ’pluralis’ atau ’intensitas’. Contohnya rumah direduplikasikan menjadi rumah-rumah yang bermakna gramatikal ’banyak rumah’.
Konsep bahwa reduplikasi memberikan makna ’pluralis’ atau ’intensitas’ secara psikologis telah tertanam pada nurani kebanyakan orang Indonesia, sehingga sering kali terjadi kesalahan dalam penggunaannya. Contoh : Para bapak-bapak diharap menunggu dengan tenang. Penggunaan reduplikasi di sini salah karena kata para sudah berarti jamak.
4. Makna Gramatikal Komposisi
Permasalahan makna dari segi komposisi ini biasanya muncul karena sebuah ujaran yang rancu maknanya. Misalnya lukisan yusuf. Ujaran tersebut memiliki tiga nmakna, yaitu (a) lukisan karya Yusuf, (b) luki san wajah yusuf, (c) lukisan wajah yusuf. Ketiga makna ini bisa terjadi karena kata yusuf memiliki fitur makna (+manusia), (+pemilik), (+pembuat), dan (+objek).
5. Kepolisemian
Polisemi adalah satu buah kata/ ujaran yang memiliki makna lebih dari satu (http://studycycle.blogspot.com). Setiap satu entri kata dalam kamus yang memiliki makna leksikal lebih dari satu adalah polisemi.
Contoh polisemi dalam kamus: kata “ekor” dalam KBBI online

ekor n 1 bagian tubuh binatang dsb yg paling belakang, baik berupa sambungan dr tulang punggung maupun sbg lekatan; 2 kata penggolong untuk binatang 3 sesuatu yg rupanya (keadaannya) spt ekor 4 bagian yg di belakang sekali (tt pesawat, pasukan, dsb) 5 akibat dr kejadian atau keadaan sebelumnya 6 ki orang yg harus ditanggung (diurus, dibiayai, dsb); tanggungan

Konteks wacana sangat diperlukan untuk mengetahui makna kata yang mana yang dimaksudkan oleh penulis.
Contoh:
• Ayah membeli ayam jantan seharga Rp 100.000 per ekor. (Kata “ekor” dalam kalimat tersebut berarti kata penggolong untuk binatang).
• Ibu memotong ekor ayam itu untuk menandai ayam miliknya. (Kata “ekor” dalam kalimat tersebut di atas berarti bagian tubuh binatang dan sebagainya yang paling belakang, baik berupa sambungan dari tulang punggung maupun sebagai lekatan).

D. Makna Kontekstual
Memahami makna leksikal dan gramatikal saja belum cukup untuk dapat memahami makna suatu ujaran, sebab untuk dapat memahami makna suatu ujaran harus pula diketahui konteks dari terjadinya ujaran itu, atau tempat terjadinya ujaran itu. Konteks ujaran berupa:
1. Konteks Intra Kalimat
Sudah menjadi asumsi umum bahwa makna sebuah kata tergantung pada kedudukannya di dalam kalimat, baik menurut letak posisiya di dalam kalimat maupun menurut kata lain yang berada di depan maupun belakang kata tersebut. Contoh:
a). Sungai itu dalam sekali.
b). Dalam sungai itu 20 meter.
Makna kata dalam pada kedua kalimat tersebut tentunya berbeda.
2. Konteks Antarkalimat
Banyak ujaran dalam bentuk kalimat yang baru bias dipahami maknanya berdasarkan hubungannya dengan makna-makna kalimat sebelum atau sesudahnya. Contoh:
a). Meskipun persiapan itu telah dilakukan dengan seksama, tetapi operasi itu batal dilaksanakan. Menurut keterangan tim medis hal itu terjadi karena tiba-tiba pasien mengalami komplikasi.
b). Meskipun persiapan itu telah dilakukan dengan seksama, tetapi operasi itu batal dilaksanakan. Hal itu karena rencana itu telah bocor, sehingga tak sebuah becakpun yang keluar.
Kata operasi pada paragraf pertama bermakna ‘pembedahan’, sedangkan pada paragraf kedua bermakna ‘penertiban’. Kedua makan kata operasi itu bias dipahami karena kalimat yang mengikutinya.
3. Konteks Situasi
Yang dimaksud konteks situasi adalah kapan, di mana, dan dalam suasana apa ujaran itu diucapkan. Contohnya kalimat ‘Tiga kali empat berapa?’. Bila diucapkan oleh seorang guru SD maka jawabannya adalah dua belas, tetapi bila kalimat tersebut diucapkan oleh seseorang yang ditujukan kepada tukang afdruk foto maka jawabannya bisa saja ‘seribu’ atau ‘seribu lima ratus’.
Dari contoh di atas dapat disimpulkan bahwa makna bahasa seperti yang diresepsi pendengar bukanlah semata-mata masalah intralingual belaka seperti yang disebutkan Verhaar, melainkan juga masalah ekstralingual.
E. Makna Referensial
Sebuah kata disebut memiliki makna referensial kalau ada referensinya atau acuannya. Kata-kata seperti “kuda” disebut memiliki makna referensial kalau ada acuannya atau referensinya. Kata-kata seperti “kuda”, “merah”, dan “gambar” adalah termasuk kata-kata yang memiliki makna referensial. Kata-kata seperti “dan”, “atau”, “karena” tidak bermakna referensial karena kata-kata itu tidak mempunyai referens.
Berkenaan dengan acuan ini, ada sejumlah kata yang disebut kata-kata deiktik yang acuannya tidak menetap pada satu wujud, melainkan dapat berpindah dari wujud yang satu ke wujud yang lain. Kata-kata yang deiktik ini adalah kata-kata seperti pronomina, seperti “dia”, “saya”, “kamu”, “kata-kata yang menyatakan ruang”, ‘kata-kata yang menyatakan waktu”, ‘kata-kata yang disebut kata petunjuk”. Contoh pronomina kata saya yang acuannya tidak sama:
• “Tadi pagi saya bertemu Pak Ahmad”, kata Ani kepada Ali.
• “Saya juga bertemu beliau tadi pagi”, sahut Ali.
• “Di mana kalian bertemu?”, tannya Amir. “Saya sudah lama tidak berjumpa dengan beliau”.
Pada kalimat pertama kata saya mengacu pada Ani, kalimat kedua pada Ali, dan kalimat terakhir pada Amir.
F. Ujaran Taksa
Ujaran taksa adalah ujaran yang maknanya bisa ditafsirkan bermacam-macam. Penyebab ujaran taksa antara lain:
1. Kekurangan Konteks
Kekurangan konteks merupakan penyebab utama terjadinya ujaran taksa. Contoh:
a). Minggu lalu saya bertemu paus.
b).Minggu lalu ketika saya ke pantai saya bertemu paus.
Pada kalimat pertama, makna kata paus masih rancu, bisa saja bermakna ‘ikan paus’ dan bias juga bermakna ‘nama pemimpin agama katolik’. Karena adanya penambahan konteks tempat (ketika saya ke pantai), maka makna kata paus menjadi jelas, yakni ‘ikan paus’.
Selain dengan konteks kalimat, konteks situasi jiga dapat menghilangkan ketaksaan. Misalnya jika kalimat “minggu lalu saya bertemu paus” diucapkan ketika seseorang berada di halaman Vatikan atau di kota Roma, akan menjadi jelas bahwa yang ditemui adalah Paus pemimpin teringgi agama Katolik. Jika kalimat tersebut diucapkan oleh seseorang dalam suatu pelayaran di tengah samudera, juga akan menjadikan jelas bahwa yang ditemui adalah paus, sejenis ikan besar.
2. Ketidakcermatan Struktur Gramatikal
Ketidakcermatan struktur gramatikal meliputi struktur frase, klausa, kalimat, dan wacana. Ketaksaan di sini selain karena ketidakcermatan struktur gramatikal, bisa juga terjadi pada konstruksi yang struktur gramatikalnya berterima tetapi berbagai kendali semantik telah menimbulkan ketaksaan pada konstruksi itu.
a). Struktur frase
Contoh: lukisan yusuf.
Mess dalam pembicaraannya mengenai aneksi mengatakan konstruksi di atas dapat bermakna (a) lukisan itu milik Yusuf, (b) lukisan itu karya Yusuf, (c) Lukisan itu menampilkan wajah Yusuf. Namun, Mess tidak menjelaskan mengapa konstruksi di atas bisa memiliki tiga buah kemungkinan makna. Dia hanya mengatakan karena konstruksi di atas bukan sebuah kata majemuk, melainkan sebuah aneksi.
Kalau konstruksi di atas kita analisis menurut teori komponen makna dari Nida atau Larson, kiranya penyebab ketaksaan konsytruksi di atas dapat dijelaskan. Ketaksaan tersebut bersumber pada fitur-fitur makna yang secara inhern dimiliki oleh fitur Yusuf tersebut. Leksem Yusuf sebagai unsur kedua dalam frase lukisan Yusuf memiliki fitur makna (+manusia), yang berpotensi juga untuk memiliki fitur makna (+pemilik). Karena itu, jadilah konstruksi itu memiliki makna gramatikal “milik”. Leksem Yusuf juga berpotensi memiliki fitur semantik (+pelaku). Karena itulah, konstruksi lukisan Yusuf memiliki makna gramatikal “luisan karya Yusuf”. Kita bandingkan dengan konstruksi seperti lukisan Afandi, puisi rendra, dan novel Mira W, yanng juga bermakna gramatikal “hasil, karya” karena nama Afandi dikenal sebagai pelaku pembuat lukisan, nama Mira W sebagai penulis nivel, dan Rendra sebagai penulis puisi.Selain itu, leksem Yusuf juga berpotensi memiliki fitur (+objek) atau (+sasaran). Karena itulah konstruksi lukisan Yusuf juga memiliki makna gramatikal “objek lukisan”. Kita bandingkan dengan konstruksi seperti lukisan banteng, pembangunan jalan, dan penulisan novel yang juga bermakna gramatikal “objek pembuatan”.
Jadi, dapat disimpulkan bahwa penyebab ketaksaan pad konstruksi di atas adalah fitur makna yang dimiliki secara inhern oleh leksem Yusuf.
b). Struktur kalimat
Contoh: Guru baru datang.
Kalimat tersebut menjadi taksa karena dapat ditafsirkan menjadi ’guru yang baru diangkat itu datang’ dan dapat pula diartikan ’guru itu terlambat datang (baru datang)’.Penyebabnya karena kata baru dapat ditafsirkan sebagai bagian dari frase nominal guru baru dan juga dapat ditafsirkan sebagai bagian dari frase verbal baru dating. Untuk menghilangkan ketaksaan konstruksi tersebut adalah dengan memberi penanda batas antar fungsi subjek dan fungsi predikat. Misalnya dengan menempatkan kata itu pada bagian akhir subjeknya.
c). Struktur wacana
Contoh: Ali dan Ahmad bersahabat karib. Dia sangat mencintai istrinya.
Wacana sederhana tersebut menjadi taksa karena dapat ditafsirkan bermakna ‘Ali sangat mencintai istrinya’ dan dapat pula bermakna ‘Ahmad sangat mencintai istri Ali’. Penyebabnya adalah karena penggunaan pronomina persona dia dan nya yang tidak cermat, yang bias mengacu secara anaforis pada Ali dan juga pada Ahmad. Lebih baik tetap menggunakan kata Ali atau Ahmad.
3. Kekurangan Tanda Baca
Kekurangan tanda baca dapat menyebabkan ketaksaan. Ketaksaan karena tanda baca ini tentu saja hanya terjadi pada ragam nahasa tulis karena bahasa tulis tidak memiliki intonasi.
Contoh: Buku sejarah baru.
Konstruksi tersebut menjadi taksa karena dapat ditafsirkan bermakna ‘buku itu mengenai sejarah baru’ dan dapat pula bermakna ‘buku baru itu mengenai sejarah’. Menurut pedoman EYD ketaksaan pada konstruksi tersebut akan hilang jika antara satuan-satuan leksikal yang secara semantik berdekatan diberi tanda hubung (-).Untuk menyatakan ‘buku itu mengenai sejarah baru’ maka ditulis: Buku sejarah-baru. Sedangkan untuk menyatakan ‘buku baru itu mengenai sejarah’, maka ditulis: Buku-sejarah baru.
Dengan disisipkannya tanda hubung antara kata sejarah dan kata baru, maka urutan sejarah-baru itu menjadi sebuah satuan semantik. Sebaliknya, dengan disisipkannya tanda hubung antara kata buku dan kata sejarah maka urutan buku-sejarah itu menjadi sebuah satuan semantik.












DAFTAR PUSTAKA
Abdul Chaer. 2003. Psikolinguistik Kajian Teoritik. Jakarta: PT. Rineka Cipta
Aspek Makna dalam Semantik dan Keterkaitannya dengan Jenis-jenis Makna. http://susilo.adi.setyawan.student.fkip.uns.ac.id/ (Diakses Tanggal 25 Desember 2009)
Polisemi. http://studycycle.blogspot.com. (Diakses Tanggal 25 Desember 2009)

RANCANGAN INSTRUMEN MOTIVASI BELAJAR

RANCANGAN INSTRUMEN
MOTIVASI BELAJAR
Disusun untuk Memenuhi Tugas Akhir Semester Lima
Mata Kuliah: Pengembangan Instrumen Penelitian
Dosen Pengampu : Dr. Budhi Setiawan, M.Pd.








Disusun oleh:
Ika Rahayu Susilaningsih
K1207020



PENDIDIKAN BAHASA DAN SASTRA INDONESIA
FAKULTAS KEEGURUAN DAN ILMU PENDIDIKAN
UNIVERSITAS SEBELAS MARET
SURAKARTA
2010

A. Kajian Teori
Motivasi merupakan hal yang cukup penting dalam menentukan keberhasilan seseorang. Huitt, W. (2001) dalam http://sunartombs.wordpress.com// mengatakan motivasi adalah suatu kondisi atau status internal (kadang-kadang diartikan sebagai kebutuhan, keinginan, atau hasrat) yang mengarahkan perilaku seseorang untuk aktif bertindak dalam rangka mencapai suatu tujuan. Jadi ada tiga kata kunci tentang pengertian motivasi menurut Huitt, yaitu: 1) kondisi atau status internal itu mengaktifkan dan memberi arah pada perilaku seseorang; 2) keinginan yang memberi tenaga dan mengarahkan perilaku seseorang untuk mencapai suatu tujuan; 3) Tingkat kebutuhan dan keinginan akan berpengaruh terhadap intensitas perilaku seseorang.
Sejalan dengan pendapat Huit, Crow dalam Riani (2005:42) menyatakan bahwa motivasi adalah suatu keadaan yang menyebabkan seseorang untuk melakukan suatu perbuatan atau aktivitas untuk mencapai tujuan. Tevan dan Smith dalam Riani (2005:42) juga berpendapat mengenai motivasi, menurut mereka motivasi adalah konstruksi yang mengaktifkan perilaku, sedangkan komponen yang lebih spesifik dari motivasi yang berhubungan dengan tipe perilaku tertentu disebut motif.
Motivasi yang lebih lengkap menurut Sudarwan Danim (2004 : 2) dalam http://sunartombs.wordpress.com// diartikan sebagai kekuatan, dorongan, kebutuhan, semangat, tekanan, atau mekanisme psikologis yang mendorong seseorang atau sekelompok orang untuk mencapai prestasi tertentu sesuai dengan apa yang dikehendakinya. Motivasi paling tidak memuat tiga unsur esensial, yakni : (1) faktor pendorong atau pembangkit motif, baik internal maupun eksternal, (2) tujuan yang ingin dicapai, (3) strategi yang diperlukan oleh individu atau kelompok untuk mencapai tujuan tersebut.
Motivasi adalah sesuatu yang menggerakkan dan mengarahkan tujuan seseorang dalam tindakan-tindakannya secara negatif atau positif. Motivasi merupakan sejumlah proses-proses psikologikal yang menyebabkan timbulnya, diarahkanya, dan terjadinya persistensi kegiatan- kegiatan sukarela (volunter) yang diarahkan ke tujuan tertentu, baik yang bersifat internal atau eksternal bagi seorang individu yang menyebabkan timbulnya sikap antusiasme dan persistensi.
Motivasi yang ada pada setiap orang tidaklah sama, berbeda-beda antara yang satu dengan yang lain. Untuk itu, diperlukan pengetahuan mengenai pengertian dan hakikat motivasi, serta kemampuan teknik menciptakan situasi sehingga menimbulkan motivasi/dorongan bagi mereka untuk berbuat atau berperilaku sesuai dengan apa yang dikehendaki oleh individu lain/ organisasi.
Belajar merupakan proses perubahan perilaku secara aktif, proses mereaksi terhadap semua situasi yang ada di sekitar individu, proses yang diarahkan kepada suatu tujuan, proses berbuat melalui berbagai pengalaman, proses melihat, mengamati, memahami sesuatu yang ingin dipelajari (Gino, dkk: 1998: 31).
Dari berbagai pendapat di atas dapat disimpulkan bahwa motivasi belajar adalah kesanggupan untuk melakukan kegiatan belajar karena didorong oleh keinginannya untuk memenuhi kebutuhan dari dalam dirinya ataupun yang datang dari luar. Kegiatan itu dilakukan dengan kesungguhan hati dan terus menerus dalam rangka mencapai tujuan.
Pentingnya motivasi dalam proses pembelajaran perlu dipahami oleh pendidik agar dapat melakukan berbagai bentuk tindakan atau bantuan kepada siswa. Motivasi dirumuskan sebagai dorongan, baik diakibatkan faktor dari dalam maupun luar siswa, untuk mencapai tujuan tertentu guna memenuhi / memuaskan suatu kebutuhan. Dalam konteks pembelajaran maka kebutuhan tersebut berhubungan dengan kebutuhan untuk pelajaran.
Motivasi belajar siswa dapat dianalogikan sebagai bahan bakar untuk menggerakkan mesin motivasi belajar yang memadai yang akan mendorong siswa berperilaku aktif untuk berprestasi dalam kelas.
Fungsi motivasi dalam pembelajaran diantaranya :
1. Mendorong timbulnya tingkah laku atau perbuatan, tanpa motivasi tidak akan timbul suatu perbuatan misalnya belajar.
2. Motivasi berfungsi sebagai pengarah, artinya mengarahkan perbuatan untuk mencapai tujuan yang diinginkan.
3. Motivasi berfungsi sebagai penggerak, artinya menggerakkan tingkah laku seseorang. Besar kecilnya motivasi akan menentukan cepat atau lambatnya suatu pekerjaan.
Motivasi belajar tidak akan terbentuk apabila orang tersebut tidak mempunyai keinginan, cita-cita, atau menyadari manfaat belajar bagi dirinya. Oleh karena itu, dibutuhkan pengkondisian tertentu, agar diri kita atau siapa pun juga yang menginginkan semangat untuk belajar dapat termotivasi (http://www.anneahira.com/motivasi/index.htm).

B. Definisi Konseptual
Motivasi belajar adalah kesanggupan untuk melakukan kegiatan belajar karena didorong oleh keinginannya untuk memenuhi kebutuhan dari dalam dirinya ataupun yang datang dari luar. Kegiatan itu dilakukan dengan kesungguhan hati dan terus menerus dalam rangka mencapai tujuan.

C. Definisi Operasional
Motivasi belajar adalah kesanggupan untuk melakukan kegiatan belajar karena didorong oleh keinginannya untuk memenuhi kebutuhan dari dalam dirinya ataupun yang datang dari luar. Kegiatan itu dilakukan dengan kesungguhan hati dan terus menerus dalam rangka mencapai tujuan. Motivasi belajar dapat diukur melalui perhatian siswa, relevansi, percaya diri, dan kepuasan.
D. Dimensi dan Indikator
Berdasarkan kajian teori, dimensi konseptual, dan dimensi operasional di atas, maka dimensi dan indikator-indikator yang merujuk pada motivasi belajar siswa dalam instrumen ini adalah sebagai berikut:
1. Perhatian (attention)
2. Relevansi (relevanse)
3. Percaya diri (confidence)
4. Kepuasan (satisfaction)



E. Jenis Instrumen
Instrumen yang digunakan untuk mengukur motivasi siswa yaitu angket atau kuisioner. Yaitu sejumlah pertanyaan tertulis yang digunakan untuk memperoleh informasi dari responden dalam arti laporan tentang pribadinya atau hal-hal yang ia ketahui.

F. Kisi-Kisi Instrumen Kemampuan Menulis Argumentasi
Variabel Indikator Kode Pernyataan Jumlah
Positif Negatif + - ∑
Motivasi Belajar 1. Perhatian (attention)
A1 9, 11,
17, 20, 23,
24, 28 2, 8, 12, 15, 22,
29 7 6 13
2. Relevansi (relevanse)
A2 4, 6, 18,
30 16, 26, 31, 33 4 4 8
3. Percaya diri (confidence)
A3 1, 13, 25,
35 3, 7, 19 4 3 7
4. Kepuasan (satisfaction)
A4 5, 10, 27, 32 14,21, 34 4 3 7
Jumlah Pernyataan 19 16 35


G. Instrumen Angket Motivasi Berprestasi
 Petunjuk Umum Mengerjakan
1. Kuisioner ini bertujuan untuk mengetahui seberapa besar motivasi belajar anda.
2. Pada kuisioner ini terdapat 35 pertanyaan. Berilah jawaban yang benar-benar sesuai dengan pilihan anda.
3. Bertanyalah kepada pengawas, apabila menemui kesulitan dalam memahami soal.
4. Jika Anda telah selesai mengerjakan, serahkan lembar soal dan lembar jawaban pada pengawas.
5. Waktu yang disediakan bagi Anda untuk mengerjakan kuisioner ini adalah 60 menit.
Selamat Mengerjakan......


1). Pertama kali saya melihat pembelajaran ini,saya percaya bahwa pembelajaran ini mudah bagi saya.
a. Sangat tidak setuju
b. Tidak setuju
c. Ragu-ragu
d. Setuju
e. Sangat setuju
2). Pada awal pembelajaran, ada sesuatu yang tidak menarik bagi saya.
a. Sangat tidak setuju
b. Tidak setuju
c. Ragu-ragu
d. Setuju
e. Sangat setuju
3). Materi pembelajaran ini lebih sulit dipahami daripada yang saya harapkan.
a. Sangat tidak setuju
b. Tidak setuju
c. Ragu-ragu
d. Setuju
e. Sangat setuju
4). Setelah membaca informasi pendahuluan, saya yakin bahwa saya mengetahui apa yang harus saya pelajari dari pembelajaran ini.
a. Sangat tidak setuju
b. Tidak setuju
c. Ragu-ragu
d. Setuju
e. Sangat setuju
5). Menyelesaikan tugas-tugas dalam pembelajaran ini membuat saya merasa puas terhadap hasil yang telah saya capai.
a. Sangat tidak setuju
b. Tidak setuju
c. Ragu-ragu
d. Setuju
e. Sangat setuju
6). Jelas bagi saya bagaimana hubungan materi pembelajaran ini dengan apa yang telah saya ketahui.
a. Sangat tidak setuju
b. Tidak setuju
c. Ragu-ragu
d. Setuju
e. Sangat setuju
7). Banyak halaman-halaman yang mengandung amat banyak informasi sehingga sukar bagi saya untuk mengambil ide-ide penting dan mengingatnya.
a. Sangat tidak setuju
b. Tidak setuju
c. Ragu-ragu
d. Setuju
e. Sangat setuju
8). Materi pembelajaran ini sangat membosankan.
a. Sangat tidak setuju
b. Tidak setuju
c. Ragu-ragu
d. Setuju
e. Sangat setuju
9). Terdapat cerita, gambar atau contoh yang menunjukkan kepada saya bagaimana manfaat materi pembelajaran ini bagi beberapa orang.
a. Sangat tidak setuju
b. Tidak setuju
c. Ragu-ragu
d. Setuju
e. Sangat setuju
10). Menyelesaikan pembelajaran dengan berhasil sangat penting bagi saya.
a. Sangat tidak setuju
b. Tidak setuju
c. Ragu-ragu
d. Setuju
e. Sangat setuju
11). Kualitas tulisannya membuat saya sangat menarik.
a. Sangat tidak setuju
b. Tidak setuju
c. Ragu-ragu
d. Setuju
e. Sangat setuju
12). Pembelajaran ini sangat abstrak sehingga sulit bagi saya untuk tetap mempertahankan perhatian saya.
a. Sangat tidak setuju
b. Tidak setuju
c. Ragu-ragu
d. Setuju
e. Sangat setuju

13). Selagi saya bekerja pada pembelajaran ini, saya percaya bahwa saya dapat mempelajari isinya.
a. Sangat tidak setuju
b. Tidak setuju
c. Ragu-ragu
d. Setuju
e. Sangat setuju
14). Saya tidak menyukai pembelajaran ini sehingga saya tidak ingin mengetahui lebih lanjut pokok bahasan ini.
a. Sangat tidak setuju
b. Tidak setuju
c. Ragu-ragu
d. Setuju
e. Sangat setuju
15). Halaman-halaman pembelajaran ini kering dan tidak menarik.
a. Sangat tidak setuju
b. Tidak setuju
c. Ragu-ragu
d. Setuju
e. Sangat setuju
16). Isi pembelajaran ini tidak sesuai dengan minat saya.
a. Sangat tidak setuju
b. Tidak setuju
c. Ragu-ragu
d. Setuju
e. Sangat setuju
17). Cara penyusunan informasi pada halaman-halaman membuat saya tetap mempertahankannya.
a. Sangat tidak setuju
b. Tidak setuju
c. Ragu-ragu
d. Setuju
e. Sangat setuju

18). Terdapat penjelasan dan contoh-contoh bagaimana manusia menggunakan pengetahuan dalam pembelajaran ini.
a. Sangat tidak setuju
b. Tidak setuju
c. Ragu-ragu
d. Setuju
e. Sangat setuju
19). Tugas-tugas latihan pada pembelajaran ini terlalu sulit.
a. Sangat tidak setuju
b. Tidak setuju
c. Ragu-ragu
d. Setuju
e. Sangat setuju
20). Pada pembelajaran ini ada hal-hal yang merangsang rasa ingin tahu saya.
a. Sangat tidak setuju
b. Tidak setuju
c. Ragu-ragu
d. Setuju
e. Sangat setuju
21). Saya benar-benar tidak senang mempelajari pembelajaran ini.
a. Sangat tidak setuju
b. Tidak setuju
c. Ragu-ragu
d. Setuju
e. Sangat setuju
22). Jumlah pengulangan pada pembelajaran ini kadang-kadang membosankan saya.
a. Sangat tidak setuju
b. Tidak setuju
c. Ragu-ragu
d. Setuju
e. Sangat setuju
23). Isi dan gaya tulis pada pembelajaran ini memberi kesan bahwa isinya bermanfaat untuk diketahui.
a. Sangat tidak setuju
b. Tidak setuju
c. Ragu-ragu
d. Setuju
e. Sangat setuju
24). Saya telah mempelajari sesuatu yang sangat menarik dan tak terduga sebelumnya.
a. Sangat tidak setuju
b. Tidak setuju
c. Ragu-ragu
d. Setuju
e. Sangat setuju
25). Setelah mempelajari pembelajaran ini beberapa saat, saya percaya bahwa saya akan berhasil dalam tes.
a. Sangat tidak setuju
b. Tidak setuju
c. Ragu-ragu
d. Setuju
e. Sangat setuju
26). Pembelajaran ini tidak relevan dengan kebutuhan saya sebab sebagian besar isinya tidak saya ketahui.
a. Sangat tidak setuju
b. Tidak setuju
c. Ragu-ragu
d. Setuju
e. Sangat setuju
27). Kalimat umpan balik setelah latihan, atau komentarkomentar lain pada pembelajaran ini, membuat saya merasa mendapat penghargaan bagi upaya saya.
a. Sangat tidak setuju
b. Tidak setuju
c. Ragu-ragu
d. Setuju
e. Sangat setuju
28). Keanekaragaman pada bacaan, tugas, ilustrasi dan lainlainnya memukau perhatian saya pada pembelajaran ini.
a. Sangat tidak setuju
b. Tidak setuju
c. Ragu-ragu
d. Setuju
e. Sangat setuju
29. Gaya tulisannya membosankan.
a. Sangat tidak setuju
b. Tidak setuju
c. Ragu-ragu
d. Setuju
e. Sangat setuju
30). Saya dapat menghubungkan isi pembelajaran ini dengan halhal yang telah saya lihat, saya lakukan, atau saya pikirkan di dalam kehidupan sehari-hari.
a. Sangat tidak setuju
b. Tidak setuju
c. Ragu-ragu
d. Setuju
e. Sangat setuju
31). Pada setiap halaman terdapat banyak kata yang sangat mengganggu.
a. Sangat tidak setuju
b. Tidak setuju
c. Ragu-ragu
d. Setuju
e. Sangat setuju
32). Saya merasa bahagia menyelesaikan dengan berhasil pembelajaran ini.
a. Sangat tidak setuju
b. Tidak setuju
c. Ragu-ragu
d. Setuju
e. Sangat setuju
33). Isi pembelajaran ini tidak bermanfaat bagi saya.
a. Sangat tidak setuju
b. Tidak setuju
c. Ragu-ragu
d. Setuju
e. Sangat setuju
34). Sedikitpun saya tidak memahami materi pembelajaran ini.
a. Sangat tidak setuju
b. Tidak setuju
c. Ragu-ragu
d. Setuju
e. Sangat setuju
35). Organisasi yang baik isi materi pembelajaran ini membuat saya percaya diri
a. Sangat tidak setuju
b. Tidak setuju
c. Ragu-ragu
d. Setuju
e. Sangat setuju bahwa saya akan dapat mempelajarinya.




H. Kalibrasi Instrumen
1. Validitas
Uji validitas yang digunakan untuk mengukur instrumen ini yaitu dengan rumus sebagai berikut:


2. Reabilitas
Uji reliabilitas yang digunakan untuk mengukur kereliabelan instrumen ini yaitu dengan menggunakan ά Cronbach, dengan rumus sebagai berikut:


I. Simpulan
Motivasi belajar adalah kesanggupan untuk melakukan kegiatan belajar karena didorong oleh keinginannya untuk memenuhi kebutuhan dari dalam dirinya ataupun yang datang dari luar. Kegiatan itu dilakukan dengan kesungguhan hati dan terus menerus dalam rangka mencapai tujuan. Keberhasilan seorang siswa dalam belajar juga ditentukan oleh adanya motivasi dari dalam diri siswa tersebut.











Daftar Pustaka

Djaali, Puji Mulyono. 2008. Pengukuran dalam Pendidikan. Jakarta: Grasindo

Gino,dkk. 1997. Belajar dan Pembelajaran 1. Surakarta: UNS Press

Asri Laksmi Riani. 2005. Dasar-dasar Kewirausahaan. Surakarta: UNS Press

Motivasi Belajar. http://www.anneahira.com/motivasi/index.htm. (Diakses Tanggal 25 Desember 2009)

Motivasi Belajar. http://sunartombs.wordpress.com/2008/09/23/motivasi-belajar/. (Diakses Tanggal 25 Desember 2009)





















LAMPIRAN

CIRI-CIRI MODEL PEMBELAJARAN CTL, PEMBELAJARAN TERPADU, QUANTUM, COOPERATIVE, PROBLEM BASED LEARNING DAN RPP

CIRI-CIRI MODEL PEMBELAJARAN CTL, PEMBELAJARAN TERPADU, QUANTUM, COOPERATIVE, PROBLEM BASED LEARNING DAN RPP

Disusun Untuk Memenuhi Tugas Semester Lima
Mata Kuliah Perencanaan Pengajaran Bahasa dan Sastra
Dosen Pengampu: Drs. Swandono, M. Pd







Oleh:
IKA RAHAYU SUSILANINGSIH
K1207020



PENDIDIKAN BAHASA DAN SASTRA INDONESIA
FAKULTAS KEGURUAN DAN ILMU PENDIDIKAN
UNIVERSITAS SEBELAS MARET
SURAKARTA
2009
Ciri-ciri Model Pembelajaran
A. Kontekstual atau Contextual Teaching and Learning (CTL)
Menurut Blanchard, ciri-ciri kontekstual:
1) Menekankan pada pentingnya pemecahan masalah.
2) Kegiatan belajar dilakukan dalam berbagai konteks.
3) Kegiatan belajar dipantau dan diarahkan agar siswa dapat belajar mandiri.
4) Mendorong siswa untuk belajar dengan temannya dalam kelompok atau secara mandiri.
5) Pelajaran menekankan pada konteks kehidupan siswa yang berbeda-beda.
6) Menggunakan penilaian otentik. (http://techonly13.wordpress.com/2009/08/26/pendekatan-kontekstual-atau-contextual-teaching-and-learning-ctl/)

B. Pembelajaran Terpadu
Sebagai suatu proses, pembelajaran terpadu memiliki karakteristik sebagai berikut:
1. Pembelajaran berpusat pada anak
Pembelajaran terpadu dikatakan sebagai pembelajaran yang berpusat pada anak, karena pada dasarnya pembelajaran terpadu merupakan suatu sistem pembelajaran yang memberikan keleluasaan pada siswa, baik secara individu maupun kelompok. Siswa dapat aktif mencari, menggali, dan menemukan konsep serta prinsip-prinsip dari suatu pengetahuan yang harus dikuasainya sesuai dengan perkembangannya.
2. Menekankan pembentukan pemahaman dan kebermaknaan
Pembelajaran terpadu mengkaji suatu fenomena dari berbagai macam aspek yang membentuk semacam jalinan antar skemata yang dimiliki siswa, sehingga akan berdampak pada kebermaknaan dari materi yang dipelajari siswa. Hasil yang nyata didapat dari segala konsep yang diperoleh dan keterkaitannya dengan konsep-konsep lain yang dipelajari dan mengakibatkan kegiatan belajar menjadi lebih bermakna. Hal ini diharapkan akan berakibat pada kemampuan siswa untuk dapat menerapkan perolehan belajarnya pada pemecahan masalah-masalah yang nyata dalam kehidupannya.
3. Belajar melalui pengalaman langsung
Pada pembelajaran terpadu diprogramkan untuk melibatkan siswa secara langsung pada konsep dan prinsip yang dipelajari dan memungkinkan siswa belajar dengan melakukan kegiatan secara langsung. Sehingga siswa akan memahami hasil belajarnya sesuai dengan fakta dan peristiwa yang mereka alami, bukan sekedar informasi dari gurunya Guru lebih banyak bertindak sebagai fasilitator dan katalisator yang membimbing ke arah tujuan yang ingin dicapai. Sedangkan siswa sebagai aktor pencari fakta dan informasi untuk mengembangkan pengetahuannya.
4. Lebih memperhatikan proses dari hasil semata
Pada pembelajaran terpadu dikembangkan pendekatan discovery inquiry (penemuan terbimbing) yang melibatkan siswa secara aktif dalam proses pembelajaran yaitu mulai dari perencanaan, pelaksanaan sampai proses evaluasi. Pembelajaran terpadu dilaksanakan dengan melihat hasrat, minat, dan kemampuan siswa, sehingga memungkinkan siswa termotivasi untuk belajar terus menerus.
5. Sarat dengan muatan keterkaitan
Pembelajaran terpadu memusatkan perhatian pada pengamatan dan pengkajian suatu gejala atau peristiwa dari beberapa mata pelajaran sekaligus, tidak dari sudut pandang yang terkotak-kotak. Sehingga memungkinkan siswa untuk memahami suatu fenomena pembelajaran dari segala sisi, yang pada gilirannya nanti akan membuat siswa lebih arif dan bijak dalam menyikapi atau menghadapi kejadian yang ada.
(http://warock.wordpress.com/2009/03/11/pembelajaran-terpadu/)

C. Quantum Learning
Secara garis besar pembelajaran yang menggunakan model kuantum menunjukkan ciri-ciri:
(1) Penggunaan musik dengan tujuan-tujuan tertentu;
(2) Pemanfaatan ikon-ikon sugestif yang membangkitkan semangat belajar siswa; (3) Penggunaan “stasiun-stasiun kecerdasan” untuk memudahkan siswa belajar sesuai dengan modalitas kecerdasannya;
(4) Penggunaan bahasa yang unggul;
(5) Suasana belajar yang saling memberdayakan;
(6) Penyajian materi pelajaran yang prima.
(http://kreasi-ridwan.blogspot.com/2009/06/pembelajaran-kuantum.html)

D. Cooperative Learning
Menurut Nur (2001: 3) pembelajaran yang menggunakan model cooperative learning pada umumnya memiliki ciri-ciri sebagai berikut :
1. Siswa bekerja dalam kelompok secara kooperatif untuk menuntaskan materi belajarnya.
2. Kelompok dibentukdari siswa yang memiliki kemampuan tinggi, sedang dan rendah.
3. Bilamana mungkin, anggota kelompok berasal dari ras, bangsa, suku, dan jenis kelamin yang berbeda-beda.
4. Penghargaan lebih berorientasi kepada kelompok daripada individu.
(http://blog.unila.ac.id/sinung/2009/09/17/cooperative-learning-untuk-meningkatkan-motivasi-belajar-matematika-siswa/)

E. Problem Based Learning
Ciri problem based learning antara lain:
1. Mengorientasikan siswa kepada masalah autentik
2. Berfokus pada keterkaitan antar disiplin
3. Penyelidikan autentik
4. Menghasilkan produk/karya dan memamerkannya
(akhmadsudrajat.files.wordpress.com/.../pembelajaran-kontekstual.ppt )


RENCANA PELAKSANAAN PEMBELAJARAN
(RPP)
Mata Pelajaran : Bahasa Indonesia
Kelas/Semester : VII/2
Standar Kompetensi : Menanggapi Cara Pembacaan Puisi
Kompetensi Dasar : 1. Menanggapi cara pembacaan puisi.
2. Merefleksi isi puisi yang dibacakan.
Indikator : 1. Siswa mampu mengetahui pembacaan puisi yang baik.
2. Siswa mampu menanggapi pembacaan puisi.
3. Siswa mampu merefleksi isi puisi.
Alokasi Waktu : 1 X 40 Menit

1. Tujuan Pembelajaran
Setelah mengikuti pembelajaran ini, siswa mampu:
• Mengetahui pembacaan puisi yang baik.
• Menanggapi pembacaan puisi.
• Merefleksi isi puisi.

2. Materi Pembelajaran
Puisi

3. Langkah-langkah Kegiatan Pembelajaran
a. Kegiatan awal (apersepsi)(5 Menit)
• Apersepsi dan tanya jawab mengenai puisi
b. Kegiatan Inti (25 Menit)
• Menjelaskan cara membacakan puisi dengan baik
• Menyimak pembacaan puisi yang dibacakan oleh salah seorang siswa
• Menanggapi pembacaan puisi yang dibacakan oleh salah seorang siswa
• Melakukan pembahasan mengenai isi puisi

c. Kegiatan Akhir (5 Menit)
• Menyimpulkan cara membaca puisi
• Menyimpulkan cara memahami isi puisi

4. Media dan Sumber Belajar
• Teks puisi
• Anipudin dkk. 2007. Cermat Berbahasa 1B. Solo: Tiga Serangkai.

5. Model dan Metode Pembelajaran
Model yang digunakan dalam pembelajaran ini adalah:
a. Contoh
b. Tanya-jawab
c. Latihan
d. Penugasan
Termasuk dalam metode pembelajaran kooperatif, ditandai dengan adanya interaksi intensif antara guru dan peserta didik.
6. Penilaian
a. Teknik : Tes tertulis
b. Bentuk Instrumen : Daftar pertanyaan
c. Soal/ Instrumen :
Guru memutarkan sebuah kaset rekaman yang berisi pembacaan puisi oleh seseorang.
1. Tentukan tema puisi yang kamu dengarkan tadi!
Skor nilai:
1. Jawaban benar skor 3
2. Jawaban mendekati benar skor 2
3. Jawaban kurang tepat skor 1
4. Jawaban salah skor 0


2. Apa isi puisi tersebut?
Skor nilai:
1. Jawaban benar skor 3
2. Jawaban mendekati benar skor 2
3. Jawaban kurang tepat skor 1
4. Jawaban salah skor 0

Skor maksimal = 12
Perhitungan nilai akhir dalam skala 0 s.d. 100 adalah sebagai berikut:
Perolehan Skor
Nilai akhir = ------------------------ X Skor Ideal (100) = . . .
Skor Maksimum (12)

LAPORAN KKL

LAPORAN KULIAH KERJA LAPANGAN
ANGKATAN 2007
KE JAKARTA-BANDUNG
29 SEPTEMBER – 3 OKTOBER 2009

Disusun Untuk Memenuhi Tugas Semester Lima
Mata Kuliah: Kuliah Kerja Lapangan
Dosen Pengampu: Dra. Suharyanti, M. Hum



Oleh:
IKA RAHAYU SUSILANINGSIH
K1207020




PENDIDIKAN BAHASA DAN SASTRA INDONESIA
FAKULTAS KEGURUAN DAN ILMU PENDIDIKAN
UNIVERSITAS SEBELAS MARET
SURAKARTA
2009


Kata Pengantar
Segala puji syukur penulis panjatkan kehadirat Allah SWT yang masih memberikan nikmat dan karunia-Nya sehingga penulisan laporan kuliah kerja lapangan (KKL) ini dapat diselesaikan. Tanpa nikmat dari Allah mustahil penulisan laporan ini dapat selesai. Terima kasih penulis sampaikan kepada dosen pendamping KKL yang telah mendampingi kami, sehingga pelaksanaan KKL dapat berjalan lancar.
Belajar tidak harus dilaksanakan di dalam kelas dan belajar bukanlah hanya sekadar transfer ilmu dari guru kepada mahasiswa, tetapi yang terpenting adalah membentuk kepahaman. Selama ini belajar umumnya hanya dilakukan di dalam kelas, padahal belajar dari pengalaman merupakan cara yang paling efekif untuk mengkonstruksi pemahaman mahasiswa. Kuliah kerja lapangan (KKL) merupakan salah satu cara untuk membentuk kepahaman mahasiswa. Dengan terjun ke lapangan langsung mahasiswa dapat menyerap dan menerapkan ilmu yang telah diperoleh.
Penulis menyadari bahwa laporan kuliah kerja lapangan (KKL) ini masih jauh dari sempurna. Untuk itu segala bentuk kritik dan saran yang membangun selalu penulis harapkan. Semoga laporan ini dapat memberikan manfaat bagi masyarakat pendidikan umumnya dan bagi penulis khususnya.






Surakarta, 20 November 2009


Penulis


Daftar Isi


Halaman judul…………………………………………………………………….i
Kata Pengantar……………………………………………….…………………..ii
Daftar Isi……………………………………………………….………………...iii
BAB I PENDAHULUAN
A. Latar Belakang Masalah ………………………………………………………1
B. Tujuan Penulisan ................................................................................................1
BAB II DESKRIPSI KUNJUNGAN
A. Waktu dan tempat kunjungan............................................................................2
B. Peserta
BAB III DESKRIPSI HASIL KUNJUNGAN
1. Pusat Bahasa.......................................................................................................4
2. Suara Pembaharuan ...........................................................................................6
3. Taman Impian Jaya Ancol..................................................................................7
4. Arsip Nasional....................................................................................................9
5. Pusat Dokumentasi Sastra HB. Jassin..............................................................10
6. Trans7................................................................................................................11
7. FPBS UPI..........................................................................................................13
8. Cihampelas........................................................................................................17
9. Cibaduyut..........................................................................................................18
BAB IV PENUTUP
A. Simpulan............................................................................................................20
B. Saran..................................................................................................................20
Lampiran


















BAB I
PENDAHULUAN

A. Latar Belakang Masalah
Pendidikan merupakan salah satu cara untuk mengembangkan sumber daya manusia di Indonesia. Pendidikan bisa ditempuh baik lewat jalur formal, nonformal, dan informal. Mahasiswa merupakan salah satu peserta belajar dalam sebuah pendidikan di perguruan tinggi. Proses belajar bukan hanya sekedar transfer ilmu dari dosen untuk mahasiswa. Pada umumnya proses belajar mengajar di Indonesia masih dilakukan di dalam kelas, tatap muka antara guru dengan murid ataupun dosen dengan mahasiswanya. Padahal dari proses belajar mengajar yang terpenting adalah kepahaman mahasiswa. Belajar dari pengalaman merupakan cara yang efektif untuk membentuk kepahaman siswa. Metode ini sering disebut dengan Conextual Teaching and Learning (CTL).
Contextual Teaching and Learning adalah suatu strategi pembelajaran yang menerapkan teori ke dalam kehidupan atau pengalamaan nyata.. Dengan adanya kuliah kerja lapangan (KKL) mahasiswa dapat mengkontruksi kepahaman mereka dengan menghubungkan materi yang pernah diperoleh di kelas dengan kondisi di lapangan, menerapkan apa yang telah diperoleh, serta menambah informasi yang mereka jumpai di lapangan.

B. Tujuan Penulisan
Adapun tujuan dari kuliah kerja lapangan ini adalah sebagai berikut:
1. Mendorong siswa agar dapat merapkan ilmu yang telah diperoleh dalam kehidupan nyata
2. Mahasiswa mengetahui kompetensi yang diperlukan agar dapat bersaing dalam dunia kerja.
3. Memberikan praktik lapangan kepada para mahasiswa.
4. Memberikan pengetahuan kepada para mahasiswa mengenai bidang-bidang profesi yang dapat diterjuninya kelak.
5. Membuka cakrawala baru tentang berbagai kompetensi yang diperl
BAB II
DESKRIPSI KUNJUNGAN

A. WAKTU DAN TEMPAT KUNJUNGAN
Kuliah kerja lapangan (KKL) dilaksanakan selama 5 hari, yaitu tanggal 29 September sampai 3 Oktober 2009 . Adapun rincian jadwalnya adalah sebagai berikut:

No Kegiatan Tempat Hari/Tgl Jam
1 Pemberangkatan UNS Selasa, 29 September 2009 16.00 WIB
2 Kunjungan ke Pusat Bahasa Pusat Bahasa Rabu, 30 September 2009 09.00 – 11.30 WIB
3 Kunjungan ke Suara Pembaharuan Suara Pembaharuan Rabu, 30 September 2009 14.00 – 15.30 WIB
4 Wisata ke Ancol Ancol Rabu, 30 September 2009 16.30 – 20.00 WIB
5 Kunjungan ke ANRI ANRI Kamis, 1 Oktober 2009 09.00 – 11.00 WIB
6 Kunjungan ke HB. Jassin HB. JASSIN Kamis, 1 Oktober 2009 13.30 – 15.00 WIB
7 Kunjungan ke Trans 7 Trans 7 Kamis, 1 Oktober 2009 16.00 – 18.30 WIB
8 Kunjungan ke UPI UPI Jumat, 2 Oktober 2009 09.00 – 11.00 WIB
9 Wisata Belanja Cihampelas Cihampelas Jumat, 2 Oktober 2009 14.00 – 15.30 WIB
10 Wisata Belanja Cibaduyut Cibaduyut Jumat, 2 Oktober 2009 17.00 – 19.00 WIB


B. PESERTA
Peserta adalah mahasiswa fakultas keguruan dan ilmu pendidikan program studi Bahasa Sastra Indonesia dan Daerah semester lima. Jumlah peserta sebanyak 65 orang beserta dua dosen pembimbing.



























BAB III
DESKRIPSI HASIL KUNJUNGAN

1. Pusat Bahasa
Pusat Bahasa berawal dengan terbentuknya Instituut voor Taal en Cultuur Onderzoek (ITCO) yang merupakan bagian dari Universitas Indonesia pada tahun 1947 dan dipimpin oleh Prof. Dr. Gerrit Jan Held. Sementara itu, pada Maret 1948 pemerintah Republik Indonesia membentuk lembaga bernama Balai Bahasa di bawah Jawatan Kebudayaan, Kementerian Pendidikan, Pengajaran, dan Kebudayaan.
Pada tahun 1952, Balai Bahasa dimasukkan ke lingkungan Fakultas Sastra Universitas Indonesia dan digabung dengan ITCO menjadi Lembaga Bahasa dan Budaya. Selanjutnya, mulai 1 Juni 1959 lembaga ini diubah menjadi Lembaga Bahasa dan Kesusastraan, dan menjadi bagian Departemen Pendidikan, Pengajaran, dan Kebudayaan.
Pada tanggal 3 November 1966 lembaga ini berganti nama menjadi Direktorat Bahasa dan Kesusastraan yang berada di bawah Direktorat Jenderal Kebudayaan, Departemen Pendidikan dan Kebudayaan. Sejak 27 Mei 1969 lembaga itu kembali berubah nama menjadi Lembaga Bahasa Nasional dan secara struktural berada di bawah Direktorat Jenderal Kebudayaan.
Pada 1 April 1975 Lembaga Bahasa Nasional berganti nama menjadi Pusat Pembinaan dan Pengembangan Bahasa. Lembaga yang kerap disingkat dengan nama Pusat Bahasa ini, secara berturut-turut dipimpin oleh Prof. Dr. Amran Halim, Prof. Dr. Anton M. Moeliono, Drs. Lukman Ali, Dr. Hasan Alwi, dan Dr. Dendy Sugono.
Kemudian berdasarkan Keppres tahun 2000, Pusat Pembinaan dan Pengembangan Bahasa berubah nama menjadi Pusat Bahasa. Lembaga ini berada di bawah naungan Sekretariat Jenderal Departemen Pendidikan Nasional.
Saat ini, Pusat Bahasa memiliki unit pelaksana teknis (UPT), dengan nama Balai Bahasa/Kantor Bahasa, di dua puluh dua provinsi di Indonesia yaitu:
• Balai Bahasa Aceh
• Balai Bahasa Medan
• Balai Bahasa Padang
• Balai Bahasa Pekanbaru
• Kantor Bahasa Jambi
• Balai Bahasa Palembang
• Kantor Bahasa Lampung
• Balai Bahasa Bandung
• Balai Bahasa Semarang
• Balai Bahasa Surabaya
• Balai Bahasa Yogyakarta
• Balai Bahasa Bali
• Balai Bahasa Papua
• Balai Bahasa Makassar
• Balai Bahasa Provinsi Kalimantan Barat
• Kantor Bahasa Provinsi Kalimantan Timur
• Balai Bahasa Banjarmasin
• Balai Bahasa Provinsi Kalimantan Tengah
• Balai Bahasa Provinsi Sulawesi Tengah
• Balai Bahasa Provinsi Sulawesi Utara
• Kantor Bahasa Nusa Tenggara Barat
• Kantor Bahasa Provinsi Sulawesi Tenggara
Aktivitas terakhir yang dilakukan oleh Pusat Bahasa antara lain:
• Konsensus antara ahli bahasa dan Forum Bahasa Media Massa yang diadakan sebulan sekali menyepakati peluruhan seluruh kata yang diawali dengan huruf k -p - t- s bila diberi awalan kata me-. Contoh, me + proses menjadi memroses dan bukan memproses.
• Revisi KBBI (Kamus Besar Bahasa Indonesia) akan diperkenalkan pada kongres bahasa tahun 2008. Revisi ini akan memuat leksikon bahasa daerah yang konsepnya tidak ada dalam bahasa Indonesia, seperti kata ngaben di Bali. Inventarisasi sedang dilakukan di seluruh wilayah Indonesia.
• Penerbitan kamus istilah, yaitu kamus khusus untuk bidang ilmu dasar, antara lain (fisika, kimia, matematika, dan biologi); ilmu terapan (kedokteran, filsafat, hukum, bahasa, sastra, komunikasi massa, pendidikan, agama, dan lain-lain). Kamus istilah ini adalah kerja sama antara Pusat Bahasa, pakar bidang ilmu, dan Majelis Bahasa Brunei Darussalam-Indonesia-Malaysia (MABBIM)
• Penyusunan tesaurus Indonesia sebagai sumber padanan kata.
• Pengembangan uji kemahiran berbahasa atau proficiency test yang disebut dengan UKBI (Uji Kemahiran Berbahasa Indonesia) dan mengembangkan bahan ajar BIPA (Bahasa Indonesia untuk Penutur Asing).
• Pembuatan Rancangan Undang-Undang Bahasa yang akan mendudukkan tiga jenis bahasa di Indonesia, yaitu bahasa daerah sebagai bahasa ibu, bahasa Indonesia sebagai bahasa nasional, dan bahasa asing sebagai bahasa sumber ilmu pengetahuan. Kedudukan tiga bahasa ini akan diperjelas melalui undang-undang dan dilindungi pemakaiannya sehingga tidak saling menerjang dan mengalahkan yang lain.

2. Suara Pembaharuan
Suara Pembaruan pertama kali terbit pada tanggal 27 April 1961 dengan nama Sinar Harapan yang dikelola oleh PT. Sinar Kasih. Pada tahun 1986, dunia surat kabar Indonesia terguncang, ketika harian umum ini dicabut izin terbitnyanya oleh pemerintah Orde Baru. Namun HG Rorimpandey selaku pemimpin umum , terus mencari cara untuk bisa kembali menerbitkan Sinar Harapan. Akhirnya pada tanggal 4 Februari 1987 setelah melalui negosiasi panjang dengan pihak pemerintah, pengelola diizinkan kembali menerbitkan koran dengan nama baru yaitu Suara Pembaruan dengan nama penerbit baru yakni PT. Media Interaksi Utama dan tentunya susunan personalia redaksi yang juga baru. Koran baru ini memiliki konsep yang tidak jauh berbeda dengan koran sebelumnya termasuk logo dan rubrikasinya.
Setelah era reformasi, beberapa pihak di internal Suara Pembaruan keluar dan menerbitkan kembali Sinar Harapan , sehingga saat ini kedua koran ini yang pada dasarnya dari akar yang sama bersaing di pasar koran sore. Suara Pembaruan sendiri terbit setiap hari dengan edisi Minggu nya sudah diedarkan di pasar berbarengan dengan edisi Sabtu sore. Tidak seperti edisi hariannya yang penuh dengan berita berat seperti politik, ekonomi, hukum dan lain-lain, edisi Minggu Suara Pembaruan bercorak lebih santai dan soft. Beritanya dikemas lebih ringan untuk menemani akhir pekan para pembacanya. Sejak tahun 2006, Suara Pembaruan memiliki kemitraan strategis dengan Globe Media Group, sebuah grup penerbit yang mengelola beberapa media cetak diantaranya koran bisnis Investor Daily, Majalah Investor, majalah Globe Asia, dan koran berbahasa Inggris The Jakarta Globe. Seperti halnya koran-koran mainstream pada umumnya, Suara Pembaruan terbit dalam versi cetak, versi online (www.suarapembaruan.com) dan versi e-paper (epaper.suarapembaruan.com).
Peredaran Suara Pembaruan meliputi sekitar 85% di Jabodetabek dan 15% di kota-kota lain di Indonesia. Banyak kalangan menilai Suara Pembaruan adalah koran sore terbesar di Indonesia. Menurut Nielsen Media Research, profil pembaca Suara Pembaruan adalah pria (67%), usia 30-39 tahun (51%), usia 20-29 tahun (38%), SES A1, A2 (40%), white collar (56%), blue collar (25%), pendidikan SLTA (58%) dan universitas (25%).

3. Taman Impian Jaya Ancol
Taman Impian Jaya Ancol merupakan sebuah objek wisata di Jakarta Utara. Sebagai kawasan wisata, Taman Impian Jaya Ancol ternyata sudah berdiri sejak abad ke-17. Waktu itu, Gubernur Jenderal Hindia Belanda, Adriaan Valckenier, memiliki rumah peristirahatan sangat indah di tepi pantai. Seiring perjalanan waktu, kawasan itu kemudian berkembang menjadi tempat wisata.
Sayangnya, ketika Perang Dunia II meletus disusul perang kemerdekaan, Ancol terlupakan. Sungai Ciliwung secara leluasa menumpahkan air dan lumpurnya ke sana sehingga mengubah kawasan tersebut menjadi kotor, kumuh, dan berlumpur. Kawasan yang semula cantik, berubah menjadi menyeramkan bagaikan 'tempat jin buang anak'.
Lalu, muncul usulan agar kawasan itu difungsikan menjadi daerah industri. Namun, usul itu ditolak mentah-mentah oleh Presiden Soekarno. Malah, Bung Karno ingin membangun kawasan itu sebagai daerah wisata. Lewat Keputusan Presiden pada akhir Desember 1965, Bung Karno memerintahkan kepada Gubernur DKI Jaya waktu itu, dr. Soemarno, sebagai pelaksana pembangunan proyek Taman Impian Jaya Ancol. Proyek pembangunan ini baru terlaksana di bawah pimpinan Ali Sadikin yang ketika itu menjadi Gubernur Jakarta. Pembangunan Ancol dilaksanakan oleh PD Pembangunan Jaya di bawah pimpinan Ir. Ciputra.
Kekhasan Taman Impian Jaya Ancol di awal-awal berdirinya ditandai dengan dibangunnya Teater Mobil pada tahun 1970. Sarana rekreasi berikut yang dibangun makin mempopulerkan keberadaan Taman Impian Jaya Ancol, tidak saja di kalangan masyarakat ibu kota, tetapi juga seluruh Indonesia.
Pembangunan berbagai proyek terus berlanjut hingga kini. Pedagang kaki lima ditata, hotel dibangun, lapangan golf, dan beragam permainan dihadirkan. Hal itu berarti sarana rekreasi dan hiburan di Taman Impian Jaya Ancol akan semakin lengkap. Pada tahun-tahun berikutnya, pengadaan sarana rekreasi dan hiburan diarahkan pada sarana hiburan berteknologi tinggi. Hal itu telah dimulai dengan dibangunnya kawasan Taman Impian "Dunia Fantasi" tahap I pada tahun 1985.
Kini, Taman Impian Jaya Ancol yang berdiri pada lahan seluas 552 hektar, telah menjadi tempat wisata dan rekreasi permainan terbesar dan terlengkap di Indonesia. Saat ini, mayoritas sahamnya dikuasai oleh Pemda DKI Jakarta.
Objek wisata di Ancol antara lain:
• Dunia Fantasi
• Gelanggang Samudra
• Atlantis Water Adventure - gelanggang renang terbesar di Ancol. Banyak fasilitas permainan seperti seluncur dengan ketinggian kurang lebih 15-20m. Di salah satu bagiannya, ada sebuah kolam yang pada saat-saat tertentu membuat gelombang besar sehingga semua orang di dalam kolam tersebut terasa seperti ada di laut
• Pasar Seni
• Seaworld Indonesia
• Marina
• Pantai Carnaval
• Pantai Festival
• Taman Pantai
• Hailai Mercure
• Padang Golf Ancol
• Kereta Gantung Gondola
• Ice World
• Pulau Bidadari

4. Arsip Nasional
Arsip merupakan memori kolektif bangsa, karena melalui arsip dapat tergambar perjalanan sejarah bangsa dari masa ke masa. Memori kolektif tersebut adalah juga identitas dan harkat sebuah bangsa. Kesadaran akademis yang dilandasi oleh beban moral untuk menyelamatkan arsip sebagai bukti pertanggung-jawaban nasional sekaligus sebagai warisan budaya bangsa, dapat menghindari hilangnya informasi sejarah perjalanan sebuah bangsa serta harkat sebagai bangsa yang berbudaya.
Sadar akan hal tersebut, Pemerintah melalui Undang-undang Nomor 7 tahun 1971 tentang Ketentuan-ketentuan Pokok Kearsipan membentuk Arsip Nasional Republik Indonesia (ANRI) sebagai inti organisasi Lembaga Kearsipan Nasional yang mempunyai tanggung jawab terwujudnya Tujuan Kearsipan Nasional, yakni menjamin keselamatan bahan pertanggungjawaban nasional tentang perencanaan, pelaksanaan dan penyelenggaraan kehidupan kebangsaan serta untuk menyediakan bahan pertanggungjawaban tersebut bagi kegiatan Pemerintah.
Visi yang dimiliki oleh ANRI yaitu “Menjadikan arsip sebagai simpul pemersatu bangsa”. Sedangkan misi ANRI yaitu:
1. Memberdayakan arsip sebagai tulang punggung manajemen pemerintahan dan pembangunan;
2. Memberdayakan arsip sebagai bukti akuntabilitas kinerja aparatur;
3. Memberdayakan arsip sebagai alat bukti sah di pengadilan;
4. Melestarikan arsip sebagai memori kolektif dan jati diri bangsa serta bahan bukti pertanggungjawaban nasional;
5. Menyediakan arsip dan memberikan akses kepada publik untuk kepentingan pemerintahan dan kemasyarakatan demi kemaslahatan bangsa.
Arsip Nasional Republik Indonesia (ANRI) adalah Lembaga Pemerintah Non Departemen (LPND) yang berkedudukan di bawah dan bertanggungjawab kepada Presiden. ANRI memiliki banyak fungsi, antara lain:
1. Pengkajian dan penyusunan kebijakan nasional di bidang kearsipan;
2. Koordinasi kegiatan fungsional dalam pelaksanaan tugas lembaga;
3. Fasilitasi dan pembinaan terhadap kegiatan instansi pemerintah di bidang kearsipan;
4. Penyelenggaraan pembinaan dan pelayanan administrasi umum di bidang perencanaan umum, ketatausahaan, organisasi dan tata laksana, kepegawaian, keuangan, kearsipan, hukum, persandian, perlengkapan dan rumah tangga.

5. Pusat Dokumentasi Sastra HB. Jassin
Pusat Dokumentasi Sastra (PDS) H.B Jassin merupakan suatu lembaga nirlaba yang salah satu tugasnya adalah mendokumentasikan hasil cipta sastra bangsa Indonesia.
PDS H.B Jassin berlokasi di dalam Taman Ismail Marzuki (TIM), berada di lantai dua sebuah gedung yang terletak di belakang Planetarium. Setiap harinya PDS H.B Jassin dikunjungi sekitar 30 orang, yang sebagian besar adalah pelajar SMA, selain mahasiswa yang sedang menyelesaikan skripsi atau peneliti sastra Indonesia dari dalam dan luar negeri.
Pusat Dokumentasi Sastra H.B. Jassin ini dimulai sebagai dokumentasi pribadi H.B. Jassin, sang tokoh sastra yang dijuluki sebagai Paus Sastra Indonesia. Jassin menggeluti pendokumentasian sastra ini dengan dana dan tenaga yang serba terbatas sejak ia mengembangkan minatnya akan dunia sastra dan pustaka pada tahun 1930-an, ketika usianya belum lagi 30 tahun.
Dokumentasinya ini menggugah perhatian Gubernur DKI Jakarta Ali Sadikin yang akhirnya turun tangan untuk ikut memelihara kelestariannya agar dapat dinikmati oleh generasi yang akan datang. Karena itulah Ali Sadikin kemudian memberikan tempat kepada H.B. Jassin di salah satu gedung yang terdapat di Taman Ismail Marzuki sebagai lokasi Pusat Dokumentasi ini.
Yayasan Dokumentasi Sastra H.B. Jassin didirikan pada 28 Juni 1976. Sejak tahun anggaran 1977/1978, Pemerintah Daerah DKI Jakarta memberikan subsidi kepada yayasan ini yang kemudian berganti nama menjadi Pusat Dokumentasi Sastra. Sementara itu, Pusat Pembinaan dan Pengembangan Bahasa Departemen Pendidikan dan Kebudayaan juga ikut mendukung pembiayaan lembaga ini tahun anggaran l983/l984. Ada pula sumbangan-sumbangan lain dari para donatur tidak tetap.
Pada Mei 2006, pusat dokumentasi ini mempunyai koleksi sebanyak 48.876 dalam bentuk buku-buku fiksi, non-fiksi, naskah drama, biografi dan foto-foto pengarang, kliping, makalah, skripsi, disertasi, rekaman suara, dan rekaman video. Di sini disimpan pula sejumlah surat pribadi dari berbagai kalangan seniman dan sastrawan, seperti Nh. Dini, Ayip Rosidi dan Iwan Simatupang.
PDS H.B. Jassin memberikan pelayanan kepada para pengunjung perpustakaan dan siapa saja yang ingin mencari informasi yang terkait dengan dunia sastra, baik para guru, mahasiswa, sastrawan, di luar Jakarta yang sedang mengerjakan skripsi ataupun disertasi. Pusat dokumentasi ini juga menyediakan fasilitas ruang bacaan dan fasilitas fotokopi.

6. Trans 7
Trans7 berdiri dengan ijin dari Dinas Perdagangan dan Perindustrian Jakarta Pusat dengan Nomor 809/BH.09.05/III/2000 dengan nama TV7 yang sahamnya sebagian besar dimiliki oleh Kelompok Kompas Gramedia (KKG). Pada tanggal 22 Maret 2000 keberadaan TV7 telah diumumkan dalam Berita Negara Nomor 8687 sebagai PT Duta Visual Nusantara Tivi Tujuh. Pada 4 Agustus 2006, Para Group melalui PT Trans Corpora resmi membeli 49% saham PT Duta Visual Nusantara Tivi 7. Dengan dilakukannya re-launch pada tanggal 15 Desember 2006, tanggal ini ditetapkan sebagai hari lahirnya Trans7. Direktur Utama Trans7 saat ini adalah Atiek Nur Wahyuni.
Acara yang ditayangkan oleh trans 7 antara lain:
• Empat Mata
• Cipika-cipiki
• Pernik
• Kena Deh
• Cilapop
• Dreamband
• Rekor Muri
• Selamat Pagi
• Jejak Petualang
• Si Bolang
• Petualangan Bahari
• I-Gossip International
• Infotainment Pagi
• Infotainment Siang
• Ensiklomedi
• Seru!!
• Laptop Si Unyil
• Theatre 7
• Siaga Satu
• Kisah Selebriti
• Soccer Boys
• Liga Italia Serie A
• TKP
• Redaksi
• Kolak
• Empat Mata Sahur
• Tom and Jerry
• Scooby Scooby-Doo
• Camp Lazlo
• Opera Van Java
Penyiar trans 7 antara lain:
• Hadijah Aljufri
• Lolo Siregar
• Angky Prita
• Taufik Imansyah
• Mira Khairunnisa
• Alfian Rahardjo
• Nina Melinda
• Anggita Suryo
• Zweta Manggarani
• Riyanni Djangkaru
• Medina Kamil
• Lelly Hermawan
7. FPBS UPI
Fakultas Pendidikan Bahasa dan Seni Universitas Pendidikan Indonesia terletak di Bandung. Di tempat ini kami melakukan study banding antara program studi Bahasa dan Sastra Indonesia UPI dengan program studi Bahasa dan Sastra Indonesia UNS. Ternyata ada satu perbedaan yang sangat mencolok. Meskipun berlabelkan pendidikan, ternyata dalam kenyataanya tidaklah demikian. Untuk program studi Bahasa dan Sastra Indonesia sendiri tiap angkatan terdiri dari satu kelas kependidikan dan satu kelas non kependidikan. Kelas non kependidikan ini sama halnya dengan program studi Sastra Indonesia di Fakultas Sastra dan Seni Rupa Uns.
Fakultas Pendidikan Bahasa dan Seni UPI mempunyai mahasiswa dengan jumlah yang relatif banyak dan berasal dari berbagai daerah. Sebagian besar mahasiswa berasal dari Propinsi Jawa Barat dan selebihnya dari luar Jawa Barat.
Mahasiswa FPBS yang terdaftar pada tahun akademik 2005/2006 berjumlah 3.742 orang dengan rasio 33 % (1.224 orang) laki-laki dan 67% (2.518 orang)) perempuan. Jika dilihat dari jalur pendidikan, jumlah mahasiswa FPBS terdiri atas Program Kependidikan sebanyak 3.966 orang dan Program non Kependidkan sebanyak 776 orang.
Beberapa program studi mempunyai mahasiswa asing, di antaranya berasal dari Amerika, Kanada, Belanda, Australia, Jepang, Korea, Thailand, Finlandia, Malaysia, dan negara asing lainnya.
Untuk menjalin kerja sama dan silaturahmi antara para orang tua mahasiswa dengan lembaga serta untuk menumbuhkan peran masyarakat, maka dibentuklah POMA (Persatuan Orang Tua Mahasiswa) komisariat FPBS.
Keberadaan POMA Komisariat FPBS bertujuan membina dan memelihara hubungan yang harmonis antara POMA dengan pimpinan Fakultas/Jurusan serta menghimpun daya maupun dana untuk menunjang kelancaran pembelajaran mahasiswa.
Pada saat ini FPBS memiliki 224 orang dosen, terdiri atas 38 Doktor yang di antaranya 10 orang berjabatan akademik Guru Besar, 140 orang Master/Magister dan sisanya masih berpendidikan sarjana. Pada akhir tahun 2008 tercatat sebanyak 46 orang dosen sedang menempuh pendidikan S2 dan sebanyak 23 orang sedang menempuh program S3. Selain itu staf dosen pada beberapa jurusan diperkuat dengan tenaga pengajar asing yang memiliki keahlian khusus dan pengalaman di bidangnya, serta memiliki nama besar baik di tingkat nasional maupun internasional.
Kegiatan yang dilakukan oleh mahasiswa pada setiap jurusan/program di lingkungan FPBS UPI diorganisasikan oleh Himpunan Mahasiswa Jurusan dan Badan Eksekutif Mahasiswa bersama dengan Majelis Permusyawaratan Mahasiswa (MPM) dan dibantu oleh pimpinan jurusan dan fakultas. Kegiatan yang dilakukan mahasiswa diklasifikasikan ke dalam lima bidang berikut ini :
a. Penalaran
Kegiatan ini bertujuan meningkatkan kemampuan nalar mahasiswa, terutama yang berkaitan dengan bahasa, sastra, dan seni. Di antara kegiatan yang termasuk ke dalam bidang ini di antaranya adalah:
o Lomba Karya Tulis Mahasiswa (LKTM), Lomba Karya Ilmiah Produktif (LKIP), Program Kreativitas Mahasiswa (PKM), Presentasi Pemikiran Kritis Mahasiswa (PPKM), Pekan Ilmiah Mahasiswa Tingkat Nasional (PIMNAS). Dalam bidang ini tim FPBS berkali-kali mewakili UPI di tingkat nasional dan berhasil meraih predikat juara;
o Seminar, diskusi, dan ceramah;
o Latihan Dasar Kepemimpinan Mahasiswa dan Latihan Kepemimpinan Manajemen Mahasiswa;
o Pameran, festival, baca puisi, pentas seni dan sastra;
o Studi banding;
o Cerdas cermat, speech contest, ceramah keagamaan dan English Debate.
b. Pengembangan Bakat dan Minat
Kegiatan ini bertujuan menciptakan lingkungan dan kesempatan bagi mahasiswa untuk menyalurkan dan mengembangkan bakat dan minat mahasiswa secara optimal. Di antara kegiatan itu adalah:
o Paduan suara, kelompok seni musik, Tari dan Drama, Bazaar Seni Rupa dan Kerajinan, Conversation Club;
o Pekan Olah Raga dan Kesenian antar jurusan; dan
o Pendukung utama Tim KABUMI UPI.
o Mahasiswa Pencinta Alam (MAPAD).
c. Peningkatan Kesejahteraan Mahasiswa
FPBS UPI senantiasa berupaya meningkatkan kesejahteraan mahasiswa melalui penyediaan sarana berikut ini.
o Koperasi mahasiswa
o Beasiswa/bantuan yang tersedia bagi mahasiswa :
o Prestasi bidang olahraga
o BPPB
o Supersemar
o Bantuan Pend. Mahasiswa
o Gudang Garam
o Beasiswa Mahasiswa SPMB
o PPA
o Bantuan Belajar Mahasiswa
o Toyota Astra
o Sasakawa
o Yayasan Merubeni
o Bank Indonesia
o Dompet Dhuafa Republika
o Beasiswa Kerja Mahasiswa
o PT Djarum
o PT Pindad
o Yayasan Salim
o Dana santunan sakit bagi mahasiswa;.
o Asuransi Jiwa Bersama
d. Pengabdian kepada Masyarakat
Kegiatan pengabdian kepada masyarakat sebagai upaya membina, menumbuhkan, dan memperkuat kesadaran mahasiswa akan pentingnya penerapan ilmu dan keterampilan yang dimilikinya dalam bidang bahasa, sastra, seni, dan kegiatan sosial lainnya bagi kepentingan masyarakat, diwujudkan dalam berbagai bentuk, di antaranya:
o Latihan vocal group bagi Karang Taruna dan warga RT RW,
o Kursus Bahasa Arab dan bahasa Inggris bagi masyarakat
o Ceramah-ceramah keagamaan di mesjid-mesjid di sekitar kampus
o Pembinaan/bimbingan kerajinan bagi masyarakat.
o Menyelenggarakan sunatan masal.
o Menyelenggarakan kegiatan amal sebagai bantuan bagi masyarakat.
e. Pembinaan Disiplin
Pembinaan disiplin mahasiswa sebagai upaya peningkatan kesadaran akan hak dan kewajibannya, baik sebagai mahasiswa maupun sebagai anggota masyarakat, dilakukan melalui pembinaan peran dan partisipasi mereka dalam kegiatan kampus, Unit Kegiatan Mahasiswa, kegiatan organisasi mahasiswa HIMA, BEM, dan MPM sesuai dengan lingkup organisasinya.


8. Cihampelas
Kota Bandung sangat identik dengan Kawasan Cihampelas. Berdasarkan legenda, sebutan Cihampelas berasal dari nama kolam pemandian yang terletak di sisi jalan kecil Cihampelas, yaitu Jalan Taman Hewan. Kata Cihampelas konon berasal dari nama pohon Hampelas yang pada saat pembuatan kolam tahun 1904 banyak tumbuh di sekitar kolam.
Pencitraan Cihampelas sebagai pusat perbelanjaan busana mulai berlangsung sejak 28 tahun lalu. Pada tahun 1980, Kawasan pertokoan Cihampelas terkenal dengan produk khasnya , yaitu pakaian berbahan kain denim atau sering disebut jeans.
Kekhasan Cihampelas dengan jeans mulai melegenda bersamaan dengan ramainya Kawasan Cibaduyut sebagai sentra produksi sepatu. Kekhususan dua tempat ini dengan produknya jeans dan sepatu menjadikan sejumlah wisatawan kurang merasa afdol jika belum bertandang.
Seiring berkembangnya sejumlah factory outlet atau FO pada tahun 2000 yang banyak menawarkan pakaian jadi sisa ekspor, kawasan pertokoan Cihampelas ikut menghanyutkan diri dengan menamai diri menjadi FO. Waktu itu, keramaian jalanan Cihampelas sempat terpecah karena banyaknya FO yang bertebaran di penjuru Kota Bandung.
Setelah FO bermunculan, pertokoan Cihampelas mulai beralih dari fokus pakaian jeans ke jenis pakaian lain, entah celana, jaket, kemeja, topi, hingga tas.
Untuk mendongkrak minat pengunjung, PT korek Api Guna Mandiri yang mengelola 16 buah toko di sepanjang Jalan Cihampelas memilih trik menempelkan nama-nama tokoh komik legendaris. Personifikasi tokoh-tokoh komik legendaris luar negeri tersebut bahkan diekspose secara berlebih dalam bentuk patung-patung raksasa, entah itu Batman, Superman, Spiderman, Tarzan, Cat Woman hingga yang terbaru Ironman.
Menangkap prospek bisnis di Kawasan Cihampelas, Tahun 2004, PT Karya Abadi Samarga akhirnya membangun mal berciri open air concept dengan nama Cihampelas Walk atau Ciwalk. Pusat perbelanjaan yang dibangun di atas bekas pabrik daging PT Mantrus pada era penjajahan Belanda tersebut berusaha menampilkan diri sebagai mal yang asri.Tak heran, beberapa pohon berukuran besar tetap dibiarkan berdiri kokoh di sekitar kawasan mal dan bahkan ditambah dengan sejumlah pohon baru sebagai peneduh.
Sebagai mal berkonsep terbuka, pengunjung dapat bebas berjalan-jalan menikmati suasana dan menghirup udara segar sembari berbelanja. Bermacam-macam restoran ditampilkan dengan kursi pengunjung berada di luar ruangan. Sementara, pengunjung yang tak berbelanja pun dapat duduk santai di kursi-kursi pelataran mal.
Di tempat ini, pengunjung dapat menikmati bermacam-macam hiburan, seperti billiar, karaoke, bioskop, hingga talent box dimana orang bisa bernyanyi sepuas mungkin kemudian merekam sendiri suara dan aksinya dalam bentuk kepingan compact disk.
Kehadiran Ciwalk semakin menambah ke gairahan Kawasan Cihampelas. Di hari biasa, sekitar 3.000 mobil singgah di Ciwalk dan bahkan pada akhir pekan 7.000 mobil silih berganti memasuki mal tersebut. Tak heran, jalanan di sepanjang Cihampelas selalu dipadati kendaraan bermotor.
Karena potensi bisnis wisata yang menjanjikan, Pemerintah Kota Bandung telah menetapkan Kawasan Cihampelas menjadi salah satu bagian dari lima kawasan revitalisasi wisata. Empat kawasan wisata Kota Bandung lainnya adalah Cibaduyut dengan produ k sepatunya, Suci dengan produk kaos, Cigondewah dengan produk kain, dan Binong Jati dengan produks rajut.

9. Cibaduyut
Pusat perbelanjaan sepatu cibaduyut adalah pasar penjualan sepatu terpanjang di dunia, dimana di lokasi tersebut merupakan sentra penjualan sepatu hasil kreasi para pengrajin yang ilmu pembuatannya didapat secara turun menurun, pada tahun 1989 pemerintah R.I meresmikan cibaduyut ini sebagai daerah tujuan wisata. Atas dasar ini Pendiri Toko sepatu Oval memberanikan diri bersaing dengan ratusan kompetitor sejenis untuk berusaha dalam bidang persepatuan. Oval didirikan Oleh Bapak H. Sambas Sulaeman.
Pada Awalnya pendiri hanyalah pedagang kecil yang memiliki kios ukuran 2x3 m di pasar kosambi, namun seiring perkembangan dan jerih payah, Usahanya mulai menampakkan hasil, dan dengan modal pengalaman dan jam terbang di bidang per-sepatuan, pendiri mulai dalam memberanikan diri bersaing di pangsa pasar yang lebih besar, yaitu Cibaduyut.
Setelah Oval berjalan selama 5 tahun, pada tahun 1994, Oval mengalami musibah Kebakaran yang menghanguskan seluruh bangunan beserta isinya, yang mengakibatkan Pendiri mengalami kerugian yang cukup besar, namun dengan semangat dan pantang menyerah dan pemikiran bahwa semuanya akan kembali kepadaNya.
Dengan tekad untuk maju dan berkembang, serta tanggung jawab akan keluarga dan para karyawan yang telah setia dan bekerja keras membangun bisnis ini, setahun kemudian Oval kembali berdiri dengan lebih kokoh, besar dan menyerap tenaga kerja yang lebih banyak dari sebelumnya. Tepat pada tahun 1995, Oval mulai kembali beroperasi, dan memiliki cabang di jl. Pasteur, cihampelas, jl. A.Yani, kuningan Ujung pandang, jakarta dan tanggerang, pada saat itu Oval diresmikan oleh walikota bandung, yang pada saat itu dipegang oleh Bapak Ateng Wahyudi.
Mulai saat itu Oval lebih dikenal luas di luar daerah, bahkan sampai keluar pulau jawa, banyak para pengunjung yang berasal dari luar kota bandung, yang komposisi dari para pengunjung adalah 70 % dari luar bandung dan 30% dari kota bandung itu sendiri. Saat ini perkembangan wisata belanja di kota bandung cukup pesat perkembangannya, sehinngga Oval merasa perlu untuk menyikapi kebutuhan dari konsumen itu sendiri, yaitu membuat Factory outlet.







BAB IV
PENUTUP
A. Simpulan
Tempat yang dijadikan tujuan atau objek kuliah kerja lapangan mahasiswa Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan Program Bahasa dan Sastra Indonesia antara lain:
(1) Pusat Bahasa
(2) Suara Pembaharuan
(3) ANRI
(4) Pusat Dokumentasui Sastra HB. JASSIN
(5) Trans 7
(6) UPI
Dari tempat-tempat yang kami kunjungi, kami mendapat banyak wawasan dan pengalaman baru

B. Saran
Kunjungan ataupun kuliah kerja lapangan yang kami lakukan memang belum begitu optimal. Walau terdapat kendala tetapi, secara umum bisa berjalan dengan lancar. Sebagai saran antara lain:
1. Perbanyak intensitas pembelajaran yang langsung terjun ke lapangan
2. Pengorganisasian lebih ditingkatkan, terutama waktu untuk ibadah









Lampiran Foto

A. Pusat Bahasa



B. Suara Pembaharuan





C. Ancol




D. ANRI




E. HB. Jassin







F. Trans 7




G. UPI

KTSP

31. Mata Pelajaran Bahasa Indonesia untuk Sekolah Dasar (SD)/Madrasah Ibtidaiyah (MI)
A. Latar Belakang

Bahasa memiliki peran sentral dalam perkembangan intelektual, sosial, dan emosional peserta didik dan merupakan penunjang keberhasilan dalam mempelajari semua bidang studi. Pembelajaran bahasa diharapkan membantu peserta didik mengenal dirinya, budayanya, dan budaya orang lain, mengemukakan gagasan dan perasaan, berpartisipasi dalam masyarakat yang menggunakan bahasa tersebut, dan menemukan serta menggunakan kemampuan analitis dan imaginatif yang ada dalam dirinya.

Pembelajaran bahasa Indonesia diarahkan untuk meningkatkan kemampuan peserta didik untuk berkomunikasi dalam bahasa Indonesia dengan baik dan benar, baik secara lisan maupun tulis, serta menumbuhkan apresiasi terhadap hasil karya kesastraan manusia Indonesia.

Standar kompetensi mata pelajaran Bahasa Indonesia merupakan kualifikasi kemampuan minimal peserta didik yang menggambarkan penguasaan pengetahuan, keterampilan berbahasa, dan sikap positif terhadap bahasa dan sastra Indonesia. Standar kompetensi ini merupakan dasar bagi peserta didik untuk memahami dan merespon situasi lokal, regional, nasional, dan global.

Dengan standar kompetensi mata pelajaran Bahasa Indonesia ini diharapkan:
1. peserta didik dapat mengembangkan potensinya sesuai dengan kemampuan, kebutuhan, dan minatnya, serta dapat menumbuhkan penghargaan terhadap hasil karya kesastraan dan hasil intelektual bangsa sendiri;
2. guru dapat memusatkan perhatian kepada pengembangan kompetensi bahasa peserta didik dengan menyediakan berbagai kegiatan berbahasa dan sumber belajar;
3. guru lebih mandiri dan leluasa dalam menentukan bahan ajar kebahasaan dan kesastraan sesuai dengan kondisi lingkungan sekolah dan kemampuan peserta didiknya;
4. orang tua dan masyarakat dapat secara aktif terlibat dalam pelaksanaan program kebahasaan daan kesastraan di sekolah;
5. sekolah dapat menyusun program pendidikan tentang kebahasaan dan kesastraan sesuai dengan keadaan peserta didik dan sumber belajar yang tersedia;
6. daerah dapat menentukan bahan dan sumber belajar kebahasaan dan kesastraan sesuai dengan kondisi dan kekhasan daerah dengan tetap memperhatikan kepentingan nasional.

B. Tujuan

Mata pelajaran Bahasa Indonesia bertujuan agar peserta didik memiliki kemampuan sebagai berikut.

1. Berkomunikasi secara efektif dan efisien sesuai dengan etika yang berlaku, baik secara lisan maupun tulis
2. Menghargai dan bangga menggunakan bahasa Indonesia sebagai bahasa persatuan dan bahasa negara
3. Memahami bahasa Indonesia dan menggunakannya dengan tepat dan kreatif untuk berbagai tujuan
4. Menggunakan bahasa Indonesia untuk meningkatkan kemampuan intelektual, serta kematangan emosional dan sosial
5. Menikmati dan memanfaatkan karya sastra untuk memperluas wawasan, memperhalus budi pekerti, serta meningkatkan pengetahuan dan kemampuan berbahasa
6. Menghargai dan membanggakan sastra Indonesia sebagai khazanah budaya dan intelektual manusia Indonesia.

a. Ruang Lingkup

Ruang lingkup mata pelajaran Bahasa Indonesia mencakup komponen kemampuan berbahasa dan kemampuan bersastra yang meliputi aspek-aspek sebagai berikut.
1. Mendengarkan
2. Berbicara
3. Membaca
4. Menulis.

Pada akhir pendidikan di SD/MI, peserta didik telah membaca sekurang-kurangnya sembilan buku sastra dan nonsastra.














D. Standar Kompetensi dan Kompetensi Dasar
SEKOLAH DASAR
Kelas I, Semester 1

Standar Kompetensi Kompetensi Dasar
Mendengarkan
1. Memahami bunyi bahasa, perintah, dan dongeng yang dilisankan
1.1 Membedakan berbagai bunyi bahasa
1.2 Melaksanakan sesuatu sesuai dengan perintah atau petunjuk sederhana
1.3 Menyebutkan tokoh-tokoh dalam cerita
Berbicara
2. Mengungkapkan pikiran, perasaan, dan informasi, secara lisan dengan perkenalan dan tegur sapa, pengenalan benda dan fungsi anggota tubuh, dan deklamasi

2.1 Memperkenalkan diri sendiri dengan kalimat sederhana dan bahasa yang santun
2.2 Menyapa orang lain dengan menggunakan kalimat sapaan yang tepat dan bahasa yang santun
2.3 Mendeskipsikan benda-benda di sekitar dan fungsi anggota tubuh dengan kalimat sederhana
2.4 Mendeklamasikan puisi anak dengan lafal dan intonasi yang sesuai
Membaca
3. Memahami teks pendek dengan membaca nyaring

3.1 Membaca nyaring suku kata dan kata dengan lafal yang tepat
3.2 Membaca nyaring kalimat sederhana dengan lafal dan intonasi yang tepat
Menulis
4. Menulis permulaan dengan menjiplak, menebalkan, mencontoh, melengkapi, dan menyalin
4.1 Menjiplak berbagai bentuk gambar, lingkaran, dan bentuk huruf
4.2 Menebalkan berbagai bentuk gambar, lingkaran, dan bentuk huruf
4.3 Mencontoh huruf, kata, atau kalimat sederhana dari buku atau papan tulis dengan benar
4.4 Melengkapi kalimat yang belum selesai berdasarkan gambar
4.5 Menyalin puisi anak sederhana dengan huruf lepas





Kelas I, Semester 2

Standar Kompetensi Kompetensi Dasar
Mendengarkan
5. Memahami wacana lisan tentang deskripsi benda-benda di sekitar dan dongeng
5.1 Mengulang deskripsi tentang benda-benda di sekitar
5.2 Menyebutkan isi dongeng
Berbicara
6. Mengungkapkan pikiran, perasaan, dan informasi secara lisan dengan gambar, percakapan sederhana, dan dongeng

6.1 Menjelaskan isi gambar tunggal atau gambar seri sederhana dengan bahasa yang mudah dimengerti
6.2 Melakukan percakapan sederhana dengan menggunakan kalimat dan kosakata yang sudah dikuasai
6.3 Menyampaikan rasa suka atau tidak suka tentang suatu hal atau kegiatan dengan alasan sederhana
6.4 Memerankan tokoh dongeng atau cerita rakyat yang disukai dengan ekspresi yang sesuai
Membaca
7. Memahami teks pendek dengan membaca lancar dan membaca puisi anak

7.1 Membaca lancar beberapa kalimat sederhana yang terdiri atas 3-5 kata dengan intonasi yang tepat
7.2 Membaca puisi anak yang terdiri atas 2-4 baris dengan lafal dan intonasi yang tepat
Menulis
8. Menulis permulaan dengan huruf tegak bersambung melalui kegiatan dikte dan menyalin
8.1 Menulis kalimat sederhana yang didiktekan guru dengan huruf tegak bersambung
8.2 Menyalin puisi anak dengan huruf tegak bersambung







Kelas II, Semester 1

Standar Kompetensi Kompetensi Dasar
Mendengarkan
1. Memahami teks pendek dan puisi anak yang dilisankan
1.1 Menyebutkan kembali dengan kata-kata atau kalimat sendiri isi teks pendek
1.2 Mendeskripsikan isi puisi
Berbicara
2. Mengungkapkan pikiran, perasaan, dan pengalaman secara lisan melalui kegiatan bertanya, bercerita, dan deklamasi

2.1 Bertanya kepada orang lain dengan menggunakan pilihan kata yang tepat dan santun berbahasa
2.2 Menceritakan kegiatan sehari-hari dengan bahasa yang mudah dipahami orang lain
2.3 Mendeklamasikan puisi dengan ekspresi yang tepat
Membaca
3. Memahami teks pendek dengan membaca lancar dan membaca puisi anak

3.1 Menyimpulkan isi teks pendek (10-15 kalimat) yang dibaca dengan membaca lancar
3.2 Menjelaskan isi puisi anak yang dibaca
Menulis
4. Menulis permulaan melalui kegiatan melengkapi cerita dan dikte
4.1 Melengkapi cerita sederhana dengan kata yang tepat
4.2 Menulis kalimat sederhana yang didiktekan guru dengan menggunakan huruf tegak bersambung dan memperhatikan penggunaan huruf kapital dan tanda titik















Kelas II, Semester 2

Standar Kompetensi Kompetensi Dasar
Mendengarkan
5. Memahami pesan pendek dan dongeng yang dilisankan
5.1 Menyampaikan pesan pendek yang didengarnya kepada orang lain
5.2 Menceritakan kembali isi dongeng yang didengarnya
Berbicara
6. Mengungkapkan secara lisan beberapa informasi dengan mendeskripsikan benda dan bercerita

6.1 Mendeskripsikan tumbuhan atau binatang di sekitar sesuai ciri-cirinya dengan menggunakan kalimat yang mudah dipahami orang lain
6.2 Menceritakan kembali cerita anak yang didengarkan dengan menggunakan kata-kata sendiri
Membaca
7. Memahami ragam wacana tulis dengan membaca nyaring dan membaca dalam hati

7.1 Membaca nyaring teks (15-20 kalimat) dengan memperhatikan lafal dan intonasi yang tepat
7.2 Menyebutkan isi teks agak panjang (20-25 kalimat) yang dibaca dalam hati
Menulis
8. Menulis permulaan dengan mendeskripsikan benda di sekitar dan menyalin puisi anak

8.1 Mendeskripsikan tumbuhan atau binatang di sekitar secara sederhana dengan bahasa tulis
8.2 Menyalin puisi anak dengan huruf tegak bersambung yang rapi





Kelas III, Semester 1

Standar Kompetensi Kompetensi Dasar
Mendengarkan
1. Memahami penjelasan tentang petunjuk dan cerita anak yang dilisankan

1.1 Melakukan sesuatu berdasarkan penjelasan yang disampaikan secara lisan
1.2 Mengomentari tokoh-tokoh cerita anak yang disampaikan secara lisan
Berbicara
2. Mengungkapkan pikiran, perasaan, pengalaman, dan petunjuk dengan bercerita dan memberikan tanggapan/saran
2.1 Menceritakan pengalaman yang mengesankan dengan menggunakan kalimat yang runtut dan mudah dipahami
2.2 Menjelaskan urutan membuat atau melakukan sesuatu dengan kalimat yang runtut dan mudah dipahami
2.3 Memberikan tanggapan dan saran sederhana terhadap suatu masalah dengan menggunakan kalimat yang runtut dan pilihan kata yang tepat
Membaca
3. Memahami teks dengan membaca nyaring, membaca intensif, dan membaca dongeng

3.1 Membaca nyaring teks (20-25 kalimat) dengan lafal dan intonasi yang tepat
3.2 Menjelaskan isi teks (100- 150 kata) melalui membaca intensif
3.3 Menceritakan isi dongeng yang dibaca
Menulis
4. Mengungkapkan pikiran, perasaan, dan informasi dalam bentuk paragraf dan puisi

4.1 Menyusun paragraf berdasarkan bahan yang tersedia dengan memperhatikan penggunaan ejaan
4.2 Melengkapi puisi anak berdasarkan gambar







Kelas III, Semester 2

Standar Kompetensi Kompetensi Dasar
Mendengarkan
5. Memahami cerita dan teks drama anak yang dilisankan

5.1 Memberikan tanggapan sederhana tentang cerita pengalaman teman yang didengarnya
5.2 Menirukan dialog dengan ekspresi yang tepat dari pembacaan teks drama anak yang didengarnya
Berbicara
6. Mengungkapkan pikiran, perasaan, dan pengalaman secara lisan dengan bertelepon dan bercerita

6.1 Melakukan percakapan melalui telepon/alat komunikasi sederhana dengan menggunakan kalimat ringkas
6.2 Menceritakan peristiwa yang pernah dialami, dilihat, atau didengar
Membaca
7. Memahami teks dengan membaca intensif (150-200 kata) dan membaca puisi
7.1 Menjawab dan atau mengajukan pertanyaan tentang isi teks agak panjang (150-200 kata) yang dibaca secara intensif
7.2 Membaca puisi dengan lafal, intonasi, dan ekspresi yang tepat
Menulis
8. Mengungkapkan pikiran, perasaan, dan informasi dalam karangan sederhana dan puisi
8.1 Menulis karangan sederhana berdasarkan gambar seri menggunakan pilihan kata dan kalimat yang tepat dengan memperhatikan penggunaan ejaan, huruf kapital, dan tanda titik
8.2 Menulis puisi berdasarkan gambar dengan pilihan kata yang menarik













Kelas IV, Semester 1

Standar Kompetensi Kompetensi Dasar
Mendengarkan
1. Mendengarkan penjelasan tentang petunjuk denah dan simbol daerah/lambang korps

1.1 Membuat gambar/denah berdasarkan penjelasan yang didengar
1.2 Menjelaskan kembali secara lisan atau tulis penjelasan tentang simbol daerah/lambang korps
Berbicara
2. Mendeskripsikan secara lisan tempat sesuai denah dan petunjuk penggunaan suatu alat
2.1 Mendeskripsikan tempat sesuai dengan denah atau gambar dengan kalimat yang runtut
2.2 Menjelaskan petunjuk penggunaan suatu alat dengan bahasa yang baik dan benar
Membaca
3. Memahami teks agak panjang (150-200 kata), petunjuk pemakaian, makna kata dalam kamus/ensiklopedi
3.1 Menemukan pikiran pokok teks agak panjang (150-200 kata) dengan cara membaca sekilas
3.2 Melakukan sesuatu berdasarkan petunjuk pemakaian yang dibaca
3.3 Menemukan makna dan informasi secara tepat dalam kamus/ensiklopedi melalui membaca memindai
Menulis
4. Mengungkapkan pikiran, perasaan, dan informasi secara tertulis dalam bentuk percakapan, petunjuk, cerita, dan surat

4.1 Melengkapi percakapan yang belum selesai dengan memperhatikan penggunaan ejaan (tanda titik dua, dan tanda petik)
4.2 Menulis petunjuk untuk melakukan sesuatu atau penjelasan tentang cara membuat sesuatu
4.3 Melengkapi bagian cerita yang hilang (rumpang) dengan menggunakan kata/kalimat yang tepat sehingga menjadi cerita yang padu
4.4 Menulis surat untuk teman sebaya tentang pengalaman atau cita-cita dengan bahasa yang baik dan benar dan memperhatikan penggunaan ejaan (huruf besar, tanda titik, tanda koma, dll.)




Kelas IV, Semester 2

Standar Kompetensi Kompetensi Dasar
Mendengarkan
5. Mendengarkan pengumuman dan pembacaan pantun
5.1 Menyampaikan kembali isi pengumuman yang dibacakan
5.2 Menirukan pembacaan pantun anak dengan lafal dan intonasi yang tepat
Berbicara
6. Mengungkapkan pikiran, perasaan, dan informasi dengan berbalas pantun dan bertelepon
6.1 Berbalas pantun dengan lafal dan intonasi yang tepat
6.2 Menyampaikan pesan yang diterima melalui telepon sesuai dengan isi pesan

Membaca
7. Memahami teks melalui membaca intensif, membaca nyaring, dan membaca pantun
7.1 Menemukan kalimat utama pada tiap paragraf melalui membaca intensif
7.2 Membaca nyaring suatu pengumuman dengan lafal dan intonasi yang tepat
7.3 Membaca pantun anak secara berbalasan dengan lafal dan intonasi yang tepat
Menulis
8. Mengungkapkan pikiran, perasaan, dan informasi secara tertulis dalam bentuk karangan, pengumuman, dan pantun anak

8.1 Menyusun karangan tentang berbagai topik sederhana dengan memperhatikan penggunaan ejaan (huruf besar, tanda titik, tanda koma, dll.)
8.2 Menulis pengumuman dengan bahasa yang baik dan benar serta memperhatikan penggunaan ejaan
8.3 Membuat pantun anak yang menarik tentang berbagai tema (persahabatan, ketekunan, kepatuhan, dll.) sesuai dengan ciri-ciri pantun





Kelas V, Semester 1

Standar Kompetensi Kompetensi Dasar
Mendengarkan
1. Memahami penjelasan narasumber dan cerita rakyat secara lisan
1.1 Menanggapi penjelasan narasumber (petani, pedagang, nelayan, karyawan, dll.) dengan memperhatikan santun berbahasa
1.2 Mengidentifikasi unsur cerita tentang cerita rakyat yang didengarnya
Berbicara
2. Mengungkapkan pikiran, pendapat, perasaan, fakta secara lisan dengan menanggapi suatu persoalan, menceritakan hasil pengamatan, atau berwawancara

2.1 Menanggapi suatu persoalan atau peristiwa dan memberikan saran pemecahannya dengan memperhatikan pilihan kata dan santun berbahasa
2.2 Menceritakan hasil pengamatan/kunjungan dengan bahasa runtut, baik, dan benar
2.3 Berwawancara sederhana dengan narasumber (petani, pedagang, nelayan, karyawan, dll.) dengan memperhatikan pilihan kata dan santun berbahasa
Membaca
3. Memahami teks dengan membaca teks percakapan, membaca cepat 75 kata/menit, dan membaca puisi
3.1 Membaca teks percakapan dengan lafal dan intonasi yang tepat
3.2 Menemukan gagasan utama suatu teks yang dibaca dengan kecepatan 75 kata per menit
3.3 Membaca puisi dengan lafal dan intonasi yang tepat
Menulis
4. Mengungkapkan pikiran, perasaan, informasi, dan pengalaman secara tertulis dalam bentuk karangan, surat undangan, dan dialog tertulis
4.1 Menulis karangan berdasarkan pengalaman dengan memperhatikan pilihan kata dan penggunaan ejaan
4.2 Menulis surat undangan (ulang tahun, acara agama, kegiatan sekolah, kenaikan kelas, dll.) dengan kalimat efektif dan memperhatikan penggunaan ejaan
4.3 Menulis dialog sederhana antara dua atau tiga tokoh dengan memperhatikan isi serta perannya






Kelas V, Semester 2

Standar Kompetensi Kompetensi Dasar
Mendengarkan
5. Memahami cerita tentang suatu peristiwa dan cerita pendek anak yang disampaikan secara lisan

5.1 Menanggapi cerita tentang peristiwa yang terjadi di sekitar yang disampaikan secara lisan
5.2 Mengidentifikasi unsur cerita (tokoh, tema, latar, amanat)
Berbicara
6. Mengungkapkan pikiran dan perasaan secara lisan dalam diskusi dan bermain drama
6.1 Mengomentari persoalan faktual disertai alasan yang mendukung dengan memperhatikan pilihan kata dan santun berbahasa
6.2 Memerankan tokoh drama dengan lafal, intonasi, dan ekspresi yang tepat
Membaca
7. Memahami teks dengan membaca sekilas, membaca memindai, dan membaca cerita anak
7.1 Membandingkan isi dua teks yang dibaca dengan membaca sekilas
7.2 Menemukan informasi secara cepat dari berbagai teks khusus (buku petunjuk telepon, jadwal perjalanan, daftar susunan acara, daftar menu, dll.) yang dilakukan melalui membaca memindai
7.3 Menyimpulkan isi cerita anak dalam beberapa kalimat
Menulis
8. Mengungkapkan pikiran, perasaan, informasi, dan fakta secara tertulis dalam bentuk ringkasan, laporan, dan puisi bebas
8.1 Meringkas isi buku yang dipilih sendiri dengan memperhatikan penggunaan ejaan
8.2 Menulis laporan pengamatan atau kunjungan berdasarkan tahapan (catatan, konsep awal, perbaikan, final) dengan memperhatikan penggunaan ejaan
8.3 Menulis puisi bebas dengan pilihan kata yang tepat






Kelas VI, Semester 1

Standar Kompetensi Kompetensi Dasar
Mendengarkan
1. Memahami teks dan cerita anak yang dibacakan
1.1 Menulis hal-hal penting/pokok dari suatu teks yang dibacakan
1.2 Mengidentifikasi tokoh, watak , latar, tema atau amanat dari cerita anak yang dibacakan
Berbicara
2. Memberikan informasi dan tanggapan secara lisan
2.1 Menyampaikan pesan/informasi yang diperoleh dari berbagai media dengan bahasa yang runtut, baik dan benar
2.2 Menanggapi (mengkritik/memuji) sesuatu hal disertai alasan dengan menggunakan bahasa yang santun

Membaca
3. Memahami teks dengan membaca intensif dan membaca sekilas
3.1 Mendeskripsikan isi dan teknik penyajian suatu laporan hasil pengamatan/kunjungan
3.2 Menanggapi informasi dari kolom/rubrik khusus (majalah anak, koran, dll.)
Menulis
4. Mengungkapkan pikiran, perasaan, dan informasi secara tertulis dalam bentuk formulir, ringkasan, dialog, dan parafrase
4.1 Mengisi formulir (pendaftaran, kartu anggota, wesel pos, kartu pos, daftar riwayat hidup, dll.) dengan benar
4.2 Membuat ringkasan dari teks yang dibaca atau yang didengar
4.3 Menyusun percakapan tentang berbagai topik dengan memperhatikan penggunaan ejaan
4.4 Mengubah puisi ke dalam bentuk prosa dengan tetap memperhatikan makna puisi







Kelas VI, Semester 2

Standar Kompetensi Kompetensi Dasar
Mendengarkan
5. Memahami wacana lisan tentang berita dan drama pendek
5.1 Menyimpulkan isi berita yang didengar dari televisi atau radio
5.2 Menceritakan isi drama pendek yang disampaikan secara lisan
Berbicara
6. Mengungkapkan pikiran, perasaan, dan informasi dengan berpidato, melaporkan isi buku, dan baca puisi
6.1 Berpidato atau presentasi untuk berbagai keperluan (acara perpisahan, perayaan ulang tahun, dll.) dengan lafal, intonasi, dan sikap yang tepat
6.2 Melaporkan isi buku yang dibaca (judul, pengarang, jumlah halaman, dan isi) dengan kalimat yang runtut
6.3 Membacakan puisi karya sendiri dengan ekspresi yang tepat
Membaca
7. Memahami teks dengan membaca intensif dan membaca teks drama
7.1 Menemukan makna tersirat suatu teks melalui membaca intensif
7.2 Mengidentifikasi berbagai unsur (tokoh, sifat, latar, tema, jalan cerita, dan amanat) dari teks drama anak
Menulis
8. Mengungkapkan pikiran dan informasi secara tertulis dalam bentuk naskah pidato dan surat resmi
8.1 Menyusun naskah pidato/sambutan (perpisahan, ulang tahun, perayaan sekolah, dll.) dengan bahasa yang baik dan benar, serta memperhatikan penggunaan ejaan
8.2 Menulis surat resmi dengan memperhatikan pilihan kata sesuai dengan orang yang dituju


E. Arah Pengembangan
Standar kompetensi dan kompetensi dasar menjadi arah dan landasan untuk mengembangkan materi pokok, kegiatan pembelajaran, dan indikator pencapaian kompetensi untuk penilaian. Dalam merancang kegiatan pembelajaran dan penilaian perlu memperhatikan Standar Proses dan Standar Penilaian.

SMP
31. Mata Pelajaran Bahasa Indonesia untuk Sekolah Menengah Pertama (SMP)/Madrasah Tsanawiyah (MTs)
B. Latar Belakang

Bahasa memiliki peran sentral dalam perkembangan intelektual, sosial, dan emosional peserta didik dan merupakan penunjang keberhasilan dalam mempelajari semua bidang studi. Pembelajaran bahasa diharapkan membantu peserta didik mengenal dirinya, budayanya, dan budaya orang lain, mengemukakan gagasan dan perasaan, berpartisipasi dalam masyarakat yang menggunakan bahasa tersebut, dan menemukan serta menggunakan kemampuan analitis dan imaginatif yang ada dalam dirinya.

Pembelajaran bahasa Indonesia diarahkan untuk meningkatkan kemampuan peserta didik untuk berkomunikasi dalam bahasa Indonesia dengan baik dan benar, baik secara lisan maupun tulis, serta menumbuhkan apresiasi terhadap hasil karya kesastraan manusia Indonesia.

Standar kompetensi mata pelajaran Bahasa Indonesia merupakan kualifikasi kemampuan minimal peserta didik yang menggambarkan penguasaan pengetahuan, keterampilan berbahasa, dan sikap positif terhadap bahasa dan sastra Indonesia. Standar kompetensi ini merupakan dasar bagi peserta didik untuk memahami dan merespon situasi lokal, regional, nasional, dan global.

Dengan standar kompetensi mata pelajaran Bahasa Indonesia ini diharapkan:
7. peserta didik dapat mengembangkan potensinya sesuai dengan kemampuan, kebutuhan, dan minatnya, serta dapat menumbuhkan penghargaan terhadap hasil karya kesastraan dan hasil intelektual bangsa sendiri;
8. guru dapat memusatkan perhatian kepada pengembangan kompetensi bahasa peserta didik dengan menyediakan berbagai kegiatan berbahasa dan sumber belajar;
9. guru lebih mandiri dan leluasa dalam menentukan bahan ajar kebahasaan dan kesastraan sesuai dengan kondisi lingkungan sekolah dan kemampuan peserta didiknya;
10. orang tua dan masyarakat dapat secara aktif terlibat dalam pelaksanaan program kebahasaan daan kesastraan di sekolah;
11. sekolah dapat menyusun program pendidikan tentang kebahasaan dan kesastraan sesuai dengan keadaan peserta didik dan sumber belajar yang tersedia;
12. daerah dapat menentukan bahan dan sumber belajar kebahasaan dan kesastraan sesuai dengan kondisi dan kekhasan daerah dengan tetap memperhatikan kepentingan nasional.


C. Tujuan

Mata pelajaran Bahasa Indonesia bertujuan agar peserta didik memiliki kemampuan sebagai berikut.
7. Berkomunikasi secara efektif dan efisien sesuai dengan etika yang berlaku, baik secara lisan maupun tulis
8. Menghargai dan bangga menggunakan bahasa Indonesia sebagai bahasa persatuan dan bahasa negara
9. Memahami bahasa Indonesia dan menggunakannya dengan tepat dan kreatif untuk berbagai tujuan
10. Menggunakan bahasa Indonesia untuk meningkatkan kemampuan intelektual, serta kematangan emosional dan sosial
11. Menikmati dan memanfaatkan karya sastra untuk memperluas wawasan, memperhalus budi pekerti, serta meningkatkan pengetahuan dan kemampuan berbahasa
12. Menghargai dan membanggakan sastra Indonesia sebagai khazanah budaya dan intelektual manusia Indonesia.

a. Ruang Lingkup

Ruang lingkup mata pelajaran Bahasa Indonesia mencakup komponen kemampuan berbahasa dan kemampuan bersastra yang meliputi aspek-aspek sebagai berikut.
1. Mendengarkan
2. Berbicara
3. Membaca
4. Menulis.

Pada akhir pendidikan di SMP/MTs, peserta didik telah membaca sekurang-kurangnya 15 buku sastra dan nonsastra.


















D. Standar Kompetensi dan Kompetensi Dasar

Kelas VII, Semester 1

Standar Kompetensi Kompetensi Dasar
Mendengarkan
1. Memahami wacana lisan melalui kegiatan mendengarkan berita

1.1 Menyimpulkan isi berita yang dibacakan dalam beberapa kalimat
1.2 Menuliskan kembali berita yang dibacakan ke dalam beberapa kalimat
Berbicara
2. Mengungkapkan pengalaman dan informasi melalui kegiatan bercerita dan menyampaikan pengumuman
2.1 Menceritakan pengalaman yang paling mengesankan dengan menggunakan pilihan kata dan kalimat efektif
2.2 Menyampaikan pengumuman dengan intonasi yang tepat serta menggunakan kalimat-kalimat yang lugas dan sederhana
Membaca
3. Memahami ragam teks nonsastra dengan berbagai cara membaca
3.1 Menemukan makna kata tertentu dalam kamus secara cepat dan tepat sesuai dengan konteks yang diinginkan melalui kegiatan membaca memindai
3.2 Menyimpulkan isi bacaan setelah membaca cepat 200 kata per menit
3.3 Membacakan berbagai teks perangkat upacara dengan intonasi yang tepat
Menulis
4. Mengungkapkan pikiran dan pengalaman dalam buku harian dan surat pribadi




4.1 Menulis buku harian atau pengalaman pribadi dengan memperhatikan cara pengungkapan dan bahasa yang baik dan benar
4.2 Menulis surat pribadi dengan memperhatikan komposisi, isi, dan bahasa
4.3 Menulis teks pengumuman dengan bahasa yang efektif, baik dan benar
Mendengarkan
5. Mengapresiasi dongeng yang diperdengarkan

5.1 Menemukan hal-hal yang menarik dari dongeng yang diperdengarkan
5.2 Menunjukkan relevansi isi dongeng dengan situasi sekarang

Berbicara
6. Mengeskpresikan pikiran dan perasaan melalui kegiatan bercerita
6.1 Bercerita dengan urutan yang baik, suara, lafal, intonasi, gestur, dan mimik yang tepat
6.2 Bercerita dengan alat peraga

Membaca
7. Memahami isi berbagai teks bacaan sastra dengan membaca
7.1 Menceritakan kembali cerita anak yang dibaca
7.2 Mengomentari buku cerita yang dibaca
Menulis
8. Mengekspresikan pikiran, perasaan, dan pengalaman melalui pantun dan dongeng
8.1 Menulis pantun yang sesuai dengan syarat pantun
8.2 Menulis kembali dengan bahasa sendiri dongeng yang pernah dibaca atau didengar





Kelas VII, Semester 2

Standar Kompetensi Kompetensi Dasar
Mendengarkan
9. Memahami wacana lisan melalui kegiatan wawancara

9.1 Menyimpulkan pikiran, pendapat, dan gagasan seorang tokoh/narasumber yang disampaikan dalam wawancara
9.2 Menuliskan dengan singkat hal-hal penting yang dikemukakan narasumber dalam wawancara
Berbicara
10. Mengungkapkan pikiran, perasaan, informasi, dan pengalaman melalui kegiatan menanggapi cerita dan bertelepon
10.1 Menceritakan tokoh idola dengan mengemukakan identitas dan keunggulan tokoh, serta alasan mengidolakannya dengan pilihan kata yang sesuai
10.2 Bertelepon dengan kalimat yang efektif dan bahasa yang santun
Membaca
11. Memahami wacana tulis melalui kegiatan membaca intensif dan membaca memindai
11.1 Mengungkapkan hal-hal yang dapat diteladani dari buku biografi yang dibaca secara intensif
11.2 Menemukan gagasan utama dalam teks yang dibaca
11.3 Menemukan informasi secara cepat dari tabel/diagram yang dibaca

Menulis
12. Mengungkapkan berbagai informasi dalam bentuk narasi dan pesan singkat
12.1 Mengubah teks wawancara menjadi narasi dengan memperhatikan cara penulisan kalimat langsung dan tak langsung
12.2 Menulis pesan singkat sesuai dengan isi dengan menggunakan kalimat efektif dan bahasa yang santun


Standar Kompetensi Kompetensi Dasar
Mendengarkan
13. Memahami pembacaan puisi
13.1 Menanggapi cara pembacaan puisi
13.2 Merefleksi isi puisi yang dibacakan
Berbicara
14. Mengungkapkan tanggapan terhadap pembacaan cerpen
14.1 Menanggapi cara pembacaan cerpen
14.2 Menjelaskan hubungan latar suatu cerpen (cerita pendek) dengan realitas sosial

Membaca
15. Memahami wacana sastra melalui kegiatan membaca puisi dan buku cerita anak
15.1 Membaca indah puisi dengan menggunakan irama, volume suara, mimik, kinesik yang sesuai dengan isi puisi
15.2 Menemukan realitas kehidupan anak yang terefleksi dalam buku cerita anak baik asli maupun terjemahan

Menulis
16. Mengungkapkan keindahan alam dan pengalaman melalui kegiatan menulis kreatif puisi
16.1 Menulis kreatif puisi berkenaan dengan keindahan alam
16.2 Menulis kreatif puisi berkenaan dengan peristiwa yang pernah dialami



Kelas VIII, Semester 1

Standar Kompetensi Kompetensi Dasar
Mendengarkan
1. Memahami wacana lisan berbentuk laporan
1.1 Menganalisis laporan
1.2 Menanggapi isi laporan

Berbicara
2. Mengungkap berbagai informasi melalui wawancara dan presentasi laporan

2.1 Berwawancara dengan narasumber dari berbagai kalangan dengan memperhatikan etika berwawancara
2.2 Menyampaikan laporan secara lisan dengan bahasa yang baik dan benar

Membaca
3. Memahami ragam wacana tulis dengan membaca memindai, membaca cepat

3.1 Menemukan informasi secara cepat dan tepat dari ensiklopedi/buku telepon dengan membaca memindai
3.2 Menemukan tempat atau arah dalam konteks yang sebenarnya sesuai dengan yang tertera pada denah
3.3 Menyimpulkan isi suatu teks dengan membaca cepat 250 kata per menit

Menulis
4. Mengungkapkan informasi dalam bentuk laporan, surat dinas, dan petunjuk
4.1 Menulis laporan dengan menggunakan bahasa yang baik dan benar
4.2 Menulis surat dinas berkenaan dengan kegiatan sekolah dengan sistematika yang tepat dan bahasa baku
4.3 Menulis petunjuk melakukan sesuatu dengan urutan yang tepat dan menggunakan bahasa yang efektif
Mendengarkan
5. Mengapresiasi pementasan drama
5.1 Menanggapi unsur pementasan drama
5.2 Mengevaluasi pemeran tokoh dalam pementasan drama

Berbicara
6. Mengungkapkan pikiran dan perasaan dengan bermain peran
6.1 Bermain peran sesuai dengan naskah yang ditulis siswa
6.2 Bermain peran dengan cara improvisasi sesuai dengan kerangka naskah yang ditulis siswa
Membaca
7. Memahami teks drama dan novel remaja
7.1 Mengidentifikasi unsur intrinsik teks drama
7.2 Membuat sinopsis novel remaja Indonesia
Menulis
8. Mengungkapkan pikiran dan perasaan melalui kegiatan menulis kreatif naskah drama
8.1 Menulis kreatif naskah drama satu babak dengan memperhatikan keaslian ide
8.2 Menulis kreatif naskah drama satu babak dengan memperhatikan kaidah penulisan naskah drama




Kelas VIII, Semester 2

Standar Kompetensi Kompetensi Dasar
Mendengarkan
9. Memahami isi berita dari radio/televisi
9.1 Menemukan pokok-pokok berita (apa, siapa, di mana, kapan, mengapa, dan bagaimana) yang didengar dan atau ditonton melalui radio/televisi
9.2 Mengemukakan kembali berita yang didengar/ ditonton melalui radio/televisi
Berbicara
10. Mengemukakan pikiran, persaan, dan informasi melalui kegiatan diskusi dan protokoler
10.1 Menyampaikan persetujuan, sanggahan, dan penolakan pendapat dalam diskusi disertai dengan bukti atau alasan
10.2 Membawakan acara dengan bahasa yang baik dan benar, serta santun
Membaca
11. Memahami ragam wacana tulis dengan membaca ekstensif, membaca intensif, dan membaca nyaring
11.1 Menemukan masalah utama dari beberapa berita yang bertopik sama melalui membaca ekstensif
11.2 Menemukan informasi untuk bahan diskusi melalui membaca intensif
11.3 Membacakan teks berita dengan intonasi yang tepat serta artikulasi dan volume suara yang jelas
Menulis
12. Mengungkapkan informasi dalam bentuk rangkuman, teks berita, slogan/poster
12.1 Menulis rangkuman isi buku ilmu pengetahuan populer
12.2 Menulis teks berita secara singkat, padat, dan jelas
12.3 Menulis slogan/poster untuk berbagai keperluan dengan pilihan kata dan kalimat yang bervariasi, serta persuasif


Standar Kompetensi Kompetensi Dasar
Mendengarkan
13. Memahami unsur intrinsik novel remaja (asli atau terjemahan) yang dibacakan
13.1 Mengidentifikasi karakter tokoh novel remaja (asli atau terjemahan) yang dibacakan
13.2 Menjelaskan tema dan latar novel remaja (asli atau terjemahan) yang dibacakan
13.3 Mendeskripsikan alur novel remaja (asli atau terjemahan) yang dibacakan

Berbicara
14. Mengapresiasi kutipan novel remaja (asli atau terjemahan) melalui kegiatan diskusi
14.1 Mengomentari kutipan novel remaja (asli atau terjemahan)
14.2 Menanggapi hal yang menarik dari kutipan novel remaja (asli atau terjemahan)
Membaca
15. Memahami buku novel remaja (asli atau terjemahan) dan antologi puisi
15.1 Menjelaskan alur cerita, pelaku, dan latar novel remaja (asli atau terjemahan)
15.2 Mengenali ciri-ciri umum puisi dari buku antologi puisi

Menulis
16. Mengungkapkan pikiran, dan perasaan dalam puisi bebas
16.1 Menulis puisi bebas dengan menggunakan pilihan kata yang sesuai
16.2 Menulis puisi bebas dengan memperhatikan unsur persajakan









Kelas IX, Semester 1

Standar Kompetensi Kompetensi Dasar
Mendengarkan
1. Memahami dialog interaktif pada tayangan televisi/siaran radio
1.1 Menyimpulkan isi dialog interaktif beberapa narasumber pada tayangan televisi/siaran radio
1.2 Mengomentari pendapat narasumber dalam dialog interaktif pada tayangan televisi/siaran radio

Berbicara
2. Mengungkapkan pikiran, perasaan, dan informasi dalam bentuk komentar dan laporan
2.1 Mengkritik/memuji berbagai karya (seni atau produk) dengan bahasa yang lugas dan santun
2.2 Melaporkan secara lisan berbagai peristiwa dengan menggunakan kalimat yang jelas
Membaca
3. Memahami ragam wacana tulis dengan membaca intensif dan membaca memindai
3.1 Membedakan antara fakta dan opini dalam teks iklan di surat kabar melalui kegiatan membaca intensif
3.2 Menemukan informasi yang diperlukan secara cepat dan tepat dari indeks buku melalui kegiatan membaca memindai
Menulis
4. Mengungkapkan informasi dalam bentuk iklan baris, resensi, dan karangan

4.1 Menulis iklan baris dengan bahasa yang singkat, padat, dan jelas
4.2 Meresensi buku pengetahuan
4.3 Menyunting karangan dengan berpedoman pada ketepatan ejaan, tanda baca, pilihan kata, keefektifan kalimat, keterpaduan paragraf, dan kebulatan wacana



Standar Kompetensi Kompetensi Dasar
Mendengarkan
5. Memahami wacana sastra jenis syair melalui kegiatan mendengarkan syair

5.1 Menemukan tema dan pesan syair yang diperdengarkan
5.2 Menganalisis unsur-unsur syair yang diperdengarkan
Berbicara
6. Mengungkapkan kembali cerpen dan puisi dalam bentuk yang lain
6.1 Menceritakan kembali secara lisan isi cerpen
6.2 Menyanyikan puisi yang sudah dimusikalisasi dengan berpedoman pada kesesuaian isi puisi
dan suasana/irama yang dibangun

Membaca
7. Memahami wacana sastra melalui kegiatan membaca buku kumpulan cerita pendek (cerpen)
7.1 Menemukan tema, latar, penokohan pada cerpen-cerpen dalam satu buku kumpulan cerpen
7.2 Menganalisis nilai-nilai kehidupan pada cerpen-cerpen dalam satu buku kumpulan cerpen

Menulis
8. Mengungkapkan kembali pikiran, perasaan, dan pengalaman dalam cerita pendek
8.1 Menuliskan kembali dengan kalimat sendiri cerita pendek yang pernah dibaca
8.2 Menulis cerita pendek bertolak dari peristiwa yang pernah dialami




Kelas IX, Semester 2

Standar Kompetensi Kompetensi Dasar
Mendengarkan
9. Memahami isi pidato/khotbah/ceramah
9.1 Menyimpulkan pesan pidato/ceramah/khotbah yang didengar
9.2 Memberi komentar tentang isi pidato/ceramah/khotbah
Berbicara
10. Mengungkapkan pikiran, perasaan, dan informasi dalam pidato dan diskusi
10.1 Berpidato/ berceramah/ berkhotbah dengan intonasi yang tepat dan artikulasi serta volume suara yang jelas
10.2 Menerapkan prinsip-prinsip diskusi
Membaca
11. Memahami ragam wacana tulis dengan membaca ekstensif, membaca intensif, dan membaca cepat
11.1 Menemukan gagasan dari beberapa artikel dan buku melalui kegiatan membaca ekstensif
11.2 Mengubah sajian grafik, tabel, atau bagan menjadi uraian melalui kegiatan membaca intensif
11.3 Menyimpulkan gagasan utama suatu teks dengan membaca cepat  200 kata per menit

Menulis
12. Mengungkapkan pikiran, perasaan, dan informasi dalam bentuk karya ilmiah sederhana, teks pidato, surat pembaca
12.1 Menulis karya ilmiah sederhana dengan menggunakan berbagai sumber
12.2 Menulis teks pidato/ceramah/ khotbah dengan sistematika dan bahasa yang efektif
12.3 Menulis surat pembaca tentang lingkungan sekolah


Standar Kompetensi Kompetensi Dasar
Mendengarkan
13. Memahami wacana sastra melalui kegiatan mendengarkan pembacaan kutipan/sinopsis novel

13.1 Menerangkan sifat-sifat tokoh dari kutipan novel yang dibacakan
13.2 Menjelaskan alur peristiwa dari suatu sinopsis novel yang dibacakan

Berbicara
14. Mengungkapkan tanggapan terhadap pementasan drama
14.1 Membahas pementasan drama yang ditulis siswa
14.2 Menilai mementasan drama yang dilakukan oleh siswa
Membaca
15. Memahami novel dari berbagai angkatan
15.1 Mengidentifikasi kebiasaan, adat, etika yang terdapat dalam buku novel angkatan 20-30 an
15.2 Membandingkan karakteristik novel angkatan 20-30 an
Menulis
16. Menulis naskah drama
16.1 Menulis naskah drama berdasarkan cerpen yang sudah dibaca
16.2 Menulis naskah drama berdasarkan peristiwa nyata

E. Arah Pengembangan

Standar kompetensi dan kompetensi dasar menjadi arah dan landasan untuk mengembangkan materi pokok, kegiatan pembelajaran, dan indikator pencapaian kompetensi untuk penilaian. Dalam merancang kegiatan pembelajaran dan penilaian perlu memperhatikan Standar Proses dan Standar Penilaian.








SMA
32. Mata Pelajaran Bahasa Indonesia untuk Sekolah Menengah Atas (SMA)/ Madrasah Aliyah (MA)


0 A. Latar Belakang
Bahasa memiliki peran sentral dalam perkembangan intelektual, sosial, dan emosional peserta didik dan merupakan penunjang keberhasilan dalam mempelajari semua bidang studi. Pembelajaran bahasa diharapkan membantu peserta didik mengenal dirinya, budayanya, dan budaya orang lain, mengemukakan gagasan dan perasaan, berpartisipasi dalam masyarakat yang menggunakan bahasa tersebut, dan menemukan serta menggunakan kemampuan analitis dan imaginatif yang ada dalam dirinya.

Pembelajaran bahasa Indonesia diarahkan untuk meningkatkan kemampuan peserta didik untuk berkomunikasi dalam bahasa Indonesia dengan baik dan benar, baik secara lisan maupun tulis, serta menumbuhkan apresiasi terhadap hasil karya kesastraan manusia Indonesia.

Standar kompetensi mata pelajaran Bahasa Indonesia merupakan kualifikasi kemampuan minimal peserta didik yang menggambarkan penguasaan pengetahuan, keterampilan berbahasa, dan sikap positif terhadap bahasa dan sastra Indonesia. Standar kompetensi ini merupakan dasar bagi peserta didik untuk memahami dan merespon situasi lokal, regional, nasional, dan global.

Dengan standar kompetensi mata pelajaran Bahasa Indonesia ini diharapkan:
13. peserta didik dapat mengembangkan potensinya sesuai dengan kemampuan, kebutuhan, dan minatnya, serta dapat menumbuhkan penghargaan terhadap hasil karya kesastraan dan hasil intelektual bangsa sendiri;
14. guru dapat memusatkan perhatian kepada pengembangan kompetensi bahasa peserta didik dengan menyediakan berbagai kegiatan berbahasa dan sumber belajar;
15. guru lebih mandiri dan leluasa dalam menentukan bahan ajar kebahasaan dan kesastraan sesuai dengan kondisi lingkungan sekolah dan kemampuan peserta didiknya;
16. orang tua dan masyarakat dapat secara aktif terlibat dalam pelaksanaan program kebahasaan dan kesastraan di sekolah;
17. sekolah dapat menyusun program pendidikan tentang kebahasaan dan kesastraan sesuai dengan keadaan peserta didik dan sumber belajar yang tersedia;
18. daerah dapat menentukan bahan dan sumber belajar kebahasaan dan kesastraan sesuai dengan kondisi dan kekhasan daerah dengan tetap memperhatikan kepentingan nasional.







D. Tujuan

Mata pelajaran Bahasa Indonesia bertujuan agar peserta didik memiliki kemampuan sebagai berikut.
13. Berkomunikasi secara efektif dan efisien sesuai dengan etika yang berlaku, baik secara lisan maupun tulis
14. Menghargai dan bangga menggunakan bahasa Indonesia sebagai bahasa persatuan dan bahasa negara
15. Memahami bahasa Indonesia dan menggunakannya dengan tepat dan kreatif untuk berbagai tujuan
16. Menggunakan bahasa Indonesia untuk meningkatkan kemampuan intelektual, serta kematangan emosional dan sosial
17. Menikmati dan memanfaatkan karya sastra untuk memperluas wawasan, memperhalus budi pekerti, serta meningkatkan pengetahuan dan kemampuan berbahasa
18. Menghargai dan membanggakan sastra Indonesia sebagai khazanah budaya dan intelektual manusia Indonesia.


E. Ruang Lingkup

Ruang lingkup mata pelajaran Bahasa Indonesia mencakup komponen kemampuan berbahasa dan kemampuan bersastra yang meliputi aspek-aspek sebagai berikut.
1. Mendengarkan
2. Berbicara
3. Membaca
4. Menulis.

Pada akhir pendidikan di SMA/MA, peserta didik telah membaca sekurang-kurangnya 15 buku sastra dan nonsastra.











D. Standar Kompetensi dan Kompetensi Dasar

1 Kelas X, Semester 1

Standar Kompetensi Kompetensi Dasar
Mendengarkan
1. Memahami siaran atau cerita yang disampaikan secara langsung /tidak langsung
1.1 Menanggapi siaran atau informasi dari media elektronik (berita dan nonberita)
1.2 Mengidentifikasi unsur sastra (intrinsik dan ekstrinsik) suatu cerita yang disam¬¬paikan secara langsung/melalui rekam¬an
Berbicara
2. Mengungkapkan pikiran, perasaan, dan informasi melalui kegiatan berkenalan, berdiskusi, dan bercerita

2.1 Memperkenalkan diri dan orang lain di da¬lam forum resmi dengan intonasi yang tepat
2.2 Mendiskusikan masalah (yang ditemukan dari berbagai berita, artikel, atau buku)
2.3 Menceritakan berbagai pengalaman dengan pilihan kata dan ekspresi yang tepat
Membaca
3. Memahami berbagai teks bacaan nonsastra dengan berbagai teknik membaca
3.1 Menemukan ide pokok berbagai teks nonsastra dengan teknik membaca cepat (250 kata/menit)
3.2 Mengidentifikasi ide teks nonsastra dari berbagai sumber melalui teknik membaca ekstensif
Menulis
4. Mengungkapkan informasi dalam berbagai bentuk paragraf (naratif, deskriptif, ekspositif)
4.1 Menulis gagasan dengan menggunakan pola urutan waktu dan tempat dalam bentuk paragraf naratif
4.2 Menulis hasil observasi dalam bentuk paragraf deskriptif
4.3 Menulis gagasan secara logis dan sistematis dalam bentuk ragam paragraf ekspositif
Mendengarkan
5. Memahami puisi yang disampaikan secara langsung/tidak langsung
5.1 Mengidentifikasi unsur-unsur bentuk suatu puisi yang disampaikan secara langsung ataupun melalui rekaman
5.2 Mengungkapkan isi suatu puisi yang disampaikan secara langsung ataupun melalui rekaman
Berbicara
6. Membahas cerita pendek melalui kegiatan diskusi

6.1 Mengemukakan hal-hal yang menarik atau mengesankan dari cerita pendek melalui kegiatan diskusi
6.2 Menemukan nilai-nilai cerita pendek melalui kegiatan diskusi

Membaca
7. Memahami wacana sastra melalui kegiatan membaca puisi dan cerpen

7.1 Membacakan puisi dengan lafal, nada, tekanan, dan intonasi yang tepat
7.2 Menganalisis keterkaitan unsur intrinsik suatu cerpen dengan kehidupan sehari-hari
Menulis
8. Mengungkapkan pikiran, dan perasaan melalui kegiatan menulis puisi

8.1 Menulis puisi lama dengan memperhatikan bait, irama, dan rima
8.2 Menulis puisi baru dengan memperhatikan bait, irama, dan rima



2 Kelas X, Semester 2

Standar Kompetensi Kompetensi Dasar
Mendengarkan
9. Memahami informasi melalui tuturan
9.1 Menyimpulkan isi informasi yang disampaikan melalui tuturan langsung
9.2 Menyimpulkan isi informasi yang didengar melalui tuturan tidak langsung (rekaman atau teks yang dibacakan)
Berbicara
10. Mengungkapkan komentar terhadap informasi dari berbagai sumber

10.1 Memberikan kritik terhadap informasi dari media cetak dan atau elektronik
10.2 Memberikan persetujuan/dukungan terhadap artikel yang terdapat dalam media cetak dan atau elektronik

Membaca
11. Memahami ragam wacana tulis dengan membaca memindai
11.1 Merangkum seluruh isi informasi teks buku ke dalam beberapa kalimat dengan membaca memindai
11.2 Merangkum seluruh isi informasi dari suatu tabel dan atau grafik ke dalam beberapa kalimat dengan membaca memindai
Menulis
12. Mengungkapkan informasi melalui penulisan paragraf dan teks pidato
12.1 Menulis gagasan untuk mendukung suatu pendapat dalam bentuk paragraf argumentatif
12.2 Menulis gagasan untuk meyakinkan atau mengajak pembaca bersikap atau melakukan sesuatu dalam bentuk paragraf persuasif
12.3 Menulis hasil wawancara ke dalam beberapa paragraf dengan menggunakan ejaan yang tepat
12.4 Menyusun teks pidato
Mendengarkan
13. Memahami cerita rakyat yang dituturkan




13.1 Menemukan hal-hal yang menarik tentang tokoh cerita rakyat yang disampaikan secara langsung dan atau melalui rekaman
13.2 Menjelaskan hal-hal yang menarik tentang latar cerita rakyat yang disampaikan secara langsung dan atau melalui rekaman
Berbicara
14. Mengungkapkan pendapat terhadap puisi melalui diskusi

14.1 Membahas isi puisi berkenaan dengan gambaran penginderaan, perasaan, pikiran, dan imajinasi melalui diskusi
14.2 Menghubungkan isi puisi dengan realitas alam, sosial budaya, dan masyarakat melalui diskusi
Membaca
15. Memahami sastra Melayu klasik

15.1 Mengidentifikasi karakteristik dan struktur unsur intrinsik sastra Melayu klasik
15.2 Menemukan nilai-nilai yang terkandung di dalam sastra Melayu klasik
Menulis
16. Mengungkapkan pengalaman diri sendiri dan orang lain ke dalam cerpen

16.1 Menulis karangan berdasarkan kehidupan diri sendiri dalam cerpen (pelaku, peristiwa, latar)
16.2 Menulis karangan berdasarkan pengalaman orang lain dalam cerpen (pelaku, peristiwa, latar)







Kelas XI, Semester 1
Standar Kompetensi Kompetensi Dasar
Mendengarkan
1. Memahami berbagai informasi dari sambutan/khotbah dan wawancara
1.1 Menemukan pokok-pokok isi sambutan/ khotbah yang didengar
1.2 Merangkum isi pembicaraan dalam wawancara
Berbicara
2. Mengungkapkan secara lisan informasi hasil membaca dan wawancara
2.1 Menjelaskan secara lisan uraian topik tertentu dari hasil membaca (artikel atau buku)
2.2 Menjelaskan hasil wawancara tentang tanggapan narasumber terhadap topik tertentu
Membaca
3. Memahami ragam wacana tulis dengan membaca intensif dan membaca nyaring

3.1 Menemukan perbedaan paragraf induktif dan deduktif melalui kegiatan membaca intensif
3.2 Membacakan berita dengan intonasi, lafal, dan sikap membaca yang baik
Menulis
4. Mengungkapkan informasi dalam bentuk proposal, surat dagang, karangan ilmiah

4.1 Menulis proposal untuk berbagai keperluan
4.2 Menulis surat dagang dan surat kuasa
4.3 Melengkapi karya tulis dengan daftar pustaka dan catatan kaki
Mendengarkan
5. Memahami pementasan drama
5.1 Mengidentifikasi peristiwa, pelaku dan perwatakannya, dialog, dan konflik pada pementasan drama
5.2 Menganalisis pementasan drama berdasarkan teknik pementasan
Berbicara
6. Memerankan tokoh dalam pementasan drama


6.1 Menyampaikan dialog disertai gerak-gerik dan mimik, sesuai dengan watak tokoh
6.2 Mengekpresikan perilaku dan dialog tokoh protogonis dan atau antagonis
Membaca
7. Memahami berbagai hikayat, novel Indonesia/novel terjemahan

7.1 Menemukan unsur-unsur intrinsik dan ekstrinsik hikayat
7.2 Menganalisis unsur-unsur intrinsik dan ekstrinsik novel Indonesia/terjemahan
Menulis
8. Mengungkapkan infomasi melalui penulisan resensi

8.1 Mengungkapkan prinsip-prinsip penulisan resensi
8.2 Mengaplikasikan prinsip-prinsip penulisan resensi


Kelas XI, Semester 2

Standar Kompetensi Kompetensi Dasar
Mendengarkan
9. Memahami pendapat dan informasi dari berbagai sumber dalam diskusi atau seminar
9.1 Merangkum isi pembicaraan dalam suatu diskusi atau seminar
9.2 Mengomentari pendapat seseorang dalam suatu diskusi atau seminar
Berbicara
10. Menyampaikan laporan hasil penelitian dalam diskusi atau seminar
10.1 Mempresentasikan hasil penelitian secara runtut dengan menggunakan bahasa yang baik dan benar
10.2 Mengomentari tanggapan orang lain terhadap presentasi hasil penelitian
Membaca
11. Memahami ragam wacana tulis dengan membaca cepat dan membaca intensif

11.1 Mengungkapkan pokok-pokok isi teks dengan membaca cepat 300 kata per menit
11.2 Membedakan fakta dan opini pada editorial
dengan membaca intensif
Menulis
12. Mengungkapkan informasi dalam bentuk rangkuman/ringkasan, notulen rapat, dan karya ilmiah

12.1 Menulis rangkuman/ringkasan isi buku
12.2 Menulis notulen rapat sesuai dengan pola penulisannya
12.3 Menulis karya ilmiah seperti hasil pengamatan, dan penelitian
Mendengarkan
13. Memahami pembacaan cerpen
13.1 Mengidentifikasi alur, penokohan, dan latar dalam cerpen yang dibacakan
13.2 Menemukan nilai-nilai dalam cerpen yang dibacakan

Berbicara
14. Mengungkapkan wacana sastra dalam bentuk pementasan drama

14.1 Mengekspresikan dialog para tokoh dalam pementasan drama
14.2 Menggunakan gerak-gerik, mimik, dan intonasi, sesuai dengan watak tokoh dalam pementasan drama
Membaca
15. Memahami buku biografi, novel, dan hikayat
15.1 Mengungkapkan hal-hal yang menarik dan dapat diteladani dari tokoh
15.2 Membandingkan unsur intrinsik dan ekstrinsik novel Indonesia/ terjemahan dengan hikayat
Menulis
16. Menulis naskah drama
16.1 Mendeskripsikan perilaku manusia melalui dialog naskah drama
16.2 Menarasikan pengalaman manusia dalam bentuk adegan dan latar pada naskah drama






Kelas XII, Semester 1

Standar Kompetensi Kompetensi Dasar
Mendengarkan
1. Memahami informasi dari berbagai laporan
1.1 Membedakan antara fakta dan opini dari berbagai laporan lisan
1.2 Mengomentari berbagai laporan lisan dengan memberikan kritik dan saran
Berbicara
2. Mengungkapkan gagasan, tanggapan, dan informasi dalam diskusi

2.1 Menyampaikan gagasan dan tanggapan dengan alasan yang logis dalam diskusi
2.2 Menyampaikan intisari buku nonfiksi dengan menggunakan bahasa yang efektif dalam diskusi

Membaca
3. Memahami artikel dan teks pidato
3.1 Menemukan ide pokok dan permasalahan dalam artikel melalui kegiatan membaca intensif
3.2 Membaca nyaring teks pidato dengan intonasi yang tepat
Menulis
4. Mengungkapkan infomasi dalam bentuk surat dinas, laporan, resensi





4.1 Menulis surat lamaran pekerjaan berdasarkan unsur-unsur dan struktur
4.2 Menulis surat dinas berdasarkan isi, bahasa, dan format yang baku
4.3 Menulis laporan diskusi dengan melampirkan notulen dan daftar hadir
4.4 Menulis resensi buku pengetahuan berdasarkan format baku
Mendengarkan
5. Memahami pembacaan novel
5.1 Menanggapi pembacaan penggalan novel dari segi vokal, intonasi, dan penghayatan
5.2 Menjelaskan unsur-unsur intrinsik dari pembacaan penggalan novel

Berbicara
6. Mengungkapkan pendapat tentang pembacaan puisi
6.1 Menanggapi pembacaan puisi lama tentang lafal, intonasi, dan ekspresi yang tepat
6.2 Mengomentari pembacaan puisi baru tentang lafal, intonasi, dan ekspresi yang tepat
Membaca
7. Memahami wacana sastra puisi dan cerpen
7.1 Membacakan puisi karya sendiri dengan lafal, intonasi, penghayatan dan ekspresi yang sesuai
7.2 Menjelaskan unsur-unsur intrinsik cerpen
Menulis
8. Mengungkapkan pendapat, informasi, dan pengalaman dalam bentuk resensi dan cerpen
8.1 Menulis resensi buku kumpulan cerpen berdasarkan unsur-unsur resensi
8.2 Menulis cerpen berdasarkan kehidupan orang lain (pelaku, peristiwa, latar)


Kelas XII, Semester 2

Standar Kompetensi Kompetensi Dasar
Mendengarkan
9. Memahami informasi dari berbagai sumber yang disampaikan secara lisan

9.1 Mengajukan saran perbaikan tentang informasi yang disampaikan secara langsung
9.2 Mengajukan saran perbaikan tentang informasi yang disampaikan melalui radio/televisi
Berbicara
10. Mengungkapkan informasi melalui presentasi program/proposal dan pidato tanpa teks
10.1 Mempresentasikan program kegiatan/proposal
10.2 Berpidato tanpa teks dengan lafal, intonasi, nada, dan sikap yang tepat
Membaca
11. Memahami ragam wacana tulis melalui kegiatan membaca cepat dan membaca intensif

11.1 Menemukan ide pokok suatu teks dengan membaca cepat 300-350 kata per menit
11.2 Menentukan kalimat kesimpulan (ide pokok) dari berbagai pola paragraf induksi, deduksi dengan membaca intensif
Menulis
12 Mengungkapkan pikiran, pendapat, dan informasi dalam penulisan karangan berpola
12.1 Menulis karangan berdasarkan topik tertentu dengan pola pengembangan deduktif dan induktif
12.2 Menulis esai berdasarkan topik tertentu dengan pola pengembangan pembuka, isi, dan penutup
Mendengarkan
13 Memahami pembacaan teks drama

13.1 Menemukan unsur-unsur intrinsik teks drama yang dididengar melalui pembacaan
13.2 Menyimpulkan isi drama melalui pembacaan teks drama
Berbicara
14 Mengungkapan tanggapan terhadap pembacaan puisi lama
14.1 Membahas ciri-ciri dan nilai-nilai yang terkandung dalam gurindam
14.2 Menjelaskan keterkaitan gurindam dengan kehidupan sehari-hari
Membaca
15 Memahami buku kumpulan puisi kontemporer dan karya sastra yang dianggap penting pada tiap periode
15.1 Mengidentifikasi tema dan ciri-ciri puisi kontemporer melalui kegiatan membaca buku kumpulan puisi komtemporer
15.2 Menemukan perbedaan karakteristik angkatan melalui membaca karya sastra yang dianggap penting pada setiap periode

Menulis
16 Mengungkapkan pendapat dalam bentuk kritik dan esai

16.1 Memahami prinsip-prinsip penulisan kritik dan esai
16.2 Menerapkan prinsip-prinsip penulisan kritik dan esai untuk mengomentari karya sastra


E. Arah Pengembangan

Standar kompetensi dan kompetensi dasar menjadi arah dan landasan untuk mengembangkan materi pokok, kegiatan pembelajaran, dan indikator pencapaian kompetensi untuk penilaian. Dalam merancang kegiatan pembelajaran dan penilaian perlu memperhatikan Standar Proses dan Standar Penilaian.


SMK
37. Mata Pelajaran Bahasa Indonesia untuk Sekolah Menengah Kejuruan (SMK)/ Madrasah Aliyah Kejuruan (MAK)
A. Latar Belakang
Mata pelajaran Bahasa Indonesia merupakan salah satu mata pelajaran wajib. Melalui penguasaan kompetensi mata pelajaran bahasa Indonesia, peserta didik diarahkan, dibimbing, dan dibantu agar mampu berkomunikasi bahasa Indonesia secara baik dan benar. Pada era global penggunaan bahasa secara baik dan benar merupakan syarat mutlak di dunia kerja.
Untuk menghadapi tantangan masa depan, kemampuan berkomunikasi menjadi salah satu syarat keberhasilan bekerja. Karena itu pelajaran Bahasa Indonesia dirancang, dikembangkan serta diarahkan untuk dapat mempersiapkan peserta didik mampu berkomunikasi di dunia kerja secara efisien dan efektif.
Cakupan mata pelajaran Bahasa Indonesia bagi peserta didik meliputi pembentukan kompetensi berkomunikasi secara lisan dan tertulis pada tingkat Semenjana, Madia, dan Unggul.

B. Tujuan
Mata pelajaran Bahasa Indonesia bertujuan agar peserta didik memiliki kemampuan sebagai berikut.
1. Meningkatkan kemampuan peserta didik untuk mencapai tingkat kualifikasi unggul
2. Menerapkan kompetensi berbahasa Indonesia secara baik dan benar pada mata pelajaran lainnya
3. Meningkatkan kemampuan berkomunikasi secara efisien dan efektif, baik lisan maupun tertulis
4. Meningkatkan kemampuan memanfaatkan berbahasa Indonesia untuk bekerja.

C. Ruang Lingkup
Ruang lingkup mata pelajaran Bahasa Indonesia meliputi aspek-aspek sebagai berikut.
1. Berkomunikasi pada tingkat Semenjana
2. Berkomunikasi pada tingkat Madia
3. Berkomunikasi pada tingkat Unggul.

D. Standar Kompetensi dan Kompetensi Dasar
Standar Kompetensi Kompetensi Dasar
1. Berkomunikasi dengan bahasa Indonesia setara tingkat Semenjana 1. 1 Menyimak untuk memahami lafal, tekanan, intonasi, dan jeda yang lazim/baku dan yang tidak
1. 2 Menyimak untuk memahami informasi lisan dalam konteks bermasyarakat
1. 3 Membaca cepat untuk memahami informasi tertulis dalam konteks bermasyarakat
1. 4 Memahami informasi tertulis dalam berbagai bentuk teks
1. 5 Melafalkan kata dengan artikulasi yang tepat
1. 6 Memilih kata, bentuk kata, dan ungkapan yang tepat
1. 7 Menggunakan kalimat yang baik, tepat, dan santun
1. 8 Mengucapkan kalimat dengan jelas, lancar, bernalar, dan wajar
1. 9 Menulis dengan memanfaatkan kategori/kelas kata
1. 10 Membuat berbagai teks tertulis dalam konteks bermasyarakat dengan memilih kata, bentuk kata, dan ungkapan yang tepat
1. 11 Menggunakan kalimat tanya secara tertulis sesuai dengan situasi komunikasi
1. 12 Membuat parafrasa dari teks tertulis
2. Berkomunikasi dengan bahasa Indonesia setara tingkat Madia 2. 1 Menyimak untuk menyimpulkan informasi yang tidak bersifat perintah dalam konteks bekerja
2. 2 Menyimak untuk memahami perintah yang diungkapkan atau yang tidak dalam konteks bekerja
2. 3 Memahami perintah kerja tertulis
2. 4 Membaca untuk memahami makna kata, bentuk kata, ungkapan, dan kalimat dalam konteks bekerja

2. 5 Menggunakan secara lisan kalimat tanya/pernyataan dalam konteks bekerja
2. 6 Membuat parafrasa lisan dalam konteks bekerja
2. 7 Menerapkan pola gilir dalam berkomunikasi
2. 8 Bercakap-cakap secara sopan dengan mitra bicara dalam konteks bekerja
2. 9 Berdiskusi yang bermakna dalam konteks bekerja
2. 10 Bernegosiasi yang menghasilkan dalam konteks bekerja
2. 11 Menyampaikan laporan atau presentasi lisan dalam konteks bekerja
2. 12 Menulis wacana yang bercorak naratif, deskriptif, ekspositoris, dan argumentatif
2. 13 Meringkas teks tertulis dalam konteks bekerja
2. 14 Menyimpulkan isi teks tertulis dalam konteks bekerja
3. Berkomunikasi dengan bahasa Indonesia setara tingkat Unggul 3. 1 Menyimak untuk memahami secara kreatif teks seni berbahasa dan teks ilmiah sederhana
3. 2 Mengapresiasi secara lisan teks seni berbahasa dan teks ilmiah sederhana
3. 3 Menulis proposal untuk kegiatan ilmiah sederhana
3. 4 Menulis surat dengan memperhatikan jenis surat
3. 5 Menulis laporan ilmiah sederhana

E. Arah Pengembangan
Standar kompetensi dan kompetensi dasar menjadi arah dan landasan untuk mengembangkan materi pokok, kegiatan pembelajaran, dan indikator pencapaian kompetensi untuk penilaian. Dalam merancang kegiatan pembelajaran dan penilaian perlu memperhatikan Standar Proses dan Standar Penilaian.



34. Mata Pelajaran Bahasa Indonesia untuk Sekolah Dasar Luar Biasa Tunadaksa (SDLB-D)
A. Latar Belakang

Bahasa memiliki peran sentral dalam perkembangan intelektual, sosial, dan emosional peserta didik dan merupakan penunjang keberhasian dalam mempelajari semua bidang studi. Pembelajaran bahasa diharapkan membantu peserta didik mengenal dirinya, budayanya, dan budaya orang lain, mengemukakan gagasan dan perasaan, berpartisipasi dalam masyarakan yang menggunakan bahasa tersebut dan menemukan serta menggunakan kemampuan analitis dan imaginatif yang ada dalam dirinya.
Pembelajaran bahasa Indonesia diarahkan untuk meningkatkan kemampuan peserta didik untuk berkomunikasi dalam bahasa Indonesia dengan baik dan benar, baik secara lisan maupun tulis, serta menumbuhkan apresiasi terhadap hasil karya kesastraan manusia Indonesia.

Standar kompetensi mata pelajaran Bahasa Indonesia merupakan kualifikasi kemampuan minimal peserta didik yang menggambarkan penguasaan pengetahuan, keterampilan berbahasa, dan sikap positif terhadap bahasa dan sastra Indonesia. Standar kompetensi ini merupakan dasar bagi peserta didik untuk memahami dan merespon situasi lokal, regional, nasional, dan global.

Dengan standar kompetensi mata pelajaran Bahasa Indonesia SDLB-D ini diharapkan:
1. peserta didik dapat mengembangkan potensinya sesuai dengan kemampuan, kebutuhan, dan minatnya, serta dapat menumbuhkan penghargaan terhadap hasil karya dan hasil intelektual bangsa sendiri;
2. guru dapat memusatkan perhatian pada pengembangan kompetensi bahasa peserta didik dengan menyediakan berbagai kegiatan berbahasa dan sumber belajar;
3. guru lebih mandiri dan leluasa dalam menentukan bahan ajar sesuai dengan kondisi lingkungan sekolah dan kemampuan peserta didiknya;
4. orang tua dan masyarakat dapat secara aktif terlibat dalam pelaksanaan program di sekolah;
5. sekolah dapat menyusun program pendidikan sesuai dengan keadaan peserta didik dan sumber belajar yang tersedia;
6. daerah dapat menentukan bahan dan sumber belajar sesuai dengan kondisi dan kekhasan daerah dengan tetap memperhatikan kepentingan nasional.


B. Tujuan

Mata pelajaran Bahasa Indonesia bertujuan agar peserta didik memiliki kemampuan sebagai berikut.
1. Berkomunikasi secara efektif dan efisien sesuai dengan etika yang berlaku, baik secara lisan maupun tulis
2. Menghargai dan bangga menggunakan bahasa Indonesia sebagai bahasa persatuan dan bahasa negara
3. Memahami bahasa Indonesia dan menggunakannya dengan tepat dan kreatif untuk berbagai tujuan
4. Menggunakan bahasa Indonesia untuk meningkatkan kemampuan intelektual, serta kematangan emosional dan sosial
5. Menikmati dan memanfaatkan karya sastra untuk memperluas wawasan, memperhalus budi pekerti serta meningkatkan pengetahuan dan kemampuan berbahasa
6. Menghargai dan membanggakan sastra Indonesia sebagai khazanah budaya dan intelektual manusia Indonesia.


C. Ruang Lingkup

Ruang lingkup mata pelajaran Bahasa Indonesia mencakup komponen kemampuan berbahasa dan kemampuan bersastra yang meliputi aspek-aspek sebagai berikut.

1. Mendengarkan
2. Berbicara
3. Membaca
4. Menulis.

Pada akhir pendidikan di SDLB peserta didik telah membaca sekurang-kurangnya 5 buku sastra dan nonsastra.


















D. Standar Kompetensi dan Kompetensi dasar

Kelas I, Semester 1

Standar Kompetensi Kompetensi Dasar
Mendengarkan
1. Membedakan bunyi, melakukan sesuatu perintah yang dilisankan, dan mendengarkan dongeng
1.1 Mendengarkan dan membedakan berbagai bunyi bahasa dan melafalkannya dengan benar
1.2 Mendengarkan dan melakukan sesuatu sesuai dengan perintah atau petunjuk sederhana
1.3 Mendengarkan dongeng dan menyebutkan tokoh-tokohnya
2. Memahami intonasi pembacaan puisi anak 2.1 Membedakan intonasi tinggi rendah dan keras lemah
2.2 Mendeklamasikan puisi anak dengan lafal dan intonasi yang sesuai
Berbicara
3. Memperkenalkan diri

3.1 Menyebutkan identitas diri (nama, umur, alamat)
3.2 Merangkai identitas diri untuk diinformasikan kepada orang lain dalam kalimat sederhana dan bahasa yang santun.
4. Mengetahui nama dan fungsi anggota tubuh serta benda-benda disekitar
4.1 Menyebutkan nama dan fungsi anggota tubuh
4.2 Menyebutkan benda-benda di sekitar dengan kalimat sederhana
Membaca
5. Membaca nyaring suku kata, kata, dan kalimat sederhana

5.1 Membaca nyaring suku kata dan kata
5.2 Membaca nyaring kalimat sederhana dengan lafal dan intonasi yang tepat
Menulis
6. Menulis permulaan
6.1 Menyalin atau mencontoh huruf, kata, atau kalimat sederhana dari buku
6.2 Menulis-permulaan huruf, kata, dan kalimat sederhana
6.3 Melengkapi kalimat yang belum selesai
6.4 Menyalin puisi anak sederhana

Kelas I, Semester 2

Standar Kompetensi Kompetensi Dasar
Mendengarkan
7. Mendengarkan deskripsi sederhana dan dongeng
7.1 Menyimak deskripsi sederhana tentang benda-benda di sekitar
7.2 Menyebutkan benda yang dideskripsikan
7.3 Menyimak dongeng
7.4 Menjawab pertanyaan sederhana tentang isi dongeng
Berbicara
8. Melakukan dialog sederhana tentang diri sendiri dan rasa suka atau tidak suka, serta dialog tokoh dongeng/cerita rakyat

8.1 Membaca teks percakapan sederhana
8.2 Melakukan percakapan sederhana tentang diri sendiri menggunakan kalimat dan kosakata yang sudah dikuasai
8.3 Menyampaikan rasa suka atau tidak suka tentang suatu hal atau kegiatan dengan alasan sederhana
8.4 Mengucapkan dialog sederhana tokoh dongeng atau cerita rakyat yang disukai dengan ekspresi yang sesuai
Membaca
9. Membaca lancar dan membaca puisi anak

9.1 Membaca lancar beberapa kalimat sederhana yang terdiri atas 3-5 kata
9.2 Menjawab pertanyaan sederhana
9.3 Membaca puisi anak sederhana yang terdiri atas 2-4 baris dengan lafal dan intonasi yang tepat
9.4 Menjawab pertanyaan sederhana

Menulis
10. Menulis puisi dan kalimat sederhana yang didiktekan guru
10.1 Menyalin puisi anak yang disediakan atau yang didiktekan guru
10.2 Menulis kalimat sederhana dengan benar dan rapi
10.2 Menulis kalimat sederhana yang didiktekan guru.


Kelas II, Semester 1

Standar Kompetensi Kompetensi Dasar
Mendengarkan
1. Mendengarkan pembacaan teks pendek dan pembacaan puisi anak
1.1 Mendengarkan pembacaan teks pendek
1.2 Menceritakan kembali isinya dengan menggunakan kata-kata atau kalimat sendiri
1.3 Mendengarkan pembacaan puisi anak
1.4 Menjawab pertanyaan tentang isi puisi

Berbicara
2. Bertanya kepada orang yang belum dikenal

2.1 Menyapa orang yang belum dikenal
2.2 Menanyakan sesuatu kepada orang lain yang belum dikenal dengan menggunakan pilihan kata yang tepat dan santun berbahasa
3. Menampilkan cerita dan puisi 3.1 Menceritakan kegiatan sehari-hari dengan bahasa yang mudah dipahami orang lain
3.2 Menjawab pertanyaan teman
3.3 Menjawab pertanyaan guru
3.4 Mendeklamasikan puisi dengan ekspresi yang tepat
Membaca
4. Memahai bacaan dan puisi anak sederhana

4.1 Membaca lancar teks pendek (10-15 kalimat)
4.2 Menceritakan isi teks
4.3 Membaca puisi anak sederhana
4.4 Menjawab pertanyaan tentang isi puisi
Menulis
5. Menampilkan karya sastra
5.1 Menyalin puisi anak yang disediakan guru
5.2 Melengkapi cerita sederhana dengan kata yang tepat atau kalimat singkat
5.3 Menulis kalimat sederhana yang didiktekan guru dengan penggunaan huruf kapital dan tanda titik


Kelas II, Semester 2

Standar Kompetensi Kompetensi Dasar
Mendengarkan
6. Memahami pesan pendek dan dongeng yang didengar
6.1 Mendengarkan pesan pendek
6.2 Menyampaikan isi pesan kepada orang lain (teman, guru, atau orang tua)
6.3 Mendengarkan dongeng
6.4 Menceritakan isi dongeng dengan kalimat sendiri
7. Memahami isi cerita
7.1 Menyimak cerita anak yang disampaikan orang lain
7.2 Menceritakan kembali isi cerita yang baru didengarnya
Berbicara
8. Mendeskripsikan tumbuhan dan binatang

8.1 Mendeskripsikan tumbuhan atau binatang di sekitar sesuai dengan ciri-cirinya menggunakan kalimat yang mudah dipahami orang lain
8.2 Menceritakan kembali cerita anak yang didengarkan dengan menggunakan kata-kata sendiri
Membaca
9. Membaca dengan nyaring teks (15-20 kalimat) dan dengan dalam hati (20-25 kalimat)

9.1 Mendeskripsikan tumbuhan disekitar sesuai ciri-cirinya dengan kalimat yang mudah dipahami orang lain
9.2 Mendeskripsikan binatang disekitar sesuai ciri-cirinya dengan kalimat yang mudah dipahami orang lain
9.3 Menyebut nama binatang atau tumbuhan sesuai dengan deskripsi yang diberikan

10. Membaca dengan nyaring dan dengan dalam hati 10.1 Membaca nyaring teks (15-20 kalimat) dengan lafal dan intonasi yang tepat
10.2 Membaca dalam hati teks agak panjang (20-25 kalimat)
10.3 Membuat kalimat tanya yang berkaitan dengan teks
Menulis
11. Menulis deskripsi sederhana
11.1 Menulis deskripsi sederhana tentang tumbuhan
11.2 Menulis deskripsi sederhana tentang binatang

12. Menyalin puisi anak 12.1 Menyalin puisi anak yang disediakan guru
12.2 Menuliskan puisi yang dibuat sendiri (bagi anak yang pintar)








Kelas III, Semester 1

Standar Kompetensi Kompetensi Dasar
Mendengarkan
1. Memahami penjelasan tentang petunjuk dan cerita anak

1.1 Mendengarkan dengan santun penjelasan tentang petunjuk, untuk membuat sesuatu
1.2 Melaksanakan kegiatan sesuai dengan petunjuk yang didengar
1.3 Mendengarkan cerita anak dan tanggap terhadap tokoh- tokohnya

Berbicara
2. Menceritakan atau menjelaskan sesuatu
2.1 Menceritakan pengalaman yang mengesankan dengan kalimat yang runtut
2.2 Menanggapi cerita teman
2.3 Menjelaskan urutan berbuat sesuatu dengan kalimat yang runtut dan mudah dipahami
2.4 Mendeskripsikan benda atau seseorang berdasarkan ciri-cirinya dengan bahasa yang mudah dipahami orang lain
2.5 Memberikan tanggapan terhadap cerita teman
2.6 Memberikan tanggapan dan saran sederhana terhadap suatu masalah dengan kalimat yang runtut dan pilihan kata yang tepat



Kelas III, Semester 2

Standar Kompetensi Kompetensi Dasar
Mendengarkan
5. Memahami cerita pengalaman dan bacaan teks drama anak

5.1 Mendengarkan cerita pengalaman teman.
5.2 Memberikan tanggapan terhadap cerita pengalaman teman
5.3 Mendengarkan pembacaan teks drama anak/ dialog
5.4 Memerankan, dan berdialog

Berbicara
6. Melakukan percakapan melalui telepon dan bercerita berbagai peristiwa

6.1 Melakukan percakapan melalui telepon dengan kalimat ringkas
6.2 Menceritakan peristiwa yang pernah dialami, dilihat, atau didengar
6.3 Memberikan tanggapan sederhana terhadap cerita teman

Membaca
7. Menunukkan teknik membaca intensif teks (150-200 kata) dan membaca puisi
7.1 Membaca intensif teks agak panjang (sekitar 150-200 kata)
7.2 Meringkas teks bacaan
7.3 Menjawab/mengajukan pertanyaan
7.4 Membaca puisi dengan lafal, intonasi, dan ekspresi yang tepat

Menulis
8. Menulis karangan dan puisi
8.1 Menulis karangan tentang berbagai topik sederhana dengan penggunaan ejaan (huruf besar, tanda ttitik, tanda koma, dll)
8.2 Menulis puisi berdasarkan pengalaman dengan pilihan kata yang menarik



Kelas IV, Semester 1

Standar Kompetensi Kompetensi Dasar
Mendengarkan
1. Memahami penjelasan tentang petunjuk denah dan simbol daerah/lambang korps/lalu lintas

1.1 Mendengarkan penjelasan tentang petunjuk denah
1.2 Menjawab pertanyaan
1.3 Mendengarkan penjelasan tentanng simbol daerah, lambang korps atau lambang lalulintas
1.4 Menjelaskan kembali secara lisan atau tertulis simbol atau lambang
1.5 Menjawab pertanyaan

Berbicara
2. Mendeskripsikan tempat sesuai denah dan penjelaskan petunjuk
2.1 Mendeskripsikan tempat sesuai dengan denah atau gambar dengan kalimat yang runtut
2.2 Menjelaskan petunjuk penggunaan suatu alat dengan bahasa yang komunikatif
2.3 Menjawab pertanyaan
Membaca
3. Memahami teks bacaan tentang petunjuk pemakaian, kamus/ensiklopedi, denah, dan teks agak panjang (150-200 kata)

3.1 Membaca petunjuk pemakaian sesuatu
3.2 Menjawab pertanyaan
3.3 Membaca memindai kamus/ensiklopedi untuk mencari arti kata atau informasi secara tepat
3.4 Membacakan denah dengan bahasa yang jelas dan mudah dimengerti
3.5 Membaca sekilas teks agak panjang (150-200 kata) dan menemukan pikiran pokok
3.6 Menemukan pikiran pokok

Menulis
4. Mengetahui penulisan petunjuk, bagian cerita yang dihilangkan, dan penulisan surat

4.1 Melengkapi percakapan yang belum selesai dengan memperhatikan ejaan( tanda titik dua, dan tanda petik)
4.2 Menulis petunjuk melakukan sesuatu
4.3 Menjelaskan cara membuat sesuatu
4.4 Melengkapi pada bagian awal, tengah, atau akhir cerita yang hilang (rumpang) dengan menggunakan kata/kalimat yang tepat sehingga menjadi cerita yang padu
4.5 Menulis surat untuk teman sebaya tentang pengalaman atau cita-cita dengan bahasa yang komunikatif

Kelas IV, Semester 2

Standar Kompetensi Kompetensi Dasar
Mendengarkan
5. Mendengarkan pengumuman dan pembacaan pantun
5.1 Mendengarkan pengumuman kemudian menentukan isi dan menyampaikan kembali isinya
5.2 Mendengarkan pembacaan pantun anak dan mengucapkannya kembali
Berbicara
6. Mempraktekkan berbalas pantun, menyampaikan pesan dari telepon, dan membahas masalah aktual di sekitar
6.1 Berbalas pantun dengan lafal dan intonasi yang tepat
6.2 Menyampaikan pesan yang diterima melalui telepon sesuai dengan isi pesan.
6.3 Membahas masalah-masalah aktual yang terjadi di sekitar dengan memberikan alasan yang tepat
Membaca
7. Memahami bacaan
7.1 Membaca intensif dan menemukan kalimat utama pada tiap paragraf
7.2 Membaca nyaring pengumuman dengan lafal dan intonasi yang tepat
7.3 Membaca pantun anak dengan lafal dan intonasi yang tepat
Menulis
8. Menyusun paragraf, menulis pengumuman, dan membuat pantun anak

8.1 Menyusun paragraf berdasarkan bahan yang tersedia dengan memperhatikan penggunaan ejaan
8.2 Menulis pengumuman dengan bahasa yang komunikatif dengan memperhatikan penggunaan ejaan
8.3 Membuat pantun anak yang menarik tentang berbagai tema (persahabatan, ketekunan, kepatuhan, dll)sesuai dengan ciri-ciri pantun












Kelas V, Semester 1

Standar Kompetensi Kompetensi Dasar
Mendengarkan
1. Memahami penjelasan narasumber dan cerita rakyat
1.1 Mendengarkan penjelasan dari narasumber (petani, pedagang, nelayan, karyawan, dll)
1.2 Memberikan tanggapan dengan memperhatikan santun berbahasa
1.3 Mendengarkan cerita rakyat dari berbagai unsur
Berbicara
2. Memahami suatu persoalan dan berwawancara sederhana dengan narasumber

2.1 Menanggapi suatu persoalan atau peristiwa
2.2 Memberikan saran pemecahannya dengan memperhatikaan pilihan kata dan santun berbahasa
2.3 Berwawancara sederhana dengan narasumber (petani, pedagang, nelayan, karyawan, dll) dengan memperhatikan pilihan kata dan santun berbahasa serta melaporkan hasil wawancara
Membaca
3. Menganalisis teks percakapan, membaca cepat dan membaca puisi
3.1 Membaca teks percakapan dengan lafal dan intonasi yang tepat
3.2 Menuliskan isi percakapan dalam beberapa kalimat
3.3 Membaca cepat teks dan menjawab pertanyaan dengan peluang ketepatan 75% benar
3.4 Membaca puisi dengan lafal dan intonasi yang tepat
3.5 Menjelaskan isi puisi

Menulis
4. Memahami teknik penulisan karangan, dan dialog 2-3 tokoh
4.1 Menulis karangan berdasarkan pengalaman dengan memperhatikan sistematika dan penggunaan ejaan
4.2 Menulis surat undangan (ulang tahun, acara agama, kegiatan sekolah, kenaikan kelas, dll) dengan kalimat efektif dan memperhatikan penggunaan ejaan
4.3 Menulis laporan pengamatan atau kunjungan berdasarkan tahapan (catatan, konsep awal, perbaikan, final) dengan memperhatikan penggunaan ejaan
4.4 Menulis dialog antara dua atau tiga tokoh dengan memperhatikan isi dan ejaan serta memerankannya


Kelas V, Semester 2

Standar Kompetensi Kompetensi Dasar
Mendengarkan
5. Memahami cerita tentang peristiwa dan cerita pendek anak

5.1 Mendengarkan cerita tentang peristiwa yang terjadi di sekitar
5.2 Mendengarkan cerita pendek anak-anak
5.3 Menanggapi dari berbagai unsur (tokoh, tema, latar, atau amanat)
Berbicara
6. Memberikan pendapat tentang persoalan faktual dan memerankan drama pendek anak
6.1 Menanggapi tentang persoalan faktual disertai alasan yang mendukung dengan memperhatikan pilihan kata dan santun berbahasa
6.2 Memerankan drama pendek anak dengan lafal, intonasi, dan ekspresi yang tepat
Membaca
7. Memahami bacaan sekilas dua teks, membaca memindai teks khusus, dan membaca cerita anak
7.1 Membaca sekilas dua teks
7.2 Membaca memindai untuk menemukan informasi secara cepat dari berbagai teks khusus (buku petunjuk telepon, jadwal perjalanan, daftar susunan acara, daftar menu, dll)
7.3 Membaca cerita anak
Menulis
8. Menganalisis isi buku, membuat poster, dan menulis puisi bebas
8.1 Meringkas isi buku yang dipilih sendiri dengan memperhatikan penggunaan ejaan
8.2 Membuat poster dengan bahasa yang komunikatif
8.3 Menulis puisi bebas dengan pilihan kata yang tepat

Kelas VI, Semester 1

Standar Kompetensi Kompetensi Dasar
Mendengarkan
1. Memahami pembacaan teks dan cerita anak
1.1 Mendengarkan pembacaan teks
1.2 Menentukan tokoh, watak , latar, tema atau amanat dari bacaan
Berbicara
2. Menyampaikan informasi dari media, mengkritik/memuji, menceritakan hasil pengamatan/kunjungan, dan memerankan tokoh cerita
2.1 Menyampaikan pesan/informasi yang diperoleh dari berbagai media dengan bahasa yang runtut dan komunikatif
2.2 Menanggapi (mengritik/memuji) sesuatu disertai alasan dengan menggunakan bahasa yang santun
2.3 Menceritakan hasil pengamatan/kunjungan dengan bahasa runtut dan komunikatif
2.4 Memerankan tokoh-tokoh berdasarkan cerita yang dibaca atau didengar dengan ekspresi yang sesuai
Membaca
3. Memahami laporan dan membaca sekilas kolom khusus
3.1 Membaca intensif laporan hasil pengamatan/kunjungan
3.2 Membaca sekilas informasi dalam kolom/rubrik khusus (majalah anak, koran, dll)
Menulis
4. Memahami berbagai jenis formulir, membuat ringkasan, meringkas, menyusun percakapan, dan mengubah puisi ke dalam bentuk prosa
4.1 Mengisi formulir (pendaftaran, kartu anggota, wesel pos, kartu pos, daftar riwayat hidup, transfer antarbank ,dll) dengan benar
4.2 Membuat ringkasan dari teks yang dibaca atau didengar
4.3 Menyusun percakapan tentang berbagai topik dengan memperhatikan penggunaan ejaan
4.4 Mengubah puisi ke dalam bentuk prosa dengan tetap memperhatikan maknanya

Kelas VI, Semester 2

Standar Kompetensi Kompetensi Dasar
Mendengarkan
5. Memahami isi berita dan drama pendek
5.1 Mendengarkan pembacaan berita di televisi atau radio
5.2 Mendengarkan drama pendek
5.3 Menceritakan isi drama pendek
Berbicara
6. Memahami cara-cara berpidato, melaporkan isi buku, dan membaca puisi karya sendiri
6.1 Berpidato untuk berbagai keperluan (acara perpisahan, perayaan ulang tahun, dll) dengan lafal, intonasi, dan ekspresi yang tepat
6.2 Melaporkan isi buku yang dibaca (judul, pengarang, jumlah halaman, dan isi) dengan kalimat yang runtut
6.3 Membaca puisi karya sendiri dengan ekspresi yang tepat dan menjelaskan isinya
Membaca
7. Memahami cara-cara membaca intensif dan teks drama
7.1 Membaca intensif teks dan menemukan makna tersirat
7.2 Membaca teks drama anak-anak dan membahas berbagai unsurnya (tokoh, latar, alur, tema dan atau amanat)
Menulis
8. Memahami cara-cara menyusun naskah pidato, drama, dan menulis surat resmi
8.1 Menyusun naskah pidato/sambutan (perpisahan, ulang tahun, perayaan sekolah, dll) dengan bahasa yang komunikatif dan santun serta memperhatikan penggunaan ejaan
8.2 Menulis surat resmi dengan memperhatikan pilihan kata sesuai dengan orang yang dituju
8.3 Menulis naskah drama anak secara berkelompok dan memerankannya





E. Arah pengembangan

Standar kompetensi dan kompetensi dasar menjadi arah dan landasan untuk mengembangkan materi pokok, kegiatan pembelajaran, dan indikator pencapaian kompetensi untuk penilaian. Dalam merancang kegiatan pembelajaran dan penilaian perlu memperhatikan Standar Proses dan Standar Penilaian.